Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bersama Sakilla (1)


__ADS_3

“Pokoknya buat mas Bram, kamu tuh kurangi jail sama anak sendiri. Udah tau kalau Rama suka kepancing sama ledekan kamu. Tapi masih aja di ledek terus anaknya. Kan kalau udah kepancing jadi ribet. Nanti yang ada kamu berantem lagi. Apa gak malu kalau sering berantem sama anak sendiri?”


Annisa terus menasihati Bram selama laki-laki itu menghabiskan sarapannya.


"Rama juga ...ayah kamu tuh jailnya kebangetan dan apa apa cuma bercanda sama kamu. Jadi, kamu gak usah lah khawatir gitu. Jangan langsung ngambek. Kalau ayah nya udah mulai jail, kamu langsung pergi aja. Hirauin .."


Annisa menasihatinya dan berakhir mengangguk pelan.


"Gimana?" tanya Annisa membuat dua laki-laki itu refleks menatapnya dan mengangguk patuh.


"Iya mah ..." Rama berseru.


Bram sama Rama kembali memeluk Annisa. Ahh ... siapa yang nggak lemah melihat suami dan anak sendiri yang seperti ini? sudah lah, Annisa jadi tak tega memarahinya.


Ia balas mengusap lengan mereka dan mengangguk.


"Ya udah ... asal jangan di ulangin lagi ya ..."


Bram dan Rama mengangguk serentak. "Iya mah, maaf ya."


"Ya udah, mending sekarang kita langsung berangkat aja. Udah siang, takut Rama telat." Annisa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi, tinggal satu jam lagi sebelum Rama masuk sekolah. "Yuk kita berangkat."


***


"Selamat belajar sayang..."


Annisa terus melambaikan tangan sampai anaknya tak terlihat lagi di jarak pandangnya. Ia tersenyum tipis saat Rama merangkul temannya dan berlarian masuk ke dalam sekolah.


"Kayaknya Rama punya banyak teman ya mas," seru Annisa dengan bahagia.


"Pasti dong." Bram berseru sombong. "Keturunan Bram udah pasti friendly sama semua orang. Jadi jangan merasa aneh kalau Rama punya banyak teman. Anak mas gitu loh."


Annisa memutar matanya jengah. "Ya ... ya ... ya ... serah kamu aja deh," papar Annisa sudah kesal kalau Bram mulai menyombongkan dirinya. Toh, dia juga nggak bisa nyangkal sama sekali. Memang faktanya seperti itu.


"Ya udah ... sekarang kita langsung cuss buat nemuin Sakilla. Kamu siap kan? kalau masih belum siap, masih ada waktu. Biar mas anterin kamu pulang."

__ADS_1


Annisa menggeleng. "Insya Allah aku sanggup mas ..."


Bram membawa mobil menuju kantor polisi pusat yang tak jauh dari kantornya. Ia memarkirkan mobil tanpa turun sama sekali. Karena sehabis ini dia juga langsung pergi ke kantor, meninggalkan Annisa.


Bram mengendurkan seatbelt yang menahan tubuhnya dan memosisikan duduk nya menghadap ke arah Annisa.


"Kamu beneran gak apa-apa sendirian? ini tinggal setengah jam lagi mas rapat. Jadi, mas bahkan gak bisa antar kamu ke dalam. Tapi kemarin malam mas udah hubungin polisi di sini biar jaga kamu. Jadi, mas agak lebih tenang. Tapi tetep aja, mas khawatir bukan main sama kamu."


Annisa tersenyum tipis dan menggeleng.


"Mas ... ini kan aku yang pinta. Artinya aku udah nyiapin diri buat lewatin ini. Jadi, kamu gak usah khawatir lagi. Aku bisa sendiri. Toh kantor kamu deket dari sini. Kalau ada apa-apa aku langsung pergi ke sana. Boleh kan?"


Bram mengangguk cepat.


"BOLEH BANGET!" jawabnya. "Tapi kalau mas masih rapat, kamu tunggu dulu aja ya. Gak usah ke mana-mana."


"SIAP MAS!"


***


Annisa berterima kasih pada polisi yang sejak tadi mengantarkan dirinya.


Ia duduk di salah satu kursi dan tak lama polisi datang sambil membawa Sakilla yang di borgol. Annisa sempat menatap kasihan saat melihat Sakilla di perlakukan kurang baik, tapi buru-buru ia hapus rasa kasihan nya saat ingat gimana perlakuan Sakilla pada keluarganya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Sakilla yang masih songong begitu polisi meninggalkan mereka. "Mau ketawain saya karena di sini? oh iya ... dikira saya kalian masih berantem. Ternyata gak segampang itu ya membodohi Bram. Duh elah, harusnya sebelum saya begini, saya ngelakuin sesuatu dulu biar kalian cerai."


Sakilla memberontak dan menghela kasar.


"Kalau saya kesulitan begini, kalian juga harus kesulitan! Gak boleh ada yang bahagia sama sekali."


Annisa mencebik.


"Kami? saya dan mas Bram? maksud mbak tuh apa sih. Kenapa mbak malah membenci kami begini dan nggak suka sama hubungan pernikahan kita. Padahal gak seharusnya mbak ngomong begini. Mbak lebih dulu loh yang ninggalin mas Bram. Tapi kenapa sekarang mbak malah nggak suka dengan apa yang mas Bram lakuin? mbak aneh deh .."


Annisa membenarkan posisi duduknya. Menaruh tas di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Dan ... kedatangan saya ke sini bukan untuk ribut. Tapi ada yang mau saya omongin. Itu tentang kak Namira."


Sakilla langsung menatap ke arah Annisa dengan pandangan menyendu.


"Saya gak mau ungkit masalah lagi. Lagian kasihan kak Namira, mungkin kak Namira udah bahagia di atas sana. Aku nggak mau ganggu kak Namira lagi. Tapi ... boleh gak sih aku nanya sesuatu tentang kak Namira."


Annisa menarik napas kecil dan mengeratkan cengkraman nya ke baju yang ia kenakan.


"Mau gimana juga, rasanya aku masih benci sama mbak Sakilla. Karena udah misahin aku sama kak Namira sampai aku nggak pernah bisa ketemu lagi pas waktu itu. Aku juga gak tau apa yang mbak Sakilla lakuin sama kak Namira sampai kak Namira akhirnya pergi ninggalin aku sama ibu dan bapak. Padahal masih banyak yang mau aku lakuin sama kak Namira. Tapi ternyata takdir nggak sebaik itu. Kak Namira tetap pergi sama mbak Sakilla."


Annisa memalingkan wajahnya. Merasa sakit melihat wajah perempuan yang membuat keluarganya menjadi tambah hancur.


"Belasan tahun aku hidup sama kak Namira. Kami tumbuh bersama. Walaupun serba kekurangan. Tapi aku sama kak Namira selalu cari jalan keluar bersama. Kami cari ini itu bersama biar bisa punya banyak uang dan berjanji supaya bisa jadi orang kaya. Biar bisa beli apa pun yang kami mau."


Perempuan itu menghela napas kasar.


Dadanya sangat sesak.


Ia kembali memandang Sakilla yang kini sudah tidak berani menatap dirinya itu.


"Tapi semua mimpi itu hilang mbak. Hanya karena mbak. Aku bahkan gak tau apa yang ada di pikiran mbak. Kalau memang mbak melakukan itu semua karena cinta. Kenapa harus kakak saya?" histeris Annisa dan menangis.


Bayang bayang wajah Namira kembali membuat Annisa merasakan sesak bukan main. Ia memukul dadanya, berharap sesaknya hilang. Tapi yang ada semuanya semakin terasa menyakitkan saat melihat orang yang udah memisahkan dirinya masih baik-baik aja di depannya.


"Bertahun-tahun aku cari kabar kak Namira. Tapi semua akses benar-benar hilang. Mbak seolah nutup akses kami sampai aku tau kalau ternyata aku menikah sama laki-laki yang juga jadi korban keegoisan mbak."


Annisa menelan saliva.


"Bukan aku doang mbak, tapi seorang anak yang nggak mengerti kerasnya dunia ini juga jadi korban mbak. Karena perbuatan mbak yang ini, Rama sempet di bully. Bahkan keluarganya sendiri mengatakan anak pembawa nasib buruk."


Annisa menggeleng.


"Mbak tuh pernah mikir nggak sih? perlakuan mbak tuh banyak buat orang jadi sedih. Sekarang juga ... setelah bertahun-tahun terlewati dan mbak bjsa ketemu sama anak mbak. Mbak malah ngelakuin hal bodoh."


"Mbak tau nggak sih perasaan Rama waktu itu?"

__ADS_1


__ADS_2