
Dengan cermat Annisa mendengar suara cerita dari mulut suaminya. Dari penjelasan itu ekspresi Annisa benar benar sangat berubah dan dia menatap kecewa pada Bram yang bisa bisanya malah melakukan itu dan membuat Rama jadi seperti ini.
Perempuan itu menatap sendu pada suaminya.
"Mas beneran di luar kendali. Pas sebelum Rama datang ke kamar, asisten mas nelepon mas."
"Apa hubungannya?"
"Asisten mas ngirim foto Sakilla. Dia benar-benar masih hidup dan foto itu menampilkan dia yang sedang memadu kasih sama kakak kamu. Ya ... mereka beneran bersama dan itu sedikit luka saya kembali terluka."
Mata Annisa menatap nanar pada suaminya.
"Saya bingung Annisa. Saya harus apa? Saya sangat kaget. Saya memang sudah percaya sama hal ini. Tapi ngelihat foto itu buat emosi saya lepas. Saya lepas kendali dan malah mengatakan hal di luar nalar ke Rama."
Napas Bram memburu dan dia kembali menatap ke arah istrinya. "Saya beneran lepas kendali Annisa. Saya minta maaf. Saya nggak ada maksud untuk menyakiti Rama dan saya juga nggak berani menatap ke arah Rama karena tahu dia jadi lebih diam itu karena masalah ini."
Annisa memijat keningnya dan menghela napas kasar.
"Kamu ..." Annisa kembali diam. Dia benar-benar bingung harus mengatakan seperti apa. Ini benar benar di luar kendali Annisa, karena dia juga bingung harus melakukan apa di saat masalah seperti ini sedang melanda.
Bram memegang bahu perempuan itu.
"Annisa ... jangan diamkan saya juga seperti ini. Karena saya juga bingung sama yang terjadi di sini. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya beneran nggak tahu harus apa dan bagaimana. Otak saya seperti macet. Karena saya juga nggak tahu kalau apa yang saya lakukan itu benar atau salah."
"Ya sudah pasti salah!" jawab Annisa dengan napas yang memburu.
Annisa berjalan melewati Bram dan memijat keningnya sambil menggeleng kecil.
__ADS_1
"Kamu tuh ya mas, kalau emosi mendingan pergi menjauh dari anak kamu. Kalau kamu memang nggak bisa ngontrol emosi kamu, harusnya kamu pergi. Bukannya malah nyalahin atau berakhir kayak gini ... terus kalau udah gini, kamu harus apa?!"
Annisa sudah nggak peduli lagi kalau Bram bakalan marah karena dirinya yang memarahi laki-laki itu. Dia beneran gak peduli sama sekali.
Yang ada di pikiran Annisa saat ini hanya lah Rama.
Dia sedang memutar otak untuk membuat Rama nggak jadi terpuruk lagi. Tapi semua rencana benar-benar nggak ada yang nyangkut di benaknya. Karena dia beneran nggak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Sungguh dirinya itu sangat bingung sekaligus penasaran bukan main.
"Mas ... aku sampai nggak tahu harus marah gimana lagi sama kamu. Kamu mikir nggak sih, pasti sekarang Rama itu masih syok karena ucapan kamu. Udah tahu kita aja yang gede masih syok karena masalah ini. Eh sekarang kamu itu malah ngomong sama anak kecil yang dunianya masih terlalu polos. Jadi, wajar kalau Rama mendiamkan kita semua. Karena dia juga nggak tahu harus bereaksi seperti apa."
Bram menunduk.
"Terus ... sekarang aku harus apa?" tanya Annisa lagi.
Perempuan itu hanya bisa mendengus lantaran sangat kesal melihat suaminya yang malah diam saja seprti ini. Bukannya membantu dirinya untuk berpikir.
"..."
"Tapi Annisa—
Bram menelan saliva saat melihat tatapan nyalang dari Annisa. Tapi Bram menarik napas dalam sebelum memilih untuk mengutarakan yang ada di benaknya.
"Tapi ... ini memang menyakitkan, tapi ini yang terbaik," seru Bram dengan perlahan. "Karena pada akhirnya Rama juga harus tahu kalau bundanya itu belum meninggal dan bunda yang selalu dia kagumi itu malah pergi sama perempuan lain dan meninggalkan dirinya. Mau sekarang atau nanti itu, Rama memang harus tahu kan? Jadi ... wajar dong kalau saya ngasih tau sekarang?"
"Ada waktunya mas, dan tentunya bukan sekarang."
"..."
__ADS_1
"Bahkan, Rama saja baru tahun depan masuk sekolah. Dia masih terlalu dini untuk mengetahui masalah berat. Tapi di umurnya yang masih belia, kamu udah banyak menekan hidup dia ya. Aku nggak cuman marah karena masalah ini. Karena ada banyak hal yang sebenarnya buat aku kecewa berat sama kamu."
"Maksud kamu?"
"Kamu yang memaksa Rama untuk bisa membaca di umur yang masih belia. Kamu suruh dia mengikuti banyak les di saat kamu nggak tahu peluang Rama ada di mana dan kamu juga nggak peduli gimana kondisi tubuh dia?"
"..."
"Kamu tuh Ayah nya mas, dia bakalan menurut saja karena bagi Rama dirinya akan mendapat perhatian dari kamu. Kalau dia mengikuti semua kemauan kamu. Tapi kamu gak tau dia sebenarnya nggak sanggup untuk ikutin semuanya. Tapi apa? Kamu nggak peduli sama sekali dan malah maksa kayak gini ..."
Bram menarik napas dalam.
"Aku ... beneran bingung, mas. Ya ampun, aku nggak pernah ada niatan untuk menyalahkan kamu kayak gini. Karena di sini aku juga tahu kalau kamu itu lagi ada masalah dan kamu itu sibuk. Tapi ... dengan kamu ngelakuin hal kayak gini. Buat semua kekesalan aku tuh jadi numpuk tau nggam sih!"
"Iya ... maaf Annisa, saya beneran lepas kendali. Jangan marahi saya seperti ini dan buat rasa bersalah saya semakin besar. Saya juga sedang memikirkan apa yang harus kita perbuat untuk ke depannya dan nggak cuman itu aja. Mas juga mau minta maaf sama Rama atas semua omongan mas ke dia."
"Ya udah, kalau gitu kita sama-sama bujuk Rama. Tapi kita harus satu divisi, biar dia percaya sama kita dan nggak cuman itu aja, biar Rama juga percaya sama kita. Jadi sebelum bujuk Rama ... aku mau nanya, kita lanjutin hal ini atau ngomong kalau kamu cuman lagi bohong aja?"
Bram terdiam. Ia memutar otak.
"Sepertinya kita harus jujur, dari pada sekarang Rama itu membaik lagi. Tapi ke depannya dia malahan sakit hati kan? Mendingan jujur saja. Walau ini menyakitkan, tapi kita bisa pakai kata yang indah supaya Rama nggak terlalu sakit hati gitu."
Rama memijat pangkal hidungnya sembari mendengus. Dia sungguh bingung dengan apa yang harus di lakukan.
"Ya sudah kalau itu yang mau kamu lakukan. Aku bakal lakuin lebih lanjut. Sekali lagi, aku ingatkan kamu! Untuk nggak ngomonv macam-macam sama Rama. Dan kalau lagi emosi, menjauh dulu dari anak kamu!"
Bram mengusap pipi Annisa dengan perlahan.
__ADS_1
"Maafin mas ya ..."