
"Makasih udah jadi kakak terbaik ya anak ayah."
Bran merasakan anaknya menubruk dia cukup kencang. Rama memeluknya dengan sangat erat. Tangisan Rama buat Bram jadi makin kaget, dengan perlahan ia mendongak kan wajah anaknya itu untuk menatap langsung ke arah dirinya.
"Kenapa nangis? ayah ada salah ngomong?"
Rama menggeleng.
"Enggak yah ... aku jadi ngerasa bersalah sama mamah. Padahal aku nggak bisa bandingin rasa capek aku sama mamah. Mamah juga udah ngerawat aku dari dulu dan gak pernah ngeluh sama sekali. Tapi aku, baru sedikit aja udah ngeluh gini. Aku jadi marah."
"Marah sama diri aku sendiri," lanjut Rama. "Ayah, mamah marah ya sama aku?"
Bram terkekeh, ia menggeleng.
"Mana pernah sih mamah Annisa marah sama kita? udah gih kita turun ke bawah. Ayah udah buat sarapan. Kamu mau kan? sekalian hari ini ayah gak kerja. Gimana kalau nanti kita keluar berdua? sebagai apresiasi karena hari ini kamu udah hebat banget."
"Beneran yah?"
Bram mengangguk.
__ADS_1
"Nanti kita pergi berdua, biar ayah bilang sama mamah Annisa ya."
Rama mengangguk antusias. "MAU AYAH!"
Bram mengacak rambut anaknya. Hatinya terasa lebih plong, menghadapi masalah seperti ini ternyata gak seperti yang dia takutkan.
"Tapi sebelum itu, kamu harus minta maaf sama mamah ya. Jangan buat mamah marah lagi. Inget saat ini mamah lagi sensitif. Kalau kita memang capek, mendingan kita yang menjauh atau gak kamu langsung jujur. Jangan kebawa marah. Kamu kasihan kan lihat mamah kamu yang kesakitan pas selama hamil ini?"
"Iya yah ..."
"Nah gitu dong, hebatnya anak ayah."
Bram ikut merasa bahagia melihat kedekatan Rama sama istrinya itu. Tidak ada rasa iri di dalam hatinya, karena dia malah menyukai melihat mereka yang akur seperti ini. Dari pada harus marahan seperti tadi.
"Udah dong Rama gelendotan nya, kasihan itu mamah Annisa."
"Ish! mamah Annisa nya juga gak masalah." Rama menjulurkan lidahnya.
"Heh!"
__ADS_1
Mereka semua tertawa puas.
"Oh iya sayang, mas sama Rama mau me time berdua nanti sorean. Boleh kan? kamu di sini dulu sama mbak. Soalnya udah lama kan mas nggak me time sama Rama. Anggap aja karena Rama udah hebat selama ini."
Annisa cemberut, memandang wajah sang anak dan suami.
"Aku gak diajak nih?" tanya Annisa, memelas.
"Bukannya nggak ngajak kamu, tapi kan kamunya juga kondisinya lagi gini kan. Mas gak mau kalau kamu jadi capek atau gimana. Kasihan ke kamunya—
"Hahahha." Tawa Annisa membuat Bram sama Rama saling tatap dan menatap bingung. "Aku bercanda mas. Aku gak apa-apa kok di sini sendirian. Udah kamu main berdua aja sama Rama. Kalian udah lama gak pergi bareng."
"Makasih sayang."
Bram dan Rama berbondong-bondong mengecupi kening Annisa hingga perempuan itu terkekeh sendiri. Mereka saling berpelukan hangat. Seolah semua kejadian tadi sebelumnya terlupakan.
"Oh iya mas, sebelum pergi sama Rama. Nanti aku mau ngomong sesuatu sama kamu ya." Annisa mengingatkan Bram setelah Rama berpamitan ke kamarnya
Bram berbalik. "Ah iya ... dari kemarin malam ya kamu mau ngomong sesuatu. Apa sih? istri mas mau ngomong apa. Kok keliatannya serius banget. Ada yang mengganggu kamu kah?"
__ADS_1
"Bukan mas." Annisa menarik napas dan menghembuskan napasnya perlahan. "Ini tentang mbak Sakilla mas."