Istri Dadakan

Istri Dadakan
Diambang Batas


__ADS_3

"Loh?"


Baru mom Nadya ingin mengutarakan keterkejutannya saat melihat besannya masuk ke dalam mobil. Tapi ia langsung urung saat Bram masuk ke dalam mobil dan menggeleng sambil menatap orang tuanya itu. Meminta untuk tidak ikut campur dan mengatakan apa pun yang membuat mereka malah jadi ribut itu.


"Karena sekarang udah siap, kita langsung pergi ya."


***


"Mah ... kita ada di mana?" rengek Rama yang mulai tidak tahan berada di dalam mobil.


Sejak satu jam yang lalu Rama terus merengek dan tidak bisa diam sampai akhirnya kini ada di pangkuan Annisa. Pada awalnya Rama mulai tenang dan mulai berbicara banyak hal, meramaikan suasana mobil. Tapi selang beberapa menit anak itu kembali mengeluh dan sekarang mulai merengek kecil.


"Mas ini masih jauh?" tanya Annisa yang juga penasaran.


Karena sudah hampir dua jam lebih perjalanan, tapi mereka belum sampai sama sekali. Yang mana Annisa bingung juga harus melakukan apa untuk menenangkan sang anak, di saat hatinya resah membayangkan akan datang ke makam seseorang yang selama ini dia rindukan.


"Sebentar ya, nak. Maaf lama karena macet. Ayah nggak tahu kalau bakalan macet kayak gini. Harusnya tadi kita bisa berangkat lebih pagian. Tapi ternyata malah kejebak macet kayak gini. Maaf ya nak."


Rama masih merengek di pangkuan Annisa dan mulai memeluk perempuan itu.

__ADS_1


"Mah ... mau pulang, nggak suka. Gerah. Mau turun," ucap nya sambil terus merengek.


"Ssst ... berisik," sindir ibu Marni yang duduk di belakang. "Tolong suruh diem dong anak kamu. Memangnya yang suntuk juga cuma anak kamu doang? Ibu juga nih. Mana kalian nggak sopan banget lagi, naruh ibu sama bapak di belakang. Kalian tuh memang nggak ada sopannya ya."


"Ibu yang nggak sopan!" balas mommy Chika dengan sangat kesal.


"Kenapa jadi saya?!" tambah ibu Marni yang sama sekali nggak merasa dirinya bersalah itu. "Memang benar kan? Kami ditaruh di belakang kayak gini. Mana nggak nyaman banget. Ya ... kami tau kok, kalau kami cuma orang susah yang mungkin kalian pikir nggak apa-apa di rendahin kayak begini. Jadinya kalian bisa bebas berlaku seenaknya sama kita."


Annisa mengerang kesal. Semakin mengeratkan pada pelukan sang anak. Hanya takut bablas membentak orang tuanya. Disaat Annisa terus berusaha tutup kuping dan gak mau peduli.


Annisa berusaha sibuk dengan Rama yang kini memilih diam, takut akan bentakan nenek dan omanya itu. Annisa memilih mengusap punggung Rama sambil berbisik untuk menenangkan anak itu.


"Bu ... Pak ... maaf kalau mungkin aku sama Annisa nggak menjamu kalian dengan baik. Atau sekarang mau pindah? mom sama dad nggak masalah kan kalau duduk di belakang?" tanya Bram yang berusaha menengahi keributan kali ini.


"Kami sih nggak masalah, toh kami sudah sering naik mobil. Jadi nggak merasa aneh mau di belakang kek atau di depan. Mom sama dad sih biasa saja."


"Ah ... jadi sombong!" marah ibu Marni yang nggak terima. "Iya deh, situ orang kaya. Duh semua orang kaya tuh sama aja ya selalu merendahkan orang miskin kayak kita. Nak, ibu sepertinya nggak kuat. Keluarga suami kamu sama sekali nggak suka sama ibu."


"..."

__ADS_1


"Annisa?! Kenapa kamu diam saja!" seru Ibu Marni sambil terus menatap tajam Annisa yang membelakangi dirinya dari tempat ibu Marni duduk. "Ah ... kamu pasti udah jadi sekongkol ama mereka ya? Memang benar pasti kamu juga milih yang punya banyak uang kan? Duh, ibu bisa apa."


"Lihat pak, anak kamu ternyata udah kurang ajar. Punya dua anak tapi nggak ada yang bener sama sekali. Satunya malah suka sesama jenis dan satunya malah jadi anak kurang ajar."


"..."


Annisa mengepalkan tangan


Bram sejak tadi sudah menoleh pada Annisa, berusaha melihat istrinya itu. Bram juga menatap khawatir pada orang tuanya yang sudah kelihatan emosi itu. Memang istrinya benar, bukan ide yang baik membawa orang tuanya. Yang ada mereka malah berakhir bertengkar kayak gini.


"Annisa! woah kamu masih diem saja—


"Ibu yang seharusnya diam!" bela mommy Chika. "Dari tadi Annisa diam dan nggak permasalahin hal ini. Jadi nggak usah bawa Annisa. Dia lelah sama kelakuan ibunya sendiri yang malah membuatnya emosi. Bukannya malah nenangin. Alah ... saya beneran kasihan sama Annisa karena punya orang tua seperti ibu ini."


"NGGAK USAH IKUT CAMPUR—


"IBU YANG SEHARUSNYA NGGAK IKUT CAMPUR!" pekik Annisa dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.


Membuat Rama yang ada di pangkuannya tersentak dan ikut menangis kencang. Menambah kacau suasana di dalam mobil itu.

__ADS_1


__ADS_2