
Di sisi lain,
Annisa sedang di pusingkan dengan desakan warga yang terus memintanya untuk membayar uang mereka. Uang yang bahkan Annisa tidak tahu seberapa nominalnya. Pada akhirnya saat ini warga sedang menjumlahkan semua uang yang diberikan ke orang tuanya.
Dan,
Dengan berbagai permohonan, Annisa hanya menyanggupi membayar uang yang diberi para warga tanpa menambah bunga yang dimaksud.
Annisa juga meminta tolong untuk membobol rumah milik orang tuanya. Karena itu salah satu alternatif tempat Annisa untuk tidur. Walaupun ibu Dini sudah mempersilahkan Annisa untuk istirahat di rumahnya. Tapi rasa nggak enak membuat Annisa memilih tinggal di rumah ini.
Dengan langkah terpogoh, Annisa mendoronv kopernya dan masuk ke rumah dua lantai yang sangat besar.
Annisa tak berhenti menatap ke sana kemari.
"Semua kenangan masa lalu beneran hilang," sedihnya. "Padahal aku kangen suasana kamar aku yang sepi dan usang. Bukannya yang kayak begini," akunya pelan.
Annisa mulai menelusuri seisi rumah. Di rumah yang sangat besar ini ada lima kamar kosong dan satu kamar utama yang kekunci dari luar. Entah, Annisa hanya menanggap itu kamar milik orang tuanya. Terdapat juga dua kamar mandi, satu di atas dan sisanya di bawah. Hanya ada satu dapur dan selebihnya dibiarkan ruangan kosong.
Masih terlihat kosong karena tidak ada banyak furniture. Meskipun begitu aura kemewahan tetap terlihat di tempat ini. Annisa sampai menggeleng berulang kali, menyadari orang tuanya tinggal di rumah yang sangat mewah dan harusnya bersyukur. Bukannya malah menipu banyak orang.
__ADS_1
"Ya ampun ... aku beneran nggak paham lagi. Apa yang ada di pikiran ibu sama bapak sampai kepikiran buat menipu orang lain."
Sedang asyik menelusuri, Annisa teringat belum charger ponselnya dari kemarin. Buru-buru Annisa mencari stop kontak dan memcharger ponselnya.
"Kayaknya aku ngehubungin mas Bram nya nanti aja deh," ucap Annisa. "Aku mau ngurus masalah ini dulu. Baru nanti hubungin mas Bram."
Perempuan itu menunduk.
"Aku takut keceplosan kalau nelepon mas Bram," ucapnya lagi. "Iya ... aku janji untuk ngurus ini dulu. Baru hubungin mas Bram," tekadnya bulat.
***
Sayang sekali, sudah dua keluarga yang di hubungi. Mereka tidak ada yang tahu kabar orang tuanya. Annisa sempat pasrah dan bingung harus mencari kemana lagi. Karena tidak ada jalan sama sekali.
"Ya Allah ... kalau memang ibu sama bapak kabur dan aku nggak bisa nemuin mereka. Aku harus apa?" Annisa duduk menyandar di sofa. Ia memijat keningnya. "Masa iya, aku lagi yang harus relain semuanya sih? masa iya ... dari dulu harus aku terus yang nyelesaiin masalah yang ibu sama bapak buat."
Pandangan Annisa mulai mengabur. Meski begitu, Annisa kembali melihat riwayat kontak yang ada di ponselnya dan masih ada satu keluarga yang lumayan dekat. Annisa berharap tantenya yang satu ini mengetahui kabar orang tuanya.
"Bismillah ..."
__ADS_1
Terdengar nada sambung dan saat itu juga Annisa semakin kencang berdoa supaya harapannya terwujud.
"Hallo tante!" seru Annisa begitu panggilan diangkat. "Assalamu'alaikum tante. Maaf kalau Annisa tiba-tiba nelepon tante. Tapi tante lagi waktu luang kan? tante bisa jawab telepon Annisa? atau tante lagi sibuk? Kalau tante memang lagi sibuk nggak apa-apa kok. Tante jawabnya nanti."
/Eh nduk Annisa ... ada apa? tante sedang santai kok nduk. Habis panen pisang. Kamu apa kabar? tumben sekali kamu nelepon tante. Semuanya baik-baik saja kan?/
"Alhamdulillah, baik-baik aja kok tante. Tante sendiri gimana kabarnya? Pakde gimana?"
/Alhamdulillah ... kami semua baik-baik saja. Main dong kesini. Tante belum pernah melihat kamu sama keluarga kamu. Tante cuma denger kabar kalau kamu udah menikah. Tapi kami nggak pernah melihat. Tante juga kangen sama kamu./
Annisa tersenyum tipis.
"Annisa juga kangennnnn banget sama tante," jawab Annisa penuh penekanan. "Nanti deh Annisa main ke tante. Tapi Annisa cari waktu kosong dari suami Annisa dulu ya tante. Sama anak sambung Annisa."
Annisa tertegun. Tiba-tiba teringat keluarganya di kota. Banyak pertanyaan yang hinggap di benaknya. Tapi Annisa menggeleng, berusaha fokus sama pembicaraan mereka.
/Oh iya nduk ... ada apa kamu menelepon tante?/
"Maaf tante, Annisa nelepon tante karena pengin nanya sesuatu. Tante tahu ke mana ibu sama bapak aku nggak? ibu sama bapak pernah datang ke rumah tante? atau pernah ngabarin sesuatu sama tante nggak?" tanya Annisa penuh harap.
__ADS_1
/Ah tentang orang tua kamu! Bulan lalu mereka sempat datang ke sini." Annisa memekik, spontan berdiri. "Tapi ada yang tante bingung dari sikap orang tua kamu. Mereka gak berbuat macam-macam lagi kan?" lanjut sang tante membuat Annisa terdiam dan menghembuskan napas kasar.