Istri Dadakan

Istri Dadakan
Sumber Uang


__ADS_3

"Ayah bentak aku."


Annisa menghampiri Rama dan menggeleng. Ia mengusap air mata yang turun dari mata Rama. Padahal Annisa juga lagi menangis. Tapi ia nggak peduli sama perasaannya sama sekali. Yang ia pedulikan hanya anak di depannya ini.


"Iya ... mungkin ayah kamu lagi cape doang. Kamu jangan nangis ya. Tante nggak suka lihatnya," ucap Annisa dengan pelan diakhir kalimat. Kata 'tante' ternyata memang yang paling tepat untuk mereka.


"Tante? kenapa nggak bunda lagi ..."


"Kamu denger kan apa yang dibilang ayah kamu?" tanya Annisa lembut. "Jadi ... panggilnya jangan bunda. Tante aja. Toh panggilan ini nggak ngaruh apa-apa kok buat tante. Tante bakal tetep lakuin semua yang kamu pinta dan tante juga bakalan tetep sayang sama kamu."


"Beneran?"


Annisa mengangguk. "Jadi jangan nangis lagi ya dan biasain buat panggil tante aja. Tante nggak mau kamu kena marah lagi. Tante nggaj suka."


Rama semakin mengeratkan pelukan masih terus menangis.


"Kenapa ayah nggak bolehin aku panggil bunda?" tanya Rama pelan. "Aku kan juga mau kayak temen aku. Ayah terus aja egois dan bilang kalau ayah bisa lakuin semuanya sendiri, tapi kenyataannya ayah nggak pernah bisa sama sekali. Ayah nggak pernah ngurus aku. Ayah cuma serahin aku ke pengasuh aku doang dan selebihnya ayah nggak pernah mau ngurus aku."


"Nak ..."


"Aku marah sama ayah! aku nggak suka. Ayah selalu larang yang aku mau."


"Cup ... cup ... cup ... udah-udah, nggak usah nangis lagi dan nggak perlu inget-inget semuanya. Yang penting sekarang kamu harus fokus kalau jangan panggil bunda lagi. Kamu ikutin aja apa yang ayah kamu mau. Nanti kalau kamu jadi anak yang nurut. Bunda janji bakalan nurut semua kemauan kamu."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya sayang ... udah, jangan nangis lagi ya."


Annisa terus menggendong Rama sambil sesekali menepuk punggung Rama yang sesekali masih terisak. Annisa terus melakukannya. Sampai tak sadar kalau Rama ternyata udah tertidur di gendongannya sejak tadi.


Setelah Rama nggak ada pergerakan lagi, hanya menyisakan hembusan napas yang teratur. Akhirnya Annisa bergegas menghampiri orang tuanya yang pasti dengar pertengkaran mereka.


"Bu ... Pak ... aku nggak mau terikat sama pernikahan ini," adu Annisa dengan jujur. "Aku nggak bisa. Kemarin kalian minta uang berapa sama suami aku? biar aku ganti. Aku bakalan cari uang daripada aku terus dibentak kayak tadi. Kayak nggak ada harga dirinya aja."


"Loh ... ibu nggak mau ya," seru ibunya yang tak terima. "Kapan lagi kamu bisa dapetin laki-laki kaya di hidup kamu. Jadi, nggak usah bertingkah. Kamu cukup ikutin apa yang suami kamu mau. Jangan sampai kamu yang meminta cerai, apa lagi kamu di ceraikan sama dia!"


"Tapi ..."


"Enggak, nak. Ini pertama kali ibu sama bapak tinggal di hotel mewah kayak gini. Jadi, kamu jangan hancurin lagi bayangan hidup mewah kami. Lagian kenapa sih, udah dapet yang enak. Kenapa sekarang kamu malah mau cerai sama dia? bukannya dia pacar kamu ..."


Annisa terdiam.


"Argh ... berisik kamu. Baru dibentak sedikit aja udah ngerasa jadi orang yang paling tersakiti. Ibu nggak mau tau, sekarang atau selamanya kamu nggak boleh cerai sama sekali. Kamu terima semuanya yang ada di diri suami kamu. Jangan bertingkah atau malah macam-macam. Ibu gak mau kehilangan semua harta ini."


"Bu ... ibu nggak mikirin perasaan aku sama sekali?"


Orang tuanya malah menggeleng.


"Sudahlah ... kamu urus diri kamu sendiri. Tadi suami kamu bilang kalau mau bawa kamu ke rumahnya dan udah sediain mobil buat ibu sama bapak buat pulang. Dia juga udah janji mau benerin rumah kita—


"BU!" bentak Annisa. "Kalian sebenarnya minta apa aja sama mas Bram sih? ya ampun ... kan aku udah bilang, jangan pernah minta yang aneh-aneh sama mas Bram. Dia emang suami aku, tapi nggak seharusnya kita minta ini itu sama dia. Nggak enak loh bu ... yang ada nanti mas Bram ngerasa kalau kita cuman butuh uangnya doang dan jadi bersikap seenaknya sama aku."

__ADS_1


"Ya ibu nggak peduli, yang penting uang tetep ngalir," jawab ibu dengan santai membuat Annisa merasa sakit hati. "Dan memang kenyataannya, kalau ibu sama bapak cuman butuh uang suami kamu. Jadi, kamu nggak usah sok gimana deh. Karena ibu sama bapak nggak mau kehilangan sumber uang kami."


Annisa pasrah.


"Jadi ... apa aja yang ibu pinta sama mas Bram?"


"Banyak. Benerin rumah. Bayarin semua hutang keluarga. Beliin perabotan yang mahal. Kirimin uang tiap bulannya."


"Bu!" Annisa yang mendengar hanya bisa speechless. "Ya ampun bu ... aku aja yang nikah sama mas Bram ga berani minta ini itu sama mas Bram. Tapi, ibu malahan berani buat minta ini itu? ya ampun bu ... beneran deh. Aku jadi super nggak enak sama mas Bram. Udah ya bu, jangan minta yang aneh-aneh lagi sama mas Bram. Aku nggak mau nanggung malu lagi."


"Ah elah," tambah bapaknya membuat Annisa langsung menoleh.


"Kenapa pak?"


"Punya suami kaya tuh memang harus di manfaatkan. Bapak sama ibu udah ngurus kamu dari lama banget dan semua itu pakai uang. Jadi wajar kalau sekarang kita minta balasan ke suami kamu. Jadi, kamu nggak usah ngerasa bersalah atau gimana. Karena itu memang udah tugas suami kamu."


"Tapi—


"Sudah ... kamu malah merusak suasana hati kami. Ikutin aja suami kamu itu. Kita masih mau santai di sini."


"Kalian nggak khawatir sama aku?"


"Untuk apa? kamu tinggal sama orang berduit yang bisa dapet semuanya. Jadi, buat apa kami khawatir sama kamu. Sudah ... pergi sana."


Rama di gendongannya tiba-tiba mengerang membuat Annisa buru-buru mengusap punggungnya masih menatap kedua orang tuanya dengan sangat kecewa.

__ADS_1


"Selama hidup aku nggak pernah ketemu figur orang tua yang merawat aku. Tapi aku sama sekali nggak masalah. Tapi sekarang kalian malah perhitungan sama aku? maaf ya pak, bu. kalau sampai detik ini anakmu ini masih belum bisa membanggakan kamu. Tapi ... tenang aja, aku janji bakalan jadi orang sukses supaya bapak sama ibu bisa bangga sama aku tanpa libatin mas Bram sama sekali."


"Ya ... terserah kami saja. Kami nggak percaya sama omong kosong mu. Yang penting jangan sampai kamu cerai sama sumber uang kami!"


__ADS_2