Istri Dadakan

Istri Dadakan
Lelah


__ADS_3

"Nenek sama kakek nggak makan?"


Rama menyuap lauk dan menggumam setuju sama rasa nya yang selalu menjadi favorit anak itu. Informasi aja, berat badan Rama naik drastis setelah anak itu memiliki Annisa. Karena sebelumnya Rama jarang sekali makan. Ia tidak terlalu menyukai masakan para pelayan di sini.


Tapi setelah dipertemukan dengan Annisa, nafsu makan anak itu benar-benar meningkat. Bahkan Bram saja mengakui. Karena merasakan berat Rama yang bertambah, kalau dulu dia nggak akan pernah ngeluh saat menggendong Rama selama apa pun. Tapi, sekarang? Ia selalu ngeluh walau cuman gendong anaknya bentaran doang. Benar-benar melelahkan soalnya.


“Mereka mau istirahat dulu, nanti kalau udah bangun. Mereka juga bakal makan kok. Kamu nggak usah mikir apa-apa. Makan aja.”


Rama mengangguk dan kembali makan dengan nikmat.


“Kamu sendiri nggak makan?” tanya Bram sambil menuang nasi ke piring, menaruh lauk dan menggesernya ke depan Annisa. “Dari pagi mas terus ada di samping kamu dan mas belum lihat tuh kamu nyentuh nasi. Cuman nyemil doang dan mas yakin cemilan itu nggak bakalan buat kamu kenyang. Kamu lebih butuh asupan yang berat buat badan kamu.”


“Aku nggak nafsu, mas ...”


Bram menghela napas kasar.


“Rama makannya udah selesai kan?” tanya Bram saat anaknya sudah menumpuk piring kosong


Rama mengangguk. “Udah yah ... kenapa?”


“Langsung taruh aja di tempat cuci piring ya, terus kamu langsung ke atas. Istirahat. Ada yang mau ayah omongin sama mamah kamu dulu. Nggak apa-apa kan?” tanya Bram berharap anak nya nggak rewel.


Masalahnya, semenjak ada Annisa. Rama yang mandiri jadi tergantung melakukan apa-apa sama Annisa. Karena Annisa memberikan segalanya yang Rama inginkan selama ini. Jadi, ada saatnya Rama hanya mau di layani dan nggak mau melakukan semuanya sendiri.


“Ya udah ... tapi ayah jangan jahatin mamah ya. Aku nggak mau kalau mamah nangis lagi!” seru Rama sambil menatap tajam Bram


Bram menggeleng.


“Anak itu bener-bener deh,” gumam Bram sambil terus melihat Rama yang menyeret tas ransel ke lantai dua. “Dia beneran sayang banget sama kamu,” lanjut Bram sambil menatap ke arah Annisa. “Semuanya hanya untuk kamu, apapun yang menyangkut tentang kamu. Dia pasti was was dan mau ngasih yang terbaik.”


“Maaf ya mas,” ujar Annisa yang nggak enak, merasa sudah merebut perhatian Rama dari suaminya itu.


“Loh kenapa minta maaf? Mas malahan seneng kalau Rama protektif kayak gini, yang artinya dia beneran bisa menjaga kamu dengan baik. Jadi mas nggak perlu khawatir kalau nanti ada kerjaan di luar kota atau luar negeri, karena Rama pasti bisa jaga kamu.”


“Tetep aja ... aku pasti ngerebut perhatian Rama selama ini kan?”


Bram menggeleng. “Mana ada kayak gitu ...”


“...”


“Bukannya kamu sendiri yang tau kalau mas sama Rama nggak sedeket itu pas dulu?” tanya Bram membuat Annisa ingat cerita para pelayan di sini.


“...”


“Mas memang ayah kandungnya, mas orang tuanya yang udah menemani Rama dari bayi. Tapi mas sangat yakin, kalau kamu jauh lebih tahu tentang Rama di banding mas. Dan Rama juga lebih deket sama kamu. Kaitan hati kalian benar-benar seperti anak dan ibu kandungnya. Itu semua nggak buat mas marah atau cemburu. Mas malahan seneng melihat Rama yang kayak gini. Artinya ... dia bisa deket salah satu dari kita.”


Annisa mengangguk.


Perempuan itu menarik napas dalam


Tangannya terlipat di atas meja makan, setelah meminggirkan piring yang tadi di bawa sama Bram. Ia menaruh kepalanya di antara lipatan tangannya itu. Kembali melamun, memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.


“Kenapa Annisa?”


Bram bertanya dengan sangat lembut, tangan laki-laki itu terjulur mengusap rambut istrinya. Kasihan sekali Annisa. Baru merasakan kehilangan seorang kakak, kini dia harus di hadapi dengan orang tua yang bahkan selalu menuntut ini itu dan selalu mengatakan hal yang membuat siapa aja jadi super sakit hati.


“Mas ... aku tadi terlalu kasar nggak sih sama mereka?”


“Pas bagian mananya?” tanya Bram dengan bingung. “Mas nggak merasa kalau kamu jahat kok sama mereka. Mereka pantes dapetin itu semua. Memang sudah seharusnya kamu tegas sama mereka. Karena kalau diem aja, yang ada ibu sama bapak kamu itu semakin berlebihan dan buat kamu sakit hati.”


“Aku capek, mas ...”


“...”

__ADS_1


“Mereka benar-benar menuntut aku dari dulu. Apa kurangnya aku selama ini? aku udah berusaha menjadi yang terbaik. Walaupun sering di tekan sama mereka, aku udah berusaha untuk nggak bales apa-apa. Pas dulu ... aku cuman bisa diem di kamar, malem-malem aku nangis untuk ngeluarin beban. Walaupun semua itu menyakitkan, aku nggak pernah mau marah sama mereka.”


“Iya ...”


“Karen mereka orang tua aku. Mereka yang udah menghadirkan aku di dunia ini. Mereka juga yang udah rawat aku. Walaupun dari kecil aku selalu di beda-bedain sama kak Namira, dilanjut aku yang disuruh cari uang sementara kak Namira bisa bebas lakuin yang dia mau. Aku nggak pernah mau marah. Tapi kenapa sekarang mereka dengan mudahnya memutus hubungan sama dua anaknya? Apa mereka nggak pernah sayang gitu sama aku? Apa mereka nggak akan terluka kalau aku pergi.”


Bram terus mengelus rambut istrinya, terus meposisikan diri sebagai pendengar yang baik.


“Bahkan sekarang posisinya kakak meninggal, okei ... aku tau kalau sebelum kepergian kak Namira dari rumah, kak Namira udah ngecewain kita semua. Tapi balik lagi. Yang namanya anak, nggak ada kata bekas bagi orang tuanya. Walaupun udah pergi lama dan jauh, pasti orang tua seharusnya masih khawatir. Walaupun udah kecewa besar. Bukan berarti karena udah di usir anak sulungnya, ibu sama bapak nggak bisa lepas tangan gitu aja dong.”


“Susah nggak sih Annisa?” ucap Bram


Annisa melirik pada suaminya.


“Bahkan aku yang baru ketemu aja sadar kalau mereka cuman mikirin uang dan uang. Mungkin di pikiran ibu sama bapak kamu juga cuman ada aset di tubuh sang anak. Mereka menganggap anak itu sebagai sumber keuangan mereka. Jadi setelah kakak kamu itu lepas tangan, mereka juga angkat tangan. Karena merasa kakak kamu ini nggak menghasilkan apa-apa di hidup mereka.”


Annisa mengangguk lirih.


Rasanya udah sulit menangis, terlampau capek batinnya. Apa lagi untuk sekedar menangis karena hal yang sama.


“Mas ...”


“Iya? Kenapa Annisa? Keluarkan saja, jangan pendam sendiri. Mas nggak mau kalau kamu nanti kepikiran sendiri dan capek sendiri.”


Annisa kembali duduk dengan posisi tegak.


“Bukan ... aku takut deh, gimana nanti orang tua aku yang malah mengacau pas keluarga kamu datang? Aku takut kalau mereka bakalan ngelakuin macem-macem. Bahkan di depan kamu aja, mereka berani. Apalagi di depan orang lain ... aku takut, kalau nanti orang tua kamu juga ikutan emosi karena hal ini.”


Bram terdiam.


“Mas nggak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi mas akan berusaha untuk nggak membuat kacau suasana di rumah ini dan mas juga akan memberi tahu dulu orang tua mas, sifat orang tua kamu. Kamu nggak masalah kan?”


Annisa menggeleng dengan cepat.


“Enggak ... aku nggak masalah sama sekali. Aku malahan berterima kasih kalau kamu udah jujur kayak gini. Lebih baik orang tua kamu tahu lebih dulu gimana yang sebenarnya ada. Dari pada harus menaikkan ekspetasi dan ekspetasi itu bakalan hancur sama realita karena sifat orang tua aku yang kayak gini.”


Istrinya itu sudah di titik lelah. Dia nggak akan segan menyembunyikan kesalahan keluarganya, dia akan jujur sejujurnya. Walau terdengar menyakitkan, tetapi inilah yang membuat dia muak.


“Ya sudah ... sekarang kamu makan. Mas nggak mau kalau kamu nggak makan karena masalah ini. Sudah cukup kamu membebani pikiran sama batin kamu. Jangan rusak juga anggota tubuh kamu.”


Annisa mengangguk dan berterima kasih pada suaminya yang sudah mengambilkan nasi untuknya itu.


***


“Kamu beneran nggak masalah kalau bawa Rama?” tanya Annisa yang khawatir pada suami nya itu. “Rama juga beneran nggak apa-apa kalau cuman pergi sama ayah? Jangan nyusahin ayah ya dan jangan lari-larian, kamu harus tetep ada di samping ayah! Karena bandara pasti sangat ramai. Jadi, jangan macem-macem dan buat mamah jadi khawatir sama kamu!”


Rama mengangguk.


Melihat dua laki-lakinya yang malah santau membuat Annisa jadi khawatir bukan main. Masalah nya ini pertama kalinya dia membiarkan Rama sama Bram berdua keluar. Biasanya selalu ada dirinya yang ikut dan nggak cuman itu, Bram juga jujur kalau ini pertama kalinya dia bawa Rama bersama dirinya. Di saat selama ini, Bram selalu memberikan Rama pada pengasuhnya setiap berpergian.


“Mamah nggak usah khawatir, Rama udah gede jadi mamah nggak perlu mikir macem-macem. Aku juga bakalan ada di samping ayah terus kok! Jadi bunda nggak usah mikirin aku sampai segitunya ya.”


Annisa beralih menatap ke arah Bram dan suaminya itu ikut mengangguk.


“Benar kata Rama, kamu nggak perlu khawatiran berlebihan sama kami. Aku sama Rama cuman pergi ke bandara buat jemput orang tua aku. Setelah ketemu sama mereka, kita langsung pulang kok. Lagian kamu juga nggak mau ikut sama kami kan?”


“Bukannya nggak mau, mas ... tapi kan aku harus masak. Aku nggak mau setelah orang tua aku sama orang tua kamu datang jauh-jauh, mereka malah makan yang beli doang. Nggak etis ah, nggak seru. Jadi, mendingan aku masak aja buat mereka.”


“Nah .. itu pilihan kamu kan? Jadi, kamu nggak perlu khawatir.”


Pada akhirnya Annisa mengangguk.


“Ya sudah ... hati-hati ya kalian berdua.”

__ADS_1


Rama menyalimi Annisa dan melambaikan tangan, masuk ke mobil lebih dulu.


“Dari pada kamu yang khawatir sama mas, mas lebih khawatir sama kamu. Ini beneran mas nggak apa-apa ninggalin kamu? Masalahnya ada orang tua kamu di sini, mas takut kalau mereka bakalan semakin berani kalau nggak ada mas. Mas beneran takut, kamu beneran nggak mau ikut aja sama mas?” ajak Bram. “Orang tua mas nggak masalah kok, kalau kita makan di restoran. Jadi, kamu juga nggak perlu capek banget.”


Annisa menggeleng dan menatap memelas, seakan meminta maaf pada suaminya.


“Ini pertemuan pertama aku sama ayah kamu, jadi aku juga mau kasih yang terbaik buat mereka. Bukan cuman itu sih, karena bahan di dapur udah sebaian aku potong dan ungkep. Sayang kalau nggak di masak.”


“Ya sudah kalau begitu ... mas nggak bis apa-apa karena ini juga kamu sendiri yang mau.”


Annisa mengangguk dan mengucapkan maaf pada suaminya itu.


“Nggak usah minta maaf kayak gitu. Mas juga udah suruh beberapa pelayan untuk ada di samping kamu. Jadi, semoga aja orang tua kamu nggak berani deket-deket sama kamu atau ngomong hal yang nyakitin ke kamu.”


“Makasih loh, mas ... kamu udah mikirin sejauh itu.”


“Nggak usah berterima kasih sama, mas. Karena ini memang udah seharusnya mas lakuin ke kamu. Dan ... oh iya, kalau ada apa-apa langsung hubungin mas. HP selalu ada di samping kamu. Jangan jauh dari HP. Karena mas juga akan terus aktif untuk kamu.”


Lagi dan lagi Annisa mengangguk.


“Ya sudah, mas pamit ya.”


“Hati-hati, mas.” Annisa menyalimi lengan suaminya dan menunggu di dekat pagar, terus melambaikan tangan sampai mobil suaminya menghilang di balik gang. Baru Annisa tersenyum sambil menatap jalanan kosong itu.


“Aku benar-benar bersyukur banget karena dapetin mas Bram. Sosok suami yang pastinya di inginkan banyak orang. Bahkan aku cuman orang baru yang nggak sengaja masuk ke hidup mas Bram, tapi mas Bram bisa memperlakukan aku dengan sangat baik. Ya ampun aku beneran beruntung banget karena bisa di pertemukan sama mereka.”


Setelah puas berdiri di depan, baru Annisa masuk ke dalam.


“Semoga nggak ada sesuatu yang terjadi, aku beneran nggak boleh terpengaruh sama apa-apa! ya ... lagian ibu sama bapak juga lagi istirahat kan. Aku cukup masak dengan cepat, sebelum mereka bangun.”


Tanpa mikir panjang Annisa masuk ke dalam dapur. Perempuan itu langsung disambut dengan dua orang pelayan di dapur.


“Ih kalian udah mulai masak?” seru Annisa yang kaget. “Ya ampun ... maaf banget ya, aku malah lama di depan sana.”


“Mbak Annisa nggak perlu minta maaf, sudah tugas kami juga membantu nona kan?”


Annisa tertawa kecil dan mengangguk. Ia ikut nimbrung memasak untuk makan mereka semua nanti. Mereka bertiga serius masak, sampai suara pintu terbuka membuat Annisa menghentikan kegiatannya dan menoleh.


“Annisa,” panggil ibunya membuat Annisa menelan saliva sambil mengangguk canggung.


“Kenapa Bu?”


“Ibu mau nyobain jus alpukat deh, kamu ada nggak? ibu pernah lihat di HP, kayaknya enak deh. Soalnya ibu belum pernah nyoba sama sekali.”


“Jus alpukat ya ...”


Annisa mencari stok buah di laci atas. “Jus yang lain aja ya bu, kebetulan alpukatnya lagi habis nih,” tambah Annisa memohon


“Yah ... kamu nggak mau wujudin keinginan ibu? Padahal ibu jauh-jauh ke sini, tapi kamu malah nolak permintaan ibu,” gumam ibu Marni dengan sedih. “Padahal itu ada pelayan di sini. Kenapa kamu nggak nyuruh dia aja buat keluar?”


“Iya mbak Sakilla ... saya keluar saja, lagi pula supermarket tidak jauh dari sini kan?”


“Ya sudah, tolong banget ya teh. Maaf merepotkan.”


Setelah kepergian pelayan itu, ibu Marni menatap pelayan lainnya dengan saksama.


“Eh ... kamu tolong cariin iga bakar dong. Saya lapar nih dan kayaknya makan iga enak.”


“Tapi, saya sedang membantu mbak Annisa,” tolak pelayan itu dengan sopan.


“Jadi ... kamu akan membiarkan saya kelaparan!” marah ibu Marni. “Padahal Annisa sudah biasa masak sendiri. Kamu biarkan saja dia, cepat pergi cari makan untuk saya! Saya beneran sangat lapar.”


Pada akhirnya pelayan itu berpamitan untuk pergi, menyisakan Annisa dan Ibu Marni di sana.

__ADS_1


“Nah ... mumpung mereka sudah pergi. Ada yang mau ibu omongin sama kamu!”


DEGH!


__ADS_2