Istri Dadakan

Istri Dadakan
Keputusan Annisa


__ADS_3

"Excited pada awalnya ..."


Bram menceritakan bagaimana awalnya Rama memang sangat senang mengetahui akan bertemu sama ibu kandungnya itu. Tapi setelah Annisa pergi meninggalkan pergi, semangatnya juga seolah dibawa pergi dan Rama benar-benar nggak peduli sama berbagai hal yang datang.


Sampai Sakilla datang ke rumah ...


Awalnya Rama juga mulai sedikit senang karena bisa bertemu sama ibu kandungnya. Tapi ternyata Sakilla malah bertingkah. Ia mengatakan banyak hal buruk hingga suasana hati Rama kacau.


"Dan ... mas simpulkan, kalau dia beneran gak peduli lagi sama Sakilla. Itu seperti terakhir kalinya dia mau ketemu. Dia beneran ga ada anggap apa-apa sama ibu kandungnya. Karena menurut anak itu, cuma kamu ibu nya yang terbaik. Yaitu kamu."


Annisa tersipu malu.


"Jadi, jangan pernah berpikir kalau Rama bakalan baik sama Sakilla. Karena itu hal yang nggak mungkin sama sekali. Anak itu cuma punya kamu dan selamanya akan begitu. Jadi, nggak usah sedih ya ..."


"Kalau gitu aku mau ketemu sama mbak Sakilla!" seru Annisa membuat mata Bram melotot.


"Loh ... Loh ... Loh ..."


Bram berdiri dan berkacak pinggang. "Buat apa malah mau ketemu sama iblis itu?" tanya Bram memegang kedua bahu Annisa. Ia mengguncangkan pelan tubuh istrinya itu. "Mas kira kalau Rama udah nggak peduli sama Sakilla lagi. Kamu juga nggak bakalan mau berurusan sama Sakilla. Tapi apa ini? kenapa kamu malah mau ketemu sama dia?"


Annisa terkekeh.


"Kamu kayaknya nggak mau banget aku ketemu sama Annisa."

__ADS_1


Perempuan itu udah sadar dari lama dan sampai saat ini suaminya itu masih aja tidak menyukai kalau dirinya masih berurusan Sakilla.


Alasannya apa coba?


"Dari awal kamu bingung ya sama alesan mas larang kamu buat ketemu sama Sakilla?"


Ugh ... Annisa mengangguk perlahan.


"Semakin kesini mas sadar kalau Sakilla itu bahaya, dia manipulatif banget. Dia selalu bisa buat orang percaya sama omongan dia dan mas takut kalau dia malah berulah sama kamu. Kamu yang polos pastinya gampang banget di tipu sama dia dan mas nggak mau kalau kamu sampai di tipu sama Sakilla."


"Di tipu gimana?" bingung Annisa.


"Pokoknya dia malah memutar fakta di depan kamu dan berusaha yakinin kamu. Sampai kamu percaya. Mas takut banget. Kalau nantinya kamu malah percaya sama omong kosong dia dan akhirnya buat kamu benci sama mas atau Rama."


"Enggak kok mas ... tenang aja. Aku mau ketemu sama mbak Sakilla pure mau nanya tentang kak Namira. Dia yang terakhir hidup di sisi kak Namira. Jadi, aku mau tau kabar kak Namira sebelum Allah memanggilnya ke atas."


Wajah kesal Bram langsung berubah seketika dan ia memasang wajah tak enak pada Annisa.


"Aku kalau ingat kak Namira udah pergi tuh kadang suka sedih mas. Kayak gak nyangka aja. Padahal ... banyak hal yang masih mau aku lakuin sama kak Namira. Tapi ternyata takdir nggak mempertemukan kita lagi. Makanya ... walau aku nggak kebagian punya banyak waktu sama kak Namira. Seenggaknya aku bisa denger kabar kak Namira dari mbak Sakilla yang pernah hidup dengannya."


Bram terkesiap dan langsung memeluk istrinya itu.


"Maaf ... maaf mas melupakan fakta yang ini. Ya udah, kalau gitu nanti mas atur waktu supaya kamu bisa ketemu sama Sakilla. Lusa atau nggak minggu besok, kamu pasti bisa langsung ketemu sama Sakilla. Gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Annisa mengangguk.


"Gak apa-apa mas, yang penting aku bisa ketemu sama mbak Sakilla."


***


Dua hari kemudian,


"Hari ini jangan lupa ya, kamu bakal ketemu sama Sakilla. Cuma hari ini terakhir kesempatan nya aja karena mulai ke depannya. Sakilla pure akan ada sama polisi. Gak boleh ada yang menjangkaunya. Karena polisi gak mau kecolongan lagi. Apa lagi ini masalah besar."


"Iya mas," jawab Annisa sambil merapihkan dirinya di depan cermin. "Nanti kamu yang antar kan mas?" tanya Annisa sambil menatap wajah Bram dari cermin di depannya.


"Iya ... tenang aja." Bram melirik pada Annisa. "Tapi mas gak bisa jemput kamu, nggak apa-apa kan? mas nanti suruh supir mas buat jemput kamu."


"Iya ... nggak apa-apa kok, tenang aja. Kamu kerja aja, aku nggak mau ganggu kerja kamu."


"Hmm ... makasih karena udah ngertiin mas ya."


Annisa mengangguk.


Sekarang Annisa tinggal mengurus Rama, membuat sarapan dan lanjut menemui Sakilla. Ia menarik napas di sela aktivitas nya dan mengusap dadanya.


"Ayo! aku pasti bisa ..."

__ADS_1


__ADS_2