
Bram melipat tangan di dada, dari balkon kamarnya dia melihat Annisa yang sangat dekat sama mommy nya. Laki-laki itu jadi mengingat kalau dulu butuh waktu cukup lama supaya Sakilla bisa dekat sama mommy nya. Tapi Annisa? Bahkan cuman hitungan detik, mommy nya langsung suka dan akrab.
Bram menggeleng.
“Kamu memang punya magnet tersendiri. Ya ampun Annisa. Semua orang bilang kalau kamu beruntung punya saya, padahal nggak kayak gitu. Perasaan ... saya yang beruntung punya wanita seperti kamu. Sudah manis, baik dan bisa memantaskan diri dengan baik.”
“Maaf ... karena saat awal saya masih menjadi laki-laki bejat sampai kamu nggak pernah betah di hidup saya.”
“Ayah!”
Bram menoleh dan melihat wajah memelas anaknya. Bram menatap bingung dan langsung berlutut, menyamakan tingginya dengan tinggi sang anak. Ia mengusap rambut anaknya, “kenapa? Kok kamu kelihatan sedih gitu? Ada yang ganggu kamu kah atau bagaimana?” tanya Bram dengan sedikit panik.
“Aku seneng karena oma dateng ke sini.”
“Okei .. terus?” tanya Bram yang berusaha menempatkan diri sebagai ayah yang baik.
Walau jantungnya berdegup sangat cepat karena ia belum terbiasa berbicara berdua seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang sendiri kalau dirinya harus menjadi ayah yang baik, maka dari itu ia harus menempatkan diri dengan baik.
“Tapi mamah di rebut terus sama oma, aku jadi nggak ada waktu sama mamah. Kan aku juga mau sama mamah. Ah aku nggak suka nih kalau gini,” ucap Rama masih dengan cemberut.
Bram mengerjap lalu tertawa lepas.
“Kamu cemburu karena mamah Annisa jadi sama oma terus?” tanya Bram yang langsung di angguki sama Rama. “Hahaha ... nggak usah cemburu gitu, kamu kan udah sering sama mamah. Dan oma baru ketemu sama mamah kamu. Jadi kasih waktu. Kamu mau kan kalau oma sama mamah kamu itu akur? Jadi biarin aja ya ... kamu main dulu sama ayah.”
“Ah ayah mah nggak seru.”
Bram mencibir.
__ADS_1
“Ya makanya ajarin ayah dong, biar kamu bisa main sama ayah dengan seru.”
Rama beralih ke atas kasur sang ayah dan tengkurep di atas sana. Ia taruh kertas gambar yang sejak tadi dia bawa ke atas kasur. “Ya udah ayah ajarin aku gambar dong. Oh iya ... aku ada tugas gambar dari guru les gambar aku. Dikumpulinnya masih lama sih, tapi ada yang buat aku bingung. Aku boleh kan nanya ke ayah?”
“Ya boleh dong, memangnya kamu mau nanya apa? kenapa harus bilang dulu. Biasanya juga langsung nanya.”
Bukannya menjawab, Rama malah turun dari kasur dan berlari meninggalkan Bram membuat Bram memiringkan wajah. Baru mau duduk dan membuka laptopnya, anaknya itu kembali datang sambil membawa sebuah buku gambar lainnya. Ia kembali naik ke atas kasur dan mennaruh di atas kasur.
“Aku di suruh buat gambar keluarga aku. Tapi aku bingung, aku harus gambar mamah atau bunda? Karena ... kata ayah, aku nggak boleh lupain bunda sama sekali, meski pun nanti udah ada mamah. Makanya ... aku bingung banget harus gambar siapa? Ayah ada saran nggak?”
Bram menunduk.
Ia tersenyum tipis dan meminta Rama untuk duduk di pinggiran kasur. Dengan cepat Rama menurut dan duduk di pinggiran kasur. Sementara itu, Bram menarik kursi dan duduk di depan anaknya.
“Sebelum ayah jawab ... ayah mau nanya sama kamu dulu.”
“Semisal ada orang yang buat kamu kecewa, kamu bakalan marah atau maafin? Misalnya dia punya peran penting di hidup kamu. Tapi karena keegoisannya dia malah milih hal lain dan ninggalin kamu. Kamu bakalan marah atau enggak?”
Rama memiringkan wajahnya, dia sedikit bingung sama maksud ayahnya itu.
“Aku nggak tahu,” jawabnya pelan. “Tapi aku nggak suka di tinggalin, kalau aku di tinggalin, artinya aku bakal kesepian dan aku nggak suka kesepian sama sekali. Makanya, aku bakalan marah. Eh ... tapi kata mamah, aku nggak boleh marah sama orang lain. Makanya aku bakal maafin.”
“Kalau misalnya selama ini bunda kamu belum meninggal kamu bakal bereaksi kayak gimana?” tembak Bram pada akhirnya.
“Ya aku mau ketemu dong!” seru Rama dengan semangat. “Memangnya bunda ke mana? eh tapi ... bunda nggak meninggal dong,” ucap Rama yang bingung sendiri sama ucapannya. “Terus kalau bunda memang nggak meninggal. Kenapa bunda nggak pernah kembali? Kan aku mau ketemu sama bunda.”
“...”
__ADS_1
“Eh tapi ... kalau bunda masih ada di sini, nanti aku nggak bakalan ketemu sama mamah dong. Aku nggak mau. Aku suka sama mamah. Aku nggak mau mamah pergi dari hidup aku. Tapi aku juga sayang sama bunda. Aku nggak pernah ketemu sama bunda—
“TAPI NYATANYA BUNDA KAMU NGGAK PERNAH MENINGGAL!” seru Rama tanpa sadar dengan marah
“Bunda kamu memilih orang lain dan ninggalin kita berdua. Bunda kamu bohong sama kita. Itu artinya bunda kamu nggak sayang sama kita. Jadi lupain bunda kamu. Dia bukan wanita yang baik. Kalau dia memang sayang sama kita, nggak seharusnya bunda kamu itu pergi ninggalin kita! Tapi apa, dia malah pergi sama orang lain dan nelantarin kamu dari bayi. Nggak pernah peduli sama sekali.”
“Ayah ...,” kaget Rama sambil menggeleng kecil.
Selama ini dia mendengar ucapan yang baik tentang bunda nya dan ayahnya sendiri yang selalu menceritakan hal baik tentang bundanya. Tetapi, kenapa sekarang malah kayak gini? Kenapa ayah nya malah mengatakan hal seperti ini? Kenapa ayahnya malah menjelekkan bundanya?
“Kamu nggak usah sedih, nak. Bunda mu itu nggak pantas di tangisi! Dia hanya wanita yang jahat. Dia membuang kamu sama ayah demi kebahagiaannya sendiri. Dia beneran nggak peduli lagi sama kita. Jangan tangisin dia. Ayah bakalan benci sama kamu kalau masih ngeliat kamu nangisin perempuan itu!”
Rama menutup mulutnya.
Berusaha menghilangkan suara isakan tangisnya.
“Ayah ... jangan benci aku.”
“Asal kamu jangan tangisin perempuan itu.”
Entah kenapa, tiba-tiba Bram sangat membenci Sakilla. Dia tidak mau anaknya masih menangisi atau bersedih atas perempuan yang bahkan belum meninggal itu. Dia duduk di atas kasur dan menggenggam tangan anaknya.
“Kamu tahu ... kita udah di buang sama bunda kamu!” seru Bram membuat Rama refleks mengangguk. “Satu yang harus kamu tanamkan di diri kamu,” ucap Bram dengan sangat lekat. “Kalau ternyata selama ini bunda kamu sudah membohongi kita, dia nggak pernah meninggal. Dia masih ada di dunia ini. Dia tidak mau merawat kita makanya pura-pura meninggal dan dia pergi sama orang lain. Tidak ada yang boleh menangisinya sama sekali, apa lagi sampai ingat-ingat dia lagi!”
Rama yang takut hanya mengangguk. Walau ...
Anak itu masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di sini.
__ADS_1