Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kelakuan Ibu Marni


__ADS_3

"Mas ... aku udah capek cerita kelakuan ibu sama bapak yang benar-benar membuat emosi aku terbakar. Disini aku cuman bisa berharap ibu sama bapak nggak ngomong apa apa. Cuma itu ... nggak ada yang lain lagi. Aku udah cukup capek, mas."


"Butuh pelukan?" Bram merentangkan tangan


Annisa menatap sesaat dan membalas pelukan suaminya itu. Amarah yang sejak tadi membelenggu perlahan lenyap dan menghilang digantikan rasa nyaman yang diberikan suaminya. Bram juga terus mengusap punggung sang istri.


"Nggak usah takut ... mas udah cerita semuanya ke mom dan dad, untung aja mereka menerima kok. Jadi kamu itu tenang aja ya. Nggak usah mikirin apa-apa. Mas tau kalau sekarang kepala kamu udah pusing banget. Belum kelar masalah sedih kamu karena kakak kamu, sekarang malah nambah kamu yang harus di pusingkan kayak gini. Jadi, gak usah mikir yang macem-macem lagi ya."


Annisa mengangguk pelan.


"Maaf ya mas."


"Nggak usah minta maaf! Nggak ada yang salah di sini," seru Bram dengan cepat.


Ia melepas pelukan dan menyatukan lengan mereka, mengajak Annisa turun bersama. Sambil terus digandeng, mata Annisa menatap suaminya yang ada di depannya. Setiap langkah selalu ada aroma yang membuat wanita itu terkesima.


"Mom ... nih menantu mommy, katanya kangen kan?" ucap Bram saat mereka ada di depan meja tamu.


"Ah menantu kesayangan mommy," pekik mommy Chika sambil memeluk sebentar menantunya itu. "Kamu tuh emang makin cantik aja ya. Nggak paham lagi. Mana keliatan lembut banget lagi. Yakin deh semua orang kepincut sama kamu."

__ADS_1


"Jangan dipuji berlebihan," sela ibu Marni lalu mendengus pelan. "Yang ada dia besar kepala. Biasa aja."


"Lah ... nggak apa-apa. Saya muji menantu saya kok."


"Ah iya ... mommy ini orang tua aku. Ada ibu sama bapak. Maaf ya kalau rumahnya anak ibu jadi ramai gini," papar Annisa dengan sedikit merasa nggak enak.


"Ih kayak sama siapa aja dan juga rumah ini udah jadi milik kamu sama Bram. Jadi mom sama dad udah nggak ada urusan lagi."


"Tetap aja ..."


Mommy Chika berbalik dan mengambil tasnya yang cukup besar. Ia taruh ke atas meja dan mengeluarkan beberapa makanan dan barang unik. Tapi tiba-tiba ibu Marni dengan cepat mengambil sambil melihat-lihat semua barang itu tanpa izin sama sekali.


Dengan tidak tahu dirinya, ibu Marni mengambil tas tadi dan mengacaknya, mencari barang yang menurut dia sangat menarik itu. Dia terus mencari barang sampai sebuah kerang yang berisi mutiara asli terpampang.


"Ini buat saya!"


"TIDAK BISA!" Mommy Chika buru-buru mengambil, baru aja ibu Marni mau merebutnya. Tapi Annisa sudah menahan dan menggeleng, memohon supaya ibunya nggak berbuat sesuatu.


"Ih kenapa pelit banget? Kita ini besan loh. Dan anda belum ada bawa sesuatu buat saya. Tapi tanpa uang atau bawaan apa pun, saya rela menyerahkan putri saya menikahi anak anda. Dan sekarang saya cuman mau barang tadi. Anda langsung mengambilnya?"

__ADS_1


ibu Marni menyilangkan tangan di dada.


"Ternyata orang kaya tuh memang ada yang pelit ya."


"Sudah kasih aja," ucap daddy Bima yang sejak tadi berusaha memahami karakter besannya yang memang benar ada di luar nalar, sesuai dengan yang dijelaskan Bram selama di mobil tadi.


"Tapi mas ... kamu tau sendiri kan kalau hadiah ini khusus untuk menantu kita," jelas mom Nadya. Lalu menatap besan nya itu dengan kesal. "Kalau mau ambil yang lain, silahkan saja. Saya tidak melarang sama sekali. Tapi tolong ... jangan yang satu ini. Karena ini khusus punya Annisa."


Ibu Marni beralih menatap anaknya.


"Kamu pasti nggak butuh pajangan gini kan? Di rumah ini udah punya barang bagus loh. sementara di rumah? Semua masih jelek. Jadi, buat ibu aja ya," paksa Ibu Marni. "Dan tadi kan kata anda barang ini untuk saya. Jadi bebas dong kalau nanti anak saya kasih ke saya? Gimana Annisa ... ini barang nya buat ibu aja ya."


Annisa menatap nanar.


"Tuh lihat Annisa aja sepertinya nggak mau."


"Pasti mau ... Dia kan nurut sama saya."


"Tapi—

__ADS_1


"CUKUP!" potong daddy Bima dengan sangat tegas. "Barangnya dikasih buat orang tuanya Annisa saja. Nanti kita beliin Annisa barang yang baru. Kasihan Annisa, keliatan sangat pusing. Permasalahan selesai di sini! Jangan diteruskan lagi."


__ADS_2