Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kepala Desa


__ADS_3

“Tidak ada pemberitahuan sama sekali ke saya.” Kepala desa tersebut mengeles.


Bram menangkup wajahnya. Ia sudah sangat kesal dengan bapak tua berseragam yang ada di depannya ini. urusannya jadi terhambat karena orang itu. Berulang kali Bram menghembuskan napas supaya dirinya lebih tenang.


Setelah lebih mendingan, Bram kembali menegakkan duduknya sembari mengusap punggung Rama yang enggan mengeluarkan sama sekali.


“Bukan tugas bapak sama sekali untuk mengetahui masalah ini. Intinya saya sama Annisa sudah menikah dari lama. Hubungan kami sudah sah di mata Tuhan dan Agama. Jadi saya nggak perlu koar-koar masalah ini ke semua orang kan? Nggak ada gunanya juga. Jadi, bapak nggak usah ikut campur deh sama masalah keluarga saya,” balas Bram dengan sedikit menyindir. “Dan ... sebenarnya saya nggak perlu menjelaskan kayak gini sama bapak. Nggak ada gunanya sama sekali.”


Kepala desa itu berdecak sambil menggeleng. Kakinya diluruskan dan ia sedikit melonggarkan sabuknya. Karena perutnya yang hampir mencuat itu. Ia mengusap kumisnya sambil menatap Bram dari atas sampai bawah.


“Memang benar ya kalau orang kota bakalan lebih sombong. Padahal saya cuman nanya saja. Tapi respon kamu malah seperti ini.”


Ya ampun ... salah lagi. Sepertinya Bram akan berteriak seperti itu kalau nggak melihat waktu yang semakin sore dan ia harus kembali. Karena dari penjelasan ibu Dini, jalanan malam di sini sangat gelap. Karena jarangnya penerangan.


“Maaf sebelumnya. Untuk bapak terhormat yang maunya di hormati kalau kelakuan saya sedikit membuat bapak sedih. Tapi saya nggak ada niat untuk melakukan ini. Jadi, saya minta maaf dan mohon kelapangan hati bapak untuk memaafkan saya.”


Kepala desa itu berdecak. Bram memang meminta maaf tapi malah terdengar seperti meledek dirinya dan ia nggak bisa membalas apa-apa selain berdeham dan berpura-pura santai dengan menyeruput kopi di hadapannya itu.


“Jadi ... ada urusan apa bapak datang ke sini?” tanya kepala desa


Bram terbelalak. Setelah hampir setengah jam di sini ia berusaha menjelaskan kepada orang di depannya itu. Kini dia malah bertanya kembali? Bram menggelengkan kepalanya.


“Saya kesini mau mengurus masalah yang dilakukan sama mertua saya.”


Kepala desa itu mengangguk. “Memangnya bapak punya uang?” tanya kepala desa itu yang malah meremehkan. Sepertinya kepala desa itu tak tahu bahkan jam tangan yang dikenakan sama Bram bisa sampai puluhan juta. “Soalnya mertua anda ini menipu sampai ratusan juta. Jadi wajar dong kalau saya bertanya seperti itu?” seru kepala desa seperti butuh pembelaan

__ADS_1


Bram menyetujui saja.


“Niat saya datang kesini dan bilang mau ngurus masalah ini. Seharusnya bapak bisa langsung simpulin kalau saya memang memiliki uang dan nggak masalah mau bayar sebanyak apa pun. Jadi, bapak bisa tolong jelaskan saja berapa nominalnya. Biar semua uang itu saya siapkan. Saya mau masalah ini selesai dan kalian nggak lagi menganggap istri saya sebagai penipu lagi. Karena sungguh, Annisa nggak tahu sama sekali tentang perbuatan orang tuanya yang udah berlebihan ini.”


Kepala desa itu beranjak menghampiri laci meja kerjanya.


Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru tua lalu menyodorkan ke arah Bram.


Dengan cepat, Bram mengambilnya dan langsung membacanya. Ia sedikit terkejut melihat nominal di sana. Dia memang bisa bayar, tapi ia malah penasaran sama orang tuanya yang udah mengambil banyak uang.


“Terlalu banyak kan pak? Pasti bapak akan sulit membayar semua ini? makanya saya tadi nanya kayak tadi. Kalau bapak memang kesulitan untuk membayar semua ini. Saya bisa memberikan saran untuk bapak dan sepertinya ini akan memudahkan bapak untuk membayar semua hutang di sana.”


“Maksudnya?” Bram menatap penasaran


Bram membacanya dengan saksama, “pinjaman uang?” tanyanya yang sedikit kaget melihat brosur peminjaman uang tersebut. “Ini punya bapak?” tanya Bram lagi yang langsung di angguki sama kepala desa yang ada di depannya tersebut.


“Iya pak ... saya nggak masalah sama sekali kalau bapak mau minjam sampai ratusan juta sesuai nominal yang ada di sana. Asal saya mau ada jaminan, hmm misalnya sertifikit rumah? Terus bapak juga bisa berjanji akan bayar setiap bulannya tanpa harus ditagih. Soalnya saya lihat-lihat penampilan bapak sedikit oke. Jadi cukup meyakinkan. Walau tetap nggak mungkin sih. Soalnya nggak mungkin Annisa menikah sama orang kaya. Tapi balik lagi deh. Saya akan kasih izin bapak untuk meminjam uang untuk saya. Karena nominal tersebut mah dikit bagi saya ...”


“...”


kepala desa tersebut sedikit bergeser mendekati Bram.


“Tapi bunganya sebanyak lima puluh persen.” Bram sangat terkejut mendengar semua itu. “Eh tapi bapak nggak usah kaget,” sela kepala desa tersebut yang melihat wajah Bram sangat terkejut itu. “Ini tuh termasuk normal. Karena ada peminjam lain yang bakalan kasih bunga sebanyak delapan puluh persen. Saya mah nggak se serakah itu dan sejahat yang dikira orang. Saya juga akan tolerin kalau telat beberapa hari doang. Jadi, lebih baik bapak minjam ke saya.”


Bram mendengus. Ia bangkit sambil membawa map tersebut.

__ADS_1


“Ini saya bawa,” serunya


“Lalu bapak jadi meminjam tidak? Saya cukup baik loh sama bapak. Saya melakukan ini tuh itung-itung untuk membantu warga juga. Jadi, jangan salah paham sama semua tawaran saya. Maksud saya melakukan ini tuh sangat baik.”


Bram menggeleng.


“Maaf pak ... tapi saya bisa membayar semuanya. Dan menurut saya peminjaman uang itu sangat kejam. Kasihan deh saya sama orang yang tertipu rayuan sama tuan. Karena itu malah merugikan mereka dan menguntungkan bapak.”


Kepala desa itu terperanjat.


“Uang dari mana kamu sebanyak itu? Nggak mungkin seorang kamu punya uang sebanyak itu. Jangan bilang kamu bakal membayar mereka dengan hasil tipuan yang seperti mertua kamu lakukan?” kepala desa itu mengangguk. “Ya ... saya nggak bakalan mikir jauh-jauh sih. Soalnya sekelompok penjahat akan berada di lingkungan yang sama kan?”


Kepala desa tersebut mengikuti Bram yang sudah beranjak keluar.


Untung kantor kepala desa tampak sepi. Jadi orang berseragam itu tidak peduli omongannya yang sedikit berlebihan akan menyakiti orang lain.


“Bapak nih seharusnya bukan menghina saya. Tapi harusnya mikir karena—,” ucapan kepala desa tersebut berhenti saat melihat mobil yang ada di depannya itu. Ia menelisik, menatap Bram dari atas sampai bawah. Baru sadar kalau orang di depannya ini sepertinya orang kaya dan dia sudah salah mencari lawan.


Bram hanya bisa terkekeh melihat kepala desa tersebut yang terdiam. Setelah Bram menutup pintu satunya karena sudah menaruh Rama. Ia beranjak menghampiri kepala desa tersebut dengan wajah angkuhnya.


“Sekarang bapak nggak bisa merendahkan saya lagi kan? Sekali lagi saya tegaskan, kalau saya mampu membayar semua uang hasil tipuan mertua saya. Bahkan saya mampu meratakan kantor bapak akibat ulah bapak sendiri.”


Bram berdecak.


“Sudah lah ... saya sedikit malas memperpanjang masalah ini. saya cuman meminta ke bapak untuk mengumpulkan semua warga yang merasa ditipu sama mertua saya di rumah besar itu,” pintanya dengan sangat memohon. “Dan saya tekankan sekali lagi, untuk tidak meremehkan orang lain. Karena anda tidak tahu rupa orang itu sebenarnya. Lebih baik menjaga lisan anda. Dibanding karir anda hancur karena lisan anda tersebut.”

__ADS_1


__ADS_2