
Sudah sejak satu jam yang lalu Annisa tak berhenti menangis. Annisa terus menangis di pelukan Bram membuat laki-laki itu tidak sanggup dan melepas pelukan eratnya.
"Annisa ... udah yuk nangisnya. Nanti yang ada kamu sesak sendiri karena dari tadi udah nangis. Mas nggak mau kalau kamu sampai sakit lagi. Udah ... nggak ada yang perlu kamu tangisin lagi kok. Semuanya udah selesai. Ibu kamu udah pulang."
Annisa menggeleng, perasaannya masih kacau dan air matanya akan terus turun.
"Mas ..."
"Iya sayang? kenapa?"
"Maaf, baju kamu jadi basah."
"Nggak apa-apa. Ya udah lanjutin aja, tenangin diri kamu. Tapi abis selesai nangisnya, mas nggak mau lihat kamu nangis lagi! udah cukup sekarang aja." Bram mengusap lagi belakang rambut Annisa dengan lembut.
Beberapa menit kemudian, isakan tangis tadi berubah menjadi dengkuran halus membuat Bram terkekeh. Dia mengangkat tubuh ringan Annisa dan membawanya ke lantai dua lalu menaruhnya di atas kasur.
Setelah memastikan kalau istrinya itu udah tertidur, Bram menyelimutinya sampai ke dada dan berlutut menatap wajah Annisa yang sangat sembab.
"Sayang ..." Bram menyisir rambut Annisa yang sebagian basah karena keringat. "Mas nggak tahu apa aja yang udah kamu lewatin selama ini. Tapi, kamu hebat banget karena udah bisa tahan sampai detik ini. Mas wajar banget kalau tadi kamu marah kayak tadi. Pasti kamu udah tahan semua nya selama ini kan?"
Tangannya turun ke arah pipi, Bram berusaha menghapus air mata yang masih terlihat jelas di wajah Annisa.
"Kamu anak baik, nggak sepantasnya kamu mendapatkan kesedihan berturut-turut kayak gini."
Hanya dengkuran halus yang menjawab Bram membuat laki-laki itu terkekeh.
"Ya ampun mata kamu sembab banget," seru Bram yang sadar akan kantung mata Annisa yang sedikit besar dan agak menghitam. "Pasti karena dari kemarin kamu nangis ya? ya ampun ... mas nggak bisa ngebayangin betapa sedih nya kamu cantik ... dari fakta kakak yang meninggal. Terus ketemu sama orang yang udah rebut kakak kamu dan saat ini kamu malah harus berurusan sama ibu kamu yang nggak pernah baik dari kemarin dan terus bertingkah."
Bram termenung.
__ADS_1
Mengasihani kisah hidup Annisa yang sangat tidak mudah itu.
"Tapi ... kamu tenang aja, mad janji akan buat kamu bahagia. Mungkin kamu nggak dapetin semua itu dari kecil. Tapi mas janji, setelah semua masalah ini selesai. Mas akan ajak kamu ke mana pun dan semua itu pasti buat kamu bahagia."
Bram mendekati kening Annisa dan dengan sedikit ragu ia mengecup pelan. Tubuh Annisa sedikit bergerak membuat Bram langsung menjauh. Jantungnya langsung mencelos saat melihat istrinya kembali meringkuk dan memejamkan mata dengan tenang.
"Bahagia terus Annisa ..."
***
Bram memeriksa jam di pergelangan tangannya dan terkekeh saat sadar akan sesuatu.
"Aku memang nyuruh mom sama dad buat agak lama ke swalayan sih. Tapi ini mah lama banget," ucap Bram yang sadar kalau sudah tiga jam mereka pergi dan sampai detik ini belum ada tanda-tanda mau pulang juga. "Untung aja Annisa udah tidur. Agak tenangan lah aku."
Bram kembali fokus sama laptopnya. Tapi beberapa detik kemudian suara perutnya kembali terdengar. Ia mengusap perutnya yang sudah lapar sejak tadi.
"Apa aku masak aja ya? sekalian bantu Annisa? selama ini kan, aku nggak pernah bantu dia."
Sebelum memasak, Bram mencari resep yang menurutnya mudah untuk dimasak. Setelah sekian lama akhirnya dia memutuskan untuk memasak ayam saus tiram yang sepertinya simple untuk di masak.
Ia mengeluarkan lima belas bahan sesuai yang tertulis pada resep menu di HP. setelah mengeluarkan, tak lupa ia mencuci bahan yang perlu di cuci dan berusaha membersihkan ayam sesuai feeling nya saja.
Bram kembali membuka cara memasak dan membaca satu per satu urutannya dengan baik.
/Cara membuat:
1. Beri ayam dengan jeruk nipis dan sedikit garam. Diamkan 15 menit.
2. Setelah 15 menit goreng ayam, sebentar saja tidak sampai garing. Sisihkan.
__ADS_1
3. Panaskan minyak goreng secukupnya, tumis bawang putih dan jahe sampai kuning. Masukkan ayam yang sudah digoreng.
4. Tambahkan saus tiram, saus sambal, kecap manis, garam, penyedap secukupnya, air panas.
5. Masak dengan api kecil sampai air menyusut dan meresap.
6. Sesaat sebelum diangkat, masukkan bawang bombay, daun bawang dan cairan maizena. Aduk, biarkan mendidih kurang lebih 3 menit.
7. Angkat dan sajikan./
Bram berusaha mengikuti resep step by step. Walaupun sesekali ia dibuat kesusahan karena ini pertama kalinya ia masuk dapur untuk memasak makanan seperti ini.
Dulu,
Dia hanya berani masuk ke dapur untuk membuat susu Rama atau makanan Rama yang memang dia olah sendiri. Karena saat itu Bram tidak mempercayai orang lain, takut terjadi sesuatu pada anaknya juga.
"Aku pasti bisa!" tekad Bram
***
Setelah satu jam berjuang di dapur, akhirnya Bram bisa keluar dari dapur yang udah sangat berantakan itu dengan senyuman yang sangat lebar. Dia menaruh sepiring ayam saus tiram dengan sangat bangga ke atas meja.
"Aroma wangi apa ini?" suara Annisa membuat Bram menoleh dan ia langsung tersenyum lebar.
"Lihat Annisa ... mas nyoba masak sendiri dan ini lah hasil nya."
"Woah," kagum Annisa sambil menatap ayam itu dengan berbinar. "Hebat banget kamu mas. Bisa ngelakuin semua nya. Memang keren banget kamu, nggak ada yang bisa bandingin sama sekali."
"Siapa dulu?" bangga Bram sambil menepuk dadanya. "Suami kamu ..."
__ADS_1
Annisa terkekeh dan langsung beranjak ke dapur. Langkah perempuan itu langsung berhenti dan menatap datar lalu berbalik menatap suaminya.
"Iya sih kamu bisa masak," ucapnya. "Tapi nggak sampai berantakin dapur kayak gini dong!" kesal Annisa sembari meringis melihat dapur yang benar-benar berantakan.