
Setelah hampir setengah jam Annisa puas mengeluarkan air mata, kini Annisa mulai sadar kalau sejak tadi ada laki-laki yang masih setia menunggu dirinya. Annisa tersentak dan langsung bangkit tiba-tiba. Seperti dugaan, Rasa pusing membuat Annisa sedikit terhuyung tapi langsung di tahan sama laki-laki tersebut.
"Kamu baik-baik aja?" tanyanya. "Oh iya sebelumnya, perkenalkan nama saya Rifqi. Rumah saya tidak jauh dari sini. Maaf kalau saya sedikit mengganggu, tapi di daerah ini sering terjadi kejahatan. Makanya saat saya lihat kamu dari teras rumah kamu. Saya langsung aja ke sini, karena takut kalau kamu di incar sama beberapa penjahat yang mungkin saja memantau di sekitar sini. Makan dari itu, saya temani kamu di sini. Jadi, maaf ya karena saya mengganggu aktivitas sedih kamu."
Annisa menggeleng. Dengan wajah sangat sembab, Annisa berusaha tersenyum sangat tipis.
"Makasih sebelumnya karena udah menunggu Annisa, aku baru tahu kalau di sekitaran sini ternyata rawan juga ya? maaf aku kurang tau ... sebelumnya, kenalin aku Annisa dan rumah aku juga nggak jauh dari sini."
Rifqi mengangguk, berusaha memindai wajah Annisa. Takut kalau perempuan itu korban kekerasan laki-laki atau kejahatan apa pun itu. Tapi syukur, Rifqi tidak melihat ada yang janggal atau luka di perempuan itu.
Si empunya yang sejak tadi di lihat hanya bisa menunduk, sedikit malu karena sudah menangis di depan orang asing yang bahkan baru perempuan itu kenal.
"Mbak rumahnya beneran nggak jauh dari sini? bisa pulang sendiri atau perlu saya antar?" tawar Rifqi dengan sangat sopan.
Annisa menggeleng sambil membenarkan pakaiannya yang keliatan kusut itu.
"Aku bisa pulang sendiri kok, sebelumnya makasih banyak ya karena udah jaga kayak tadi. Beneran kalau nggak ada kak Rifqi, saya nggak tau bakalan kayak gimana. Karena tadi katanya rawan kan daerah sini?"
Rifqi mengangguk.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menatap Annisa.
"Mbak ada nomor ponsel? saya mau mengirim pesan sebagai warga di sini. Karena jujur saja saya baru lihat mbak pertama kali di sini. Mbak beneran orang komplek ini kan?"
Annisa mengangguk.
Ia berjalan sedikit menjauh dari pangkalan ojek lalu menunjuk ujung gang, yang paling pojok.
"Rumah aku ada di ujung gang terus belok kiri. Blok B, agak jauh dari sini sih. Tapi masih lingkungan komplek kok," ucap Annisa
"Ya ampun ... mainnya jauh juga ya ke sini. Ya sudah karena mbak juga warga di mari, saya boleh minta nomor untuk masuk ke grup warga di komplek ini. Tapi ... perasaan tidak ada orang pindahan deh di komplek B. Mbak tinggal di mana kalau saya boleh tahu?" tanya laki-laki itu sambil menyerahkan ponselnya ke Annisa
"Kak Rifqi tahu rumah mas Bram nggak?"
Rifqi tersentak dan menatap Annisa dari atas sampai bawah. Ia mengangguk dengan ragu.
__ADS_1
"Siapa yang nggak tahu bapak Bram? dia orang paling royal di komplek ini karena sering sumbangin banyak uang untuk kinerja komplek. Mbak siapanya pak Bram ya? soalnya yang saya tahu, pak Bram hanya tinggal berdua dengan anaknya saja dan tidak ada laporan sanak keluarga yang tinggal bersama."
Hati Annisa mencelos.
Ia juga baru sadar kalau selama ini sudah terlalu bodo amat sama hal seperti ini.
Banyak tanda tanya yang hinggap di benak laki-laki itu. Dari kenapa Bram yang tidak memperkenalkan dirinya. Atau Bram yang nggak mengurus surat ini itu.
Posisinya sebagai istri.
Ia menarik napas dalam.
"Aku nggak tau kak Rifqi bakalan percaya atau enggak. Tapi mas Bram itu suami aku," ucap Annisa dengan suara sangat lirih. "Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu, tapi aku nggak tahu kalau selama ini mas Bram nggak ngurus surat atau kenalin aku sama sekali ke lingkungan komplek ini."
Rifqi yang mendengar hanya tersenyum canggung sambil bingung harus melakukan apa.
"Ah kalau seperti itu, saya akan catat. Kebetulan bapak saya adalah RW di sini, jadi dia akan mencatat."
"Makasih ya ..."
Rifqi kembali menerima ponselnya saat Annisa sudah mengetik nomornya di sana. Tak lupa ia mengucapka terima kasih.
Annisa mengangguk.
"Ya sudah ... mbak mau saya antar?"
Annisa menggelwng dan mengucapkan terima kasih. Dia meninggalkan Rifqi yang masih menatap dirinya dari belakang.
"Sejak kapan pak Bram menikah?" tanya Rifqi sesaat Annisa sudah menjauh darinya. "Kenapa tidak ada kabar sama sekali?"
***
Annisa melangkah enggan menuju rumah Bram.
Perempuan itu masih membutuhkan waktu sendiri. Tapi tidak adanya sanak saudara di kota ini membuat Annisa urung. Ia menyesal karena tidak memiliki teman sama sekali di lingkungan ini. Jadi, kalau ada masalah seperti ini. Annisa beneran bingung harus curhat sama siapa.
__ADS_1
"Aku beneran merasa sendiri."
Setelah berjalan beberapa saat, rumah megah yang ada di depannya membuat luka itu kembali terasa.
"Siang mbak Annisa ... habis dari mana?" tanya satpam keluarga Bram.
Ia hanya menunjuk ujung jalan dan tersenyum tipis sambil masuk ke dalam rumah. Annisa sama sekali tidak ada mood untuk meladeni segala hal.
"Nak Annisa. Kamu habis dari mana?" Mommy Chika datang dari arah samping. "Dari tadi ibu nyariin kami. Tapi nggak ada yang tahu kamu di mana. Ya ampun ibu khawatir banget sama kamu. Kamu baik-baik aja kan?" tanya mom Chika sambil membolak balikkan tubuh Annisa, memastikan kalau menantunya itu tidak ada yang terluka.
Annisa tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Habis dari depan aja, Annisa sedikit suntuk di sini."
"Kamu suntuk?" sela mom Chika dengan semangat. "Mom juga mulai suntuk sih di sini. Gimana ya, kayak nggak ada kerjaan—
Selama mertuanya terus nyerocos, Annisa berusaha menatap mata mertuanya. Ia berusaha mencari kejujuran di sana. Ia hanya ingin tahu kalau mertuanya ikut andil sama masalah ini atau tidak.
Karena kalau mertuanya juga ikut campur dan tahu rencana Bram sama Rama, Annisa nggak tahu harus percaya sama siapa lagi di rumah ini. Karena nggak ada yang bisa dia percaya lagi. Semua orang udah bohong sama dirinya dan itu sangat menyakitkan.
"Kamu kenapa ngeliatin mom sampai segitunya?" tanya mom Chika yang sadar membuat Annisa mengerjap dan menatap ke sembarang arah. "Kamu ada sesuatu yang mau di tanya sama mom?"
Annisa terdiam.
Masalah ini seolah udah ada di ujung lidah dan Annisa mau menceritakannya. Sayang keberaniannya terlalu kecil dan Annisa memilih menelan mentah-mentah masalah ini. Dia menarik napas kecil dan memilih untuk menggeleng. Simpan saja sendiri masalah ini.
"Nggak mom ... aku cuma mau minta sesuatu aja. Tapi kayaknya nggak akan pernah di izinin sama mas Bram deh," ucap Annisa tiba-tiba yang merasa mendapat kesempatan bagus.
"Maksud kamu? kamu mau minta izin apa?" tanya sang mommy dengan bingung. "Minta izin aja kali, nggak masalah. Sini kamu kasih tau ke mom mau apa? kalau kamu takut nanti mom yang sampein ke Bram. Dia pasti setuju aja sama omongan mom."
Annisa tersenyum miris.
Entah dirinya yang sedang sensitif tapi dirinya sedikit kesal mendengar omongan sang mertua.
/Dia pasti setuju sama omongan mom./
__ADS_1
Annisa merasa dirinya nggak pernah merasakan seperti itu. Karena setiap yang dia omongin pasti masih terus di pikirin sama suaminya. Tanpa sadar ia menarik napas.
"Kamu sebenarnya kenapa?"