Istri Dadakan

Istri Dadakan
Sadar (?)


__ADS_3

Rama terjatuh ke bawah, wajah semangatnya berubah seketika. Ia berusaha mencari kebohongan di wajah ayahnya. Tapi Bram hanya menunjukkan wajah serius dan tak ada sedikit pun candaan sama sekali.


“Mak— maksud ayah.”


Bram mengulum bibir bawahnya.


“Pokoknya mamah kamu lagi ada di rumah saudaranya dan ada satu masalah kecil di sini yang buat kita belum bisa ketemu sama mamah Annisa.”


Rama meronta di pelukan Bram dan menggeleng kuat-kuat.


“AYAH Bohong ...,” pekiknya lalu menangis kencang. “Aku mau ketemu sama mamah! Aku mau sama mamah. Aku nggak mau sama ayah. Ayah pembohong,” histerisnya menyalahkan Bram


“Nak ... maafin ayah. Ayah nggak bermaksud bohong sama kamu. Ayah nggak menipu kamu. Ini beneran rumah nenek sama kakek kamu. Kemarin mamah kamu ada di sini. Tapi karena satu dan lain hal, buat mamah kamu harus pergi ke rumah tantenya.”


“Beneran?” wajah Rama tersimbul di balik tangannya


Bram mengangguk. Ia menenangkan Rama walau jiwanya juga terguncang karena masalah ini. “Kamu tenang aja ... untuk kali ini ayah nggak bakaln ingkar janji lagi. Kita bakalan ketemu sama mamah Annisa,” tekad Bram bulat.


Rama melonggarkan pelukan pada Bram dan duduk kembali di pinggir kasur. Ia termenung, wajahnya masih sangat memerah.


“Ayah,” panggil Rama dengan suara sendunya


“Hmm? Iya? Kenapa anak ayah?”


“Jangan bilang mamah marah ya sama Rama?” tanya anak itu pelan. “Mamah pasti marah karena aku diam-diam ketemu sama bunda ya? dari kemarin Rama mikir. Kenapa waktu itu mamah tiba-tiba keliatan sedih. Mamah kayak keliatan kecewa sama aku atau ayah. Sampai ternyata mamah mutusin buat pergi,” cerita Rama


“Terus?”


“Iya ... ayah inget nggak sih. Pas sebelum mamah benar-benar pergi. Mamah tuh selalu nyindir kita? Mamah yang paling nggak suka di bohongin. Mamah yang bilang kalau lebih suka sama orang yang jujur walaupun buat mamah kecewa ketimbang sama orang yang bohong?” tanya Rama berusaha mengingatkan ayahnya pada kala itu.


Bram termenung. Ingatnya kembali ke masa lalu dan mau tidak mau ia menyetujui omongan sang anak. Bram mengangguk perlahan.

__ADS_1


“Terus akhir-akhir ini aku mikirin. Kenapa semuanya kayak nyambung? Awalnya sih aku nggak mau terlalu mikirin, karena ngerasa ini kebetulan doang. Atau benar kata ayah waktu itu kalau mamah memang lagi mau liburan sama keluarganya dan nggak mau diganggu sama sekali.”


“Oke?” perasaan Bram semakin tidak enak mendengar penjelasan Rama yang terdengar sangat masuk akal itu.


“Aku mulai lupain pemikiran aku karena ayah yang tiba-tiba ngajak aku kesini. Aku mikirnya ya nanti pasti ketemu sama mamah ini. Jadi, aku nggak mau mikir yang macem-macem lagi. Aku mulai mikir semua kegiatan yang mau aku lakuin sama mamah pas ada di sini. Tapi ... tadi ayah tiba-tiba bilang kalau mamah nggak ada di sini ... buyar yah.”


Rama menutup wajahnya yang mau menangis.


“Aku keingat pikiran aku waktu itu dan aku ngerasa memang itu jawabannya. Alasan kenapa mamah tiba-tiba pergi, mamah yang nggak bisa di hubungin lagi sampai mamah yang nggak ad adi sini.”


Rama meringis, menahan sesak di dada. “Apa mamah tahu masalah ini dan akhirnya marah sama aku dan ayah?”


Tangisan Rama yang terdengar lagi membuat Bram buru-buru menggendong anaknya itu. Ia berusaha untuk menenangkan Rama yang berusaha menyangkal semua pemikiran buruknya itu. Rama mengusap wajahnya dan menatap Bram dengan wajah penuh linangan air mata.


“Aku nggak mau kehilangan mamah. Mamah nggak bakalan pergi dari hidup aku kan?”


“Nak ...”


“Ayah ... aku nggak mau kehilangan sosok mamah lagi di hidup aku.”


“Saya suaminya Annisa dan ini anak saya. Kedatangan kami di sini untuk mengurus masalah yang dilakukan oleh mertua saya,” ungkap Bram kepada kepala desa yang sengaja ia datangi itu untuk mengurus masalah ini dengan cepat. Bram lebih ingin bertemu sama Annisa dan mencari istrinya itu.


Ia ingin membuktikan kalau omongan Rama itu nggak benar. ia hanya berharap kalau Annisa belum mengetahui ini.


Walau ... hati kecilnya mulai menyetujui omongan Rama.


Wajah Rama mengintip di balik tubuh sang ayah. Anak itu sedikit takut melihat tatapan banyak orang yang seperti menghakiminya itu.


“Jadi kedatangan kamu mau mengurus semuanya dan di mana istri kamu? Apa dia mengikuti jejak orang tuanya yaitu kabur dari masalah lagi? Ya saya nggak bisa ngomong apa-apa sih. Namanya juga buah nggak akan pernah jatuh dari pohonnya. Jadi, pasti sekarang nak Annisa juga pergi tanpa mau menyelesaikan masalah orang tuanya. Sampai kamu harus turun tangan.”


“Jaga mulut anda,” sentak Bram

__ADS_1


Kepala desa itu mengangkat wajahnya dan menatap seringai.


“Kenapa kamu marah? Padahal saya mengatakan yang sebenarnya,” tanya kepala desa tersebut dengan sangat santai. “Memang begitu yang terjadi di sini. Mereka membuat ricuh seluruh warga di sini. Dasar orang tidak bertanggung jawab itu.”


“Maaf sebelumnya pak ...”


Bram menarik napas dan menatap tajam kepada kepala desa tersebut.


“Pertama, hubungan Annisa sama kedua orang tuanya itu kurang baik jadi mereka nggak pernah tuh saling berhubungan satu sama lain. Mereka kayak orang asing yang nggak tahu apa-apa. Kedua, istri saya pulang untuk bertemu orang tuanya. Tapi sepertinya di sini malah ada kejadian buruk yang nggak pernah dia bayangkan sama sekali. Jadi, jangan salahkan Annisa sama sekali. Jangan menuduhnya dengan omong kosong yang bapak lontarkan itu!”


Merasa nama mamahnya dipanggil, Rama seketika terusik.


Ia sedikit mengintip lagi. Berusaha memahami apa yang terjadi. Tapi otaknya nggak sampai mencari tahu apa yang di bahas sama ayahnya di sini. Ia memilih kembali memeluk ayahnya itu dengan sangat erat. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bram. Sembari sedikit menyamankan posisinya yang ada di pangkuan Bram.


“Ah maaf ... jadi, kamu ini suaminya?” tanya kepala desa itu berusaha mencairkan suasana lagi. Tahu kalau orang di depannya ini tidak mudah di injak-injak.


“Hmm ...”


“Apa buktinya? Dan kenapa kami nggak ada yang tahu kabar Annisa menikah?” kepala desa tersebut melirik ke arah anak kecil yang ada di pangkuan Bram. “Kalau anak kalian udah sebesar ini. Harusnya kalian sudah menikah dari lama. Tapi, kenapa nggak ada yang memberi tahu saya sama sekali? Apa kalian kebobolan? Terus sampai detik ini kalian belum meresmikan pernikahan kalian?”


Bram mendesis.


Ia tak ada waktu untuk bergosip seperti ini.


Bram menatap kepala desa tersebut dari atas sampai bawah lalu memiringkan kepala. Kenap orang yang tidak sopan tersebut bisa terpilih menjadi kepala desa? Aneh sekali.


“Memangnya ini urusan bapak?” sindir Bram dengan sangat kesal


“Ya kan saya cuman nanya saja,” jawab kepala desa tersebut dengan sedikit sewot. “Kenapa bapak malah marah-marah terus sama saya? Wajar kalau saya nanya begini. Karena saya kepala desa di sini. Jadi, saya harus tahu hal kecil kayak gini. Jadi wajar kali kalau saya nanya?”


Argh ... Bram rasanya ingin marah.

__ADS_1


Tapi ia takut kalau orang di depannya malah mempersulit dirinya untuk mengurus masalah yang di lakukan orang tua dari Annisa.


“Saya sudah menikah resmi dengan Annisa. Lalu ini anak yang saya bawa. Jadi, nggak usah membuat gosip buruk tentang Annisa!” tegas Bram dengan wajahnya yang sudah menyeramkan


__ADS_2