
Selanjutnya Bram mendengar dengkuran halus dari Rama. Tapi bukan itu yang jadi fokus utamanya lagi. Ia masih terbayang akan ucapan Rama sebelum anaknya itu tidur.
"Apa yang Rama omongin itu bener ya?"
***
Saat ini jam sudah menunjukkan satu malam. Pasangan suami istri yang sedang berada di beda tempat itu hanya bisa merasakan rindu satu sama lain. Tanpa bisa mencari cara untuk menghilangkan rasa rindunya.
Annisa yang sedang di kereta, dalam perjalanan itu hanya bisa memikirkan anak dan suaminya tanpa tahu harus apa. Karena ponselnya yang sudah tidak dapat sinyal sejak tadi.
Sementara,
Bram yang kembali menghirup sebatang nikotin untuk menetralkan perasaannya dan sejak tadi berusaha untuk menghubungi Annisa. Tapi seperti dugaan. Annisa sama sekali nggak bisa di hubungi sejak tadi.
Bram marah karena Annisa yang hilang tanpa kabar.
Annisa yang masih suka marah kalau teringat perbuatan suaminya yang menyembunyikan masalah Sakilla.
Keduanya tanpa sadar sedang menyalahi satu sama lain tanpa sadar kalau mereka sama-sama salah. Tanpa sadar kalau jawaban paling tepat atas masalah ini adalah saling bertatapan dan bicara berdua. Bukannya malah kabur dari masalah seperti ini.
"Aku kangen sama mas Bram."
"Sayang kangen sama Annisa."
Hanya kalimat tersebut yang keluar dari mulut mereka. Tapi keduanya seakan pengecut. Tidak ada yang berani sekedar mengirimkan pesan untuk mengetik perasaan mereka.
Keduanya keburu takut.
Annisa yang menyalahkan Bram. Ia yang marah dan merasa tersakiti karena merasa ditipu sama sang suami. Setiap hari Annisa terus memikirkan kalau dirinya hanya lah orang yang nggak berguna. Dia terus berpikir kalau saja Bram terbuka sama dirinya.
Bahkan, karena masalah ini ...
Membuat Annisa berpikir yang tidak-tidak. Ia kembali berpikir jauh ke belakang. Dia menyimpulkan kalau Bram masih belum se cinta itu sama dirinya. Ia menganggap kalau Bram bakalan meninggalkan dirinya karena bakalan kembali sama Sakilla.
__ADS_1
Pikiran yang sebenarnya hanya membuatnya sakit.
Sementara, Bram.
Dia terus kepikiran sejak lama kalau dirinya udah buat ulah yang buat Annisa marah. Walau sampai sekarang Bram tak bisa memikirkan apa kesalahannya dan omongan anaknya malah menambah membuat hatinya sangat sakit.
Ia sakit karena nggak dapat kabar Annisa. Ia merasa sesak karena nggak merasakan keberadaan Annisa. Bram cemas karena khawatir tapi yang membuatnya marah adalah Bram nggak bisa bebas untuk mencari tahu kondisi Annisa.
Itu sangat membuatnya sakit.
Mereka tidak tahu. Keduanya sama-sama menyimpan rasa sakit sendiri. Seolah waktu juga begitu kejam karena tidak membuat mereka bersatu. Seolah takdir saat ini juga malah menjauhkan mereka berdua.
Tapi,
Tidak ada yang tahu ke depannya bukan (?)
***
"Semalam kamu ngerokok lagi ya?" tanya mom Chika sambil menuang teh hangat ke gelas. "Nggak usah ngelak lagi. Semalam oma nggak bisa tidur terus pergi ke balkon dan dari balkon kamar oma. Oma bisa lihat kamu lagi ngerokok."
"Kamu nggak sayang sama badan kamu!" omel mom Chika
Dari dulu sekali mommy Chika adalah orang yang paling menentang keluarga merokok. Bahkan Daddy Bima dan Bram tidak ada yang merokok karena omelan mom Chika yang menyeramkan.
Mommy Chika melakukan ini semua karena dulu bapaknya meninggalkan karena penyakit paru-paru dan ini karena bapaknya sudah kecanduan sama merokok dan nggak bisa berhenti sama sekali. Sampai meninggal juga karena kebiasannya dan dari situ mom Chika sangat marah sama orang yang merokok. Dia tidak suka kalau ada orang rokok di dekatnya apalagi keluarganya.
Dulu sekali,
Setelah Sakilla dinyatakan meninggal. Beberapa hari kemudian, Bram melampiaskan kesedihannya dengan merokok. Mom Chika sangat marah karena hal ini. Apa lagi sekarang pas tahu Sakilla memalsukan kematiannya. Dia semakin marah. Karena kesedihan anaknya sampai merokok waktu itu nggak berarti apa-apa.
"Maaf mom, Bram pusing sekali."
Mommy Chika menghela napas dalam. Ia mencuci lengan nya dan menghampiri Bram yang terduduk lesu di sofa. Ia berdiri di hadapan sang anak. Yang walaupun sudah dewasa tapi selamanya akan menjadi anak kecil di mata nya.
__ADS_1
"Kenapa? apa yang mengganggu pikiran kamu lagi? mom udah lama nggak lihat kamu begini. Kamu beneran baik baik aja kan? ada masalah kantor?"
Bram menggeleng.
"Rama berulah lagi? atau dia masih sakit?" tebak mom Chika lagi
Bram menggeleng.
"Terus apa?" tanya Mom Chika dengan lembut. Lalu dia ingat akan sesuatu. "Apa tentang Sakilla? kalau memang iya. Mom beneran marah banget ya sama kamu. Mom kan nggak mau kalau kamu kepincut lagi sama perempuan jahat itu. Pasti kamu lagi nostalgia terus ya setelah ketemu sama dia?" tuduh mom Chika membuat Bram menghela napas pasrah.
"Ih bukan mom," rengeknya itu dengan sangat sedih.
"Terus apa? oh ... karena Annisa? kamu kangen sama Annisa?"
Bram mengangguk pelan.
"Aku kangen banget sama Annisa. Selama ini aku berusaha diem aja dan nggak terus hubungin Annisa karena takut dia risih. Atau aku nggak langsung cari Annisa ke sana karena aku takut dia marah, soalnya Annisa mau nenangin diri di kampung. Aku nahan semuanya mom. Aku beneran gak tahu harus apa. Aku nahan diri aku mom. Mungkin mom atau Rama ngelihat aku nggak peduli. Tapi nyatanya aku se peduli itu tapi aku takut dikira berlebihan."
"Ya ampun nak ..."
"Tapi Rama malah ngomong sesuatu semalam dan dari situ Bram terus kepikiran sampai nggak bisa tidur. Bram pusing banget dan pikiran Bram kayak buntu. Makanya aku ngerokok biar agak lebih tenang. Jadi, maafin aku ya mom. Maaf karena ngerokok."
"Oke ... asal jangan di ulangin ya sayang. Tapi Rama ngomong apa sampai kamunya kepikiran begini."
/Gimana kalau mamah pergi bukan cuma pulang kampung? tapi mamah marah sama kita dan mutusin buat pergi? terus mamah nggak bakalan kembali ke kita?/
Mom Chika hanya bisa terdiam mendengar ucapan Bram dengan lirih itu. Bahkan kini Bram mulai menangis, karena pikirannya yang buntu.
"Bram nggak mau mom. Bram nggak mau kalau Annisa itu pergi. Bram udah nyaman banget. Bram nggak mau kalau nanti Annisa ninggalin Bram. Bram butuh Annisa di hidup Bram. Bram nggak mau kalau nanti Annisa ninggalin Bram sama Rama yang nyatanya udah hidup bergantung sama Annisa."
Tangisan Bram terdengar sangat menyakitkan.
Mom Chika memeluk anaknya. Membiarkan anaknya menangis di perutnya. Ia mengusap rambut anaknya dan sedikit membungkuk untuk memberikan kecupan. Berusaha menenangkan sang anak yang sepertinya sangat terpukul akan masalah ini.
__ADS_1
Mom Chika seperti ... melihat anaknya yang sesedih ini di masa lalu.
"Jemput nak, jemput Annisa di sana. Kejar kembali istri kamu itu dan bawa dia kembali ke sini."