Istri Dadakan

Istri Dadakan
Pertengkaran?


__ADS_3

"Diminum bu, pak."


Ibu Annisa melengos sambil menerima sirup dari anak bungsunya itu. Untuk sesaat suasana terasa hening, karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Terkecuali Annisa, yang sejak tadi berusaha memutar otak untuk mengatakan hal yang nggak menyakiti hati ibunya itu.


"Bu, maaf banget sebelumnya. Aku mau jujur kalau selama ini kan aku nggak pernah minta sesuatu sama ibu. Nah, sekarang ada satu hal yang mau aku pinta ke ibu. Aku harap ibu mau wujudin. Karena aku bakalan seneng banget kalau ibu sampai maj wujudin impian aku."


Ibu Marni menaruh kasar gelas ke atas meja dan mandang sinis anaknya.


"Nih ... tanpa ibu dengerin penjelasan kamu aja. Ibu sudah tau apa yang kamu omongin."


“Aku—


“Pasti kamu mau bela kakak kamu itu kan?” sela ibu Marni sambil berdecih. “ANNISA! Kamu nggak ingat bagaimana kakak kamu mempermalukan kita waktu itu? Kamu nggak ingat kalau dia sudah membuang kita? Kamu nggak ingat dia sudah menghina kita? Bahkan dia yang udah buat kamu ada di posisi yang sulit. Kalau aja kamu nggak ketemu sama suami kamu ini, pasti sekarang kamu udah jadi istri siri rentenir yang keempat.”


Annisa menoleh pada Bram. Suaminya itu hanya menunduk tanpa mengatakan apa-apa lagi.


“Bu ... bukannya yang buat aku ada di posisi sulit itu ibu sama bapak sendiri ya?” ucap Annisa berusaha memberanikan diri.


Kedua orang tuanya menatap tajam pada dirinya.


“Memang seperti itu kan?” gumam Annisa lalu menghela napas. “Dulu ... pas rentenir itu datang, aku sudah nawarin diri buat kita gadein rumah. Kita cari kerja bersama buat nutup hutang itu. Tapi apa? ibu sama bapak nggak ada yang mau sama sekali. Kalian malah nyuruh aku yang bayar semua. Aku yang selama ini kerja serabutan dan hasil kerja aku selalu di kasih ke ibu sama bapak, bisa apa? bahkan aku pas itu nggak punya tabungan sama sekali. Aku cuman mengandalkan diri aku sendiri dan bismillah atas takdir Allah.”


“...”


“Rasanya aku sangat sakit hati pas dulu ibu sama bapak malah nyuruh aku nikah sama rentenir itu. Bahkan ... orangnya aja belum ada nawarin itu sama sekali. Memang kakak kok, yang buat keluarga kita ada di posisi kayak gini. Tapi kan ... yang nyuruh aku buat nikah sama laki-laki yang jauh lebih tua di atas aku dan punya istri banyak ya ibu sama bapak ...”


“Woah ... benar-benar berani.”

__ADS_1


Ibu Marni bertepuk tangan. Menggeleng tak percaya.


Anaknya yang selama ini selalu nurut dan diam aja, kini malah berani berbicara seperti itu. Ia mendengus.


“Kamu berubah, benar-benar berubah. Jangan bilang, kalau semua kekayaan kamu di sini buat kamu sombong dan jadinya berani sama kami? terus ... memangnya kamu mau kalau kita milih buat gade rumah. Nanti kita malah hidup luntu lanta di jalanan? Ibu juga mikirin kamu! Ibu nggak mau kalau kamu hidup bebas di luaran sana. Rumah kita juga dapet berapa sih? Uang setengah nya aja nggak ada sama sekali. Kamu malah mau sok gadein rumah.”


Annisa mendengus.


“Ibu sama bapak juga udah mikirin yang terbaik lah. Kalau rumah di jual, bagaimana anggapan orang? yang ada mereka semakin meremehkan kamu. Jadi salah satunya jalan ya kamu nikah sama rentenir itu kan? Toh ... renternir itu dikenal sebagai orang yang bosenan. Palingan kamu di nikahin paling lama sekitar satu tahun. Baru deh kamu di cerai. Gampang—


“Tapi itu sama sekali nggak etis,” potong Bram


Laki-laki itu sudah mendengar semuanya. Dia beneran nggak tahan sama perlakuan mertua nya yang begitu merendahkan istrinya itu.


“Mungkin saya tergolong baru di sini, mungkin juga saya nggak tahu apa-apa di sini. Tapi dari penjelasan kalian, dari cerita Annisa. Saya bisa ambil kesimpulan kalau ibu sama bapak ini ternyata nggak memberikan kasih sayang berlimpah sama anaknya ya? maksudnya ... walau mungkin itu menurut ibu sama bapak yang terbaik. Tapi, itu sama saja kalian menjual anak kalian loh ... saya bisa pidanakan kalau hal ini terulang lagi.”


“Banyak ...”


“Pasti anak itu sudah membuat nama ibu sama bapak jadi buruk,” kekehnya. “Kamu nggak seharusnya mendengar dari satu pihak. Kamu aja yang nggak tahu bagaimana kelakuan Annisa selama ini. Dia memang benci sama kami, karena kami selalu memancing kakaknya itu. Padahal tindakan kami benar. Kamu juga tau kan? Siapa yang mau bela perempuan kayak gitu. Idih ... yang ada bikin malu aja.”


“Bu ... Pak ... sebenarnya ada yang mau saya bicarakan. Ini tentang anak sulung kalian dan mantan istri saya.”


“Mas?” seru Annisa menyentuh tangan suaminya. Ia langsung menggeleng saat Bram menatap ke arah dirinya itu.


“Nggak apa-apa Annisa, kita juga nggak mungkin selamanya diam aja kan? Ibu sama bapak kamu harus tau masalah ini.”


“Ada apa sih ini?” tanya bapak Wahyu yang penasaran. “Apa yang kalian sembunyikan dan kenapa Annisa ngelarang kalau ibu sama bapak tau hal itu? Omongan apa yang udah kalian sembunyikan.”

__ADS_1


Bram menarik napas lebih dulu sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini.


Bagaimana sulung dari keluarga mereka yang memiliki kaitan hubungan sama mantan istri nya. Bagaimana sang mantan istri yang ternyata selama ini udah membohongi dirinya. Bagaimana mereka semua yang selama ini udah tertipu sama masalah ini. Bram juga menjelaskan saat mereka tahu keberadaan mantan istrinya dari makam milik Namira itu.


“Semuanya benar-benar terhubung, mungkin ini sedikit aneh. Masa ada hal yang nyambung kayak gini. Semua ini mungkin udah takdir yang terhubung. Takdir yang membawa saya sama Annisa bertemu. Tapi, terlepas dari itu semua ... saya hanya mau menceritakan itu, supaya kalian nggak terkejut kalau ke depannya bakal ada masalah yang di lakukan sama mantan istri saya itu.”


“Kamu nggak akan menceraikan Annisa kan?” seru ibu Marni dengan cepat. “Kamu nggak boleh cerai sama anak saya! Terserah kalau kamu mau kembali sama mantan istri kamu itu. Tapi kamu nggak boleh tinggalkan anak saya. Bagaimana nanti hidup kami kalau nggak ada kamu. Kamu juga udah janji kan untuk memberikan hidup terbaik untuk anak kami? jadi, nggak boleh ada alasan kamu ceraiin Annisa,” seru ibu Marni yang terlihat sangat ketakutan itu.


Annisa benar-benar spechless akan hal ini.


Ia menggeleng dan tertawa lirih.


Diantara semua pertanyaan atau perkataan yang bisa dicari. Tapi kenapa sang ibu memilih kalimay itu? Hatinya mencelos. Ia tertawa lirih, masih nggak nyangka sama semua hal yang terjadi belakangan ini. Terlihat sangat lucu.


“Bu ... bahkan ibu harusnya khawatir sama aku. Atau ibu bisa nanya tentang hubungan antara kakak sama mbak Sakilla. Masih banyak pertanyaan yang bisa ibu tanyakan,” ucap Annisa. “Tapi kenapa ibu malah mikir nanya kayak gitu? Apa ibu beneran anggap aku sebagai investasi di hidup ibu ya? apa ibu beneran anggap mas Bram sebagai sumber keuangan ibu? Ya ampun bu ...”


“...”


“Aku beneran nggak habis pikir banget sama ibu. Di antara banyaknya pertanyaan, kenapa ibu bisa mikir sejauh itu. Lagian urusan mas Bram mau melakukan apa kek untuk ke depannya.”


“Alah ... memangnya kamu siap hidup miskin lagi?” tambah sang ibu. “Ibu sih nggak mau ya. Ibu nggak mau hidup di rumah yang bocor lagi. Ibu nggak mau kalau makan tempe tahu setiap harinya. Ibu nggak mau harus ngutang lagi ke tetangga. Ibu nggak mau! Jadi kamu harus pertahanin pernikahan kamu itu. Kalau enggak ibu nggak akan anggap kamu sebagai anak lagi.”


Annisa merasakan sebuah elusan di punggungnya. Sayang, emosi perempuan itu sudah di ubun-ubun. Ia berdiri dan menggebrak meja di depannya.


“Apa perkataan itu selalu gampang keluar dari mulut ibu?!” pekik Annisa. “Dulu kakak di gituin dan sekarang aku? Ibu mau hidup sama siapa kalau nggak ada aku? Bukan maksud aku ngomong jahat gini. Tapi yang selama ini udah biayain kehidupan ibu sama bapak kan aku. Jadi, ibu bakalan kayak gimana kalau misalnya usir aku juga?”


Perempuan yang melahirkannya itu diam.

__ADS_1


“ANNISA MUAK, BU!”


__ADS_2