Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kemana Annisa?


__ADS_3

"Jadi kamu suaminya? tapi kenapa sekarang ada di sini? kamu nggak jemput Annisa di rumah tantenya?"


"Hah?"


Ibu Dini yang kebetulan sedang datang ke rumah Annisa untuk membersihkan rumah ini. Dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah. Awalnya ibu Dini mengira Annisa sudah pulang sambil membawa orang tuanya. Tapi ternyata yang keluar malahan sosok pemuda yang begitu tampan dan sedang mengendong seorang anak kecil yang tertidur.


Setelah ditanya akhirnya Ibu Dini tahu kalau orang di depannya ini adalah sosok suami dari Annisa. Orang yang pernah Annisa janjikan untuk bertemu sama ibu Dini. Karena Annisa ingin memberi tahu suaminya tentang orang yang udah menolongnya. Tapi belum bertemu karena Annisa. Kini mereka malah dipertemukan dengan situasi yang membuat keduanya bingung.


"Maksud ibu? dan maaf ... ibu ini siapa ya? kenapa tahu istri saya? terus kenapa bisa ada di rumah mertua saya?" tanya Bram dengan sangat sopan.


"Ah saya ... eh itu anaknya nggak mau ditaruh di kasur dulu?" tanya ibu Dini yang merasa kasihan melihat Rama yang sepertinya nggak nyaman dalam tidurnya.


"Boleh deh ..." Bram setuju.


Ibu Dini beralih membuka pintu rumah orang tua Annisa membuat Bram kembali curiga dan sedikit menarik baju ibu tersebut.


"Bu, maaf ... tapi kenapa ibu pegang kunci rumah ini ya? ibu udah izin belum sama yang punya rumah? jangan main nyelonong gitu aja deh," marah Bram yang sedikit waspada sama orang asing di depannya ini.


"Sepertinya kamu belum tahu tentang istri kamu ya? atau memang nak Annisa belum cerita sesuatu sama kamu?"


Bram langsung terbelalak. "Ibu tahu tentang istri aku? di mana dia? kenapa rumah ini keliatan sangat kosong dan sebenarnya ibu siapa?" tanya Bram lagi.


"Ibu bukan orang jahat. Ibu akan jelaskan semuanya. Tapi taruh anak kamu di dalam dulu. Di kamar Annisa."


Akhirnya Bram menurut. Ia membiarkan Ibu tersebut membuka rumah yang sangat besar ini. Ia mengikuti nya sampai ke sebuah kamar dan ibu Dini mempersilahkan Bram untuk menidurkan Rama terlebih dahulu dan Ibu Dini akan menunggu di depan. Untuk menceritakan semuanya yang terjadi.


"Shhh ..." Bram menepuk bokong Rama yang sedikit menggeliat saat ia menaruhnya di kasur. Bram menunggu anaknya kembali pulas dulu lalu memakaikan selimut yang ia memang bawa.


Dirasa Rama sudah tenang. Bram buru-buru berbalik tapi matanya menatap sebuah note yang selalu Annisa bawa kemana saja itu.

__ADS_1


Dengan langkah pelan. Bram menghampiri meja tersebut dan membuka cover buku tersebut dan ia langsung bawa pas tahu kalau buku tersebut memang punya istrinya.


"Sebenarnya ada apa di sini."


***


Ibu Dini sudah menceritakan semuanya dan sekarang Bram tidak tahu harus berbuat apa selain terkejut mendengar berita ini. Dia marah. Marah sama mertuanya yang sudah berbuat hal memalukan seperti ini. Tapi di sisi lain dia juga kecewa sama sang istri karena nggak jujur dari awal akan masalah ini.


Bram memijat keningnya, terlihat sangat frustasi.


"Kamu jangan marah sama Annisa." Bram melirik ke arah ibu Dini. "Ibu mengira kalau dia hanya malu sama kamu. Soal nya dulu ibu pernah saranin hal ini. Tapi dia keliatan langsung bingung gitu dan dari nada omongannya waktu itu. Ibu merasa dia ngerasa kamu udah banyak bantu dia."


"Maksud ibu?"


"Iya ... nak Annisa cerita kalau dia malu sama kamu. Kamu udah membantu orang tuanya dan kamu juga jangan marah sama dia karena dia udah banyak disudutkan sama warga di sini. Dia pasti sekarang lagi pusing. Hutang orang tuanya sangat besar. Jadi, mungkin pikirannya lagi kacau. Sampai ia nggak sadar kalau belum cerita sama kamu."


Bram menghela napas.


Ibu Dini menggeleng. Wajahnya kembali sedih. "Setelah dia bilang mau ke rumah tantenya. Ibu nggak pernah dapat kabar lagi. Nomornya nggak bisa di hubungi. Semoga dia baik-baik aja."


"Ibu tahu di mana rumah tantenya?"


Ibu Dini menggeleng.


"Ya ampun ..."


"Tapi ibu yakin kalau sebentar lagi istri kamu itu bakalan pulang. Soalnya dia janji sama ibu mau cari orang tuanya di rumah tantenya. Dia bilang kalau nggak ada hasil di sana pasti dia bakalan pulang. Jadi, ibu cuma bisa berdoa supaya Nak Annisa baik-baik aja," harap ibu Dini. "Duh ... mana pas mau pergi ke rumah tantenya istri kamu itu lagi sakit. Ibu jadi makin khawatir deh."


"Annisa sakit?"

__ADS_1


Ibu Dini mengangguk.


Pikiran Bram terbang ke ingatan beberapa waktu yang lalu saat Rama juga sakit. Apa mereka sakit di waktu yang bersamaan?


"Bu ... tapi Annisa bukan sakit yang parah kan?"


"Tidak ... dia hanya demam saja."


"Nak Bram .. ibu nggak bisa lama-lama di sini. Soalnya ibu harus jaga warung. Kalau kamu mau sesuatu. Kamu itu tinggal jalan ke ujung gang saja. Nanti ada warung gubuk di sana. Nah ibu yang jual itu. Kamu kabar-kabar ibu ya. Jangan langsung pergi buat cari istri kamu. Soalnya ibu nggak mau kehilangan sumber informasi tentang Annisa lagi. Ibu sungguh khawatir sama keadaan istri kamu."


Bram mengangguk.


"Makasih banyak ya bu atas penjelasannya dan makasih karena ibu udah bela istri saya waktu itu. Seenggaknya masih ada orang yang ada di sampingnya pas banyak orang yang jahat. Saya juga minta maaf karena tadi pas di awal pertemuan saya malah menuduh ibu yang bukan-bukan."


"Ndak apa-apa nak Bram. Saya paham akan kekhawatiran kamu."


Ibu Dini kembali berpamitan.


"BU! Kalau Annisa hubungin ibu jangan lupa kabarin saya ya," seru Bram sedikit berteriak saat ibu Dini udah mulai jauh dan Ibu Dini hanya mengacungkan jempol sambil mengangguk.


Setelah kepergian Ibu Dini. Bram segera menutup pintu dan duduk di sofa. Rasa lelahnya sama sekali tidak terbayar karena ia nggak bertemu sama apa yang ia cari di sini dan sekarang Bram benar-benar pusing harus mencari ke mana.


"Ya ampun ... ini kenapa masalahnya pelik banget sih dan kenapa bisa orang tua Annisa berpikir untuk menipu warga di sini?"


Ia menggeleng. Bukan masalah jumlah uangnya. Tapi etika mereka yang malah menambah masalah di hidup mereka dan malah membuat Annisa lagi-lagi harus merasakan kesusahan.


"Kalau begini kan Annisa yang kena lagi. Mana kata ibu tadi, Annisa udah di omelin sama orang sini."


Bram menghela napas lagi. Menatap seisi rumah yang terasa hampa dan sangat kosong itu. Ia memutuskan satu hal.

__ADS_1


"Kayaknya sebelum cari Annisa. Aku harus selesaikan urusan di sini dulu. Biar warga di sini juga nggak nuduh Annisa lagi."


__ADS_2