Istri Dadakan

Istri Dadakan
Lupakan Saat Itu


__ADS_3

“MAMAH!”


Annisa merentangkan tangan dan langsung menangkap tubuh anaknya yang sudah tertawa lebar. Annisa ikut tertawa dan langsung mengusap surai anaknya yang masih tertawa lebar.


“Kenapa keliatan seneng banget.”


Rama melepas pelukan dan melompat riang sambil mengangkat tangan di udara. Melihat itu Annisa hanya menggeleng sambil tertawa bahagia.


“Aku seneng karena akhirnya mamah bisa jemput aku. Ini impian lama aku. Makanya aku seneng banget. Mamah harus tau kalau tadi aku pamer sama semua orang kalau akhirnya aku dijemput sama mamah aku. Aku akhirnya bisa pamer. Aku bisa buktiin ke semua orang kalau aku juga punya mamah kayak mereka.”


Annisa mengulas senyum tipis.


“Sebahagia itu ya kamu, nak?” gumam Annisa dengan sangat pelan. Sedikit miris karena anaknya begitu bahagia karena hal kecil.

__ADS_1


“Oh iya! Mamah harus lihat tempat les aku.”


Annisa akhirnya hanya pasrah saat tangannya di tarik sama Rama. Sesekali langkah Rama terhenti dan menyapa para guru membuat Annisa refleks tersenyum. Annisa juga di perlihatkan berbagai lapangan tempat les yang selama ini Rama temani.


Dan karena ini juga,


Annisa baru tahu kalau anaknya mengikuti banyak les dan itu cukup membuat Annisa sedikit marah sama suaminya karena membiarkan sang anak mengikuti banyak les yang tentunya membuat tubuh anak itu jadi kecapean.


Setelah cukup puas mengelilingi tempat les yang ternyata baru Annisa sadari seluas ini, mereka memilih untuk kembali ke mobil dan menunggu di salah satu tempat jualan minuman. Karena belum waktunya jam makan siang. Jadi, mereka masih bisa menghabiskan waktu di sini selama satu jam.


“Mamah ... mamah tau nggak sih, kalau aku beneran seseneng itu. Makasih ya mah karena udah wujudin banyak hal yang aku mau. Dari ngerasain kasih sayang. Sampai mamah buat aku sama ayah jadi akur. Akhirnya aku juga bisa ngerasain apa itu keluarga yang sebenarnya. Pokonya ... semenjak ada mamah, aku beneran jadi bahagia banget.”


“Nak, kamu nggak perlu makasih sama mamah. Karena ini udah tugas kami. Jadi, nggak perlu gimana-mana lagi. Kamu cukup jadi anak yang baik. Jadi, nggak usah kayak gini lagi ya. Mamah jadi sedih bukan main.”

__ADS_1


Rama tersenyum tipis dan langsung loncat dari tempat duduknya untuk menghampiri sang mamah. Annisa balas memeluk anaknya dengan lembut.


Sedang asyik berpelukan, pelayan datang dan menaruh pesanan mereka. Seperti aturan dari mas Bram, mereka memilih diam dan fokus sama makanan mereka. Dua orang di sana langsung menyantap cemilan untuk mengganjel perut mereka.


Setelah selesai, mereka kembali masuk ke dalam mobil.


“Mah ... ini beneran mau ke kantor ayah? Udah lama banget aku nggak ke kantor ayah. Dulu, pernah dateng ke sini tapi aku langsung pulang gitu. Soalnya ... ayah kan suka diemin aku. Cuman fokus sama kerjaan doang. Aku dicuekin. Kan kesel. Dari situ, aku nggak pernah datang ke sana lagi.”


“Nah ... sekarang kita hapus kenangan buruk itu dan mamah gantiin sama kenangan yang baru. Kamu lupain aja ya!”


Rama menggenggam tangan sang mamah lalu langsung saja dia mengangguk dengan cepat.


Tak lama mereka tiba di perusahaan yang baru pertama kali Annisa injaki. Mulai detik ini, Annisa berdoa supaya semuanya berjalan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2