
"Mungkin selama ini kamu baik-baik aja dengan hubungan kita. Tapi bener kata mom, kalau semua orang harus tahu siapa kamu yang sebenarnya. Bukan kita atau keluarga inti aja yang tahu." Bram masih berlutut dengan salah satu kaki menumpu di lantai dan lengannya yang membuka cincin. "Mas ngomong kayak gini karena mau memulai semaunya sama kamu. Dari awal. Gimana, kamu mau kan?"
Annisa yang bingung hanya diam. Ini terlalu tiba-tiba untuk dirinya.
"Kenapa nggak jawab? kamu nggak mau hidup bersama mas selamanya?"
"Bukan ...," sanggah Annisa pelan. "Tapi, kenapa tiba-tiba kamu mikir kayak gini? padahal sebelumnya kamu nggak pernah nyinggung kayak gini."
"Ini diterima dulu dong," protes Bram yang mulai pegal sama posisinya yang sekarang.
Annisa tertawa dan mengangguk pelan membuat Bram memakaikan cincin tersebut ke jari manis Annisa. Setelah terpasang, Bram menatap puas hasil design cincin nya itu, supaya nggak ada yang mengikutinya lagi. Khusus untuk Annisa. Spesial.
"Anggap aja ini cincin hadiah karena selama ini mas nggak pernah serius ngasih hadiah sama kamu. Cincin ini pertanda awal dari hubungan kita dan mas harap nggak akan ada salah paham lagi selanjutnya. Mas mau semuanya baik-baik aja, jangan ada yang merasa sedih atau gimana lagi."
Annisa menatap dalam cincin itu. Begitu indah melingkar di jarinya. Ia beralih menatap Bram.
"Aku suka ..."
"Mas seneng kalau kamu juga seneng," balas Bram. "Tapi gimana jawaban kamu atas pertanyaan mas yang tadi?" tanya Bram. "Kamu mau kan kita memulai semuanya dari awal. Kamu dan aku? Kita pura-pura aja kayak orang yang baru kenal dan menjalin hubungan. Sambil nunggu persiapan menikah."
"Tapi mas— apa nggak terlalu berlebihan?" tanya Annisa. Dia juga nggak mau kalau beberapa orang menganggapnya aneh karena menikah dua kali, padahal ini cuma karena dirinya yang butuh validasi saja.
"Berlebihan gimana? kalau mas beli mobil banyak terus di biarin gitu aja di garasi, baru berlebihan. Tapi kalau demi kita berdua mah nggak ada yang berlebihan."
"Maksudnya ... agak aneh juga nggak sih kalau kita nikah dia kali, padahal kita udah nikah?" tanya Annisa. "Kemarin aku mikir dan ngomong kayak gitu cuma lagi emosi doang. Tapi pas habis dipikir lagi, aku ngerasa ini sedikit berlebihan mas. Jadi, mas nggak usah dengerin omongan aku. Kita kayak biasa aja."
Bram terdiam, berusaha mencari jawaban lain.
"Ya sudah ... kalau kamu ngerasa ini berlebihan. Kita nggak usah menikah lagi, tapi adain aja pesta tapi ngundang yang banyak orang gitu. Jadi, seenggaknya pegawai mas tahu kalau di sini mas udah nikah. Gimana?"
"Kalau kamu maunya gini, ya aku bisa apa? aku ikut aja mas keputusan kamu."
Bram tersenyum senang.
Setelahnya, ia langsung mengisyaratkan pelayan untuk datang. Bram memesankan makanan yang di rasa akan disukai sama Annisa. Begitu pelayan pergi, beberapa pegawai laki-laki datang dengan alat musiknya.
"Permisi tuan, nona ..."
Pegawai tersebut mulai memainkan alat musiknya dan alunan musik indah yang begitu menenangkan mulai mengudara di tempat tersebut. Suasana romantis yang tercipta sejak tadi seolah semakin memanas karena gesekan biola yang tercipta.
Diam-diam Bram memegang tangan Annisa membuat perempuan yang sejak tadi fokus sama permainan musik langsung tersentak dan menatap Bram. Bram menunjuk dirinya.
"Lihat mas, jangan lihatin dia ..."
"Tapi permainan dia bagus banget," ucap Annisa yang selama ini selalu suka dengan permainan musik. "Kamu lihat deh mas, tangannya lihai banget. Sampai nyiptain alunan seindah ini. Ya ampun, keren banget deh. Nggak ada duanya. Ini sebagus itu ..."
Kening Bram mengerut tidak suka. Dia memiringkan wajah sambil sesekali menggeleng.
"Nggak usah puji orang lain kayak gitu," seru Bram dengan merengek kecil. "Mas cemburu!"
__ADS_1
Psst ...
Annisa tertawa kecil sambil menatap suaminya.
"Nggak usah cemburu dong mas, kan aku cuman jujur aja kalau permainan dia bagus. Selebihnya aku nggak lihatin yang macem-macem."
Bram masih saja cemberut. Tangannya menyilang di dada, jadi memperhatikan orang yang masih fokus memainkan musik itu. Kalau ini komik, sepertinya udah ada kilatan tajam yang keluar dari matanya menandakan amarah.
"Annisa ih ..."
Perempuan itu semakin tertawa lepas melihat suaminya yang clingy seperti ini. Jarang sekali Annisa ngelihat Bram yang kayak gini.
"Kalau kamu memang suka banget sama orang main musik, kayaknya mas harus les gitu deh. Biar kamu kagumnya sama mas aja, jangan sama yang lain," ucap Bram sembari merengut kecil.
Tangannya memangku wajahnya dan Bram menghela napas.
Untung saja, Makanan tak lama datang membuat orang yang memainkan musik itu memilih pergi. Kini hanya ada mereka berdua, menikmati makanan. Sesekali Bram akan menyuapi Annisa sampai keduanya tertawa kecil. Karena merasa sedikit canggung sekaligus malu.
"Kamu ini ya ..."
Annisa mengusap mulutnya dan tertawa tipis.
"Kenapa? aku nggak ke napa-napa kok."
"Iya ... tapi jangan kayak tadi, nggak baik banget buat jantung mas. Udah ah, mendingan kamu diem aja. Atau yang ada mas beneran tepar ngelihat kamu yang manja kayak tadi."
"Yah ... lemah."
Bintang yang beredar di langit menambah keindahan malam itu. Annisa sangat menyukai. Malam hari, suara binatang malam hingga keheningan yang tentunya membuat semua orang akan merasa tenang.
"Mas ..."
"Iya?" jawab Bram sambil terus memandang langit dengan tangannya yang masih merangkul dan mengusap rambut sang istri. "Kenapa?"
"Dari kemarin aku butuh banget ketenangan kayak gini dan sekarang kamu langsung wujudin, padahal aku nggak pernah minta. Jadi, makasih banyak ya mas. Aku beneran ngerasa lega banget."
Bram melirik Annisa lalu mengangguk.
"Bagus kalau begitu, mas senang dengarnya."
Angin malam membuat suasana sedikit mencekam. Annisa memilih mengeratkan dirinya ke tubuh Bram. Ia yang ada di rangkulan Bram memilih menaruh wajahnya di bahu laki-laki itu. Berusaha menyamankan diri. Lagian, semakin malam yang ada dirinya semakin mengantuk.
Apalagi kesunyian yang melanda membuat mata Annisa ingin sekali terpejam ditambah elusan Bram membuat ia takut malah tertidur di suasana yang romantis seperti ini.
"Annisa," panggil Bram lagi
"Hmm?"
"Nanti sebelum sidang keputusan Sakilla, mas mau kamu ketemu sama dia. Sepertinya kamu memang butuh ketemu sama Sakilla dan bicara empat mata. Terus kalau masalah ini udah selesai, mas mau kita langsung laksanain rencana tadi. Mas nggak mau di tunda lagi. Apa lagi masih banyak yang harus kita lakuin ke depannya kan?"
__ADS_1
"Iya mas ... aku ikut kata kamu aja."
"Tapi kalau kamu ada saran atau sesuatu, kamu jangan sungkan buat bilang aja ya sama mas. Mas beneran nggak akan tinggal diem aja."
"Iya ... mas ku sayang, tenang aja. Aku nggak akan diem aja kayak dulu. Kamu nggak usah khawatir."
Bram tertawa dan menarik Annisa lalu memeluknya erat. Tak lupa ia memberi kecupan di puncak kepala Annisa.
"Mas benar-benar sayang sama kamu, jangan pernah kepikiran buat pergi dari hidup mas ya. Karena mas nggak akan sanggup di tinggalkan sama orang yang udah buat hidup mas kembali berwarna karena berkat kamu."
Annisa mengangguk, berusaha menghirup aroma maskulin suaminya yang sudah menjadi favoritnya itu.
"Mas juga jangan pernah tinggalin aku ya."
Selanjutnya,
Mereka memilih berdiam tanpa mengatakan apa-apa. Annisa dan Bram, bertemu karena suatu masalah dan secara tiba-tiba. Tapi nyatanya takdir membawa mereka ke hubungan saat ini. Keduanya dipertemukan untuk bisa bersama, membangun kebahagiaan bersama seorang anak yang menambah warna di hidup mereka.
***
Setelah pada puas berdiam di restoran, Annisa sama Bram memilih kembali. Tapi, sayang ... harapan hanya lah harapan, karena Bram malah membawa mobil menuju sebuah hotel yang tentunya sudah terkenal akan kemewahannya.
Perempuan yang sejak tadi duduk di samping Bram sedikit panik melihat suaminya yang mulai membicarakan ke arah sana. Alias ... Anisa takut banget.
Perempuan itu hanya bisa berdoa supaya apa yang ada di pikirannya nggak terjadi. Karena Bram hanya beralasan malas menyetir sampai rumah, dan pengin tidur di hotel. Padahal antara hotel sama rumah hanya seperkian menit saja. Tidak sejauh itu. Tapi Annisa hanya lah seorang istri yang nggak bisa apa-apa dan memilih menurut saja.
Lagipula, mereka sudah berjanji untuk memulai hubungan suami istri yang baik bukan? hubungan suami istri yang terjalin pada umumnya.
Jadi, Annisa hanya bisa pasrah ... berharap dirinya tidak akan malu-maluin saja nantinya. Karena ini yang pertama kali untuknya.
"Ayuk masuk."
Bram membawa Annisa masuk ke dalam lift setelah diberikan sebuah kartu akses untuk kamar VIP yang di pesan Bram.
"Jangan tegang ..."
***
Annisa masih bergerak kaku di pelukan Bram, melihat itu membuat Bram melepas pelukan. Namun kedua tangan Bram masih bertengger di bahu Annisa, menatap lembut kedua mata Annisa yang sudah satu yang mana membuat Bram semakin terhanyut akan perasaannya saat ini.
"Maaf Annisa, tapi mas udah nggak bisa tahan lagi."
Seusai mengatakan itu Bram langsung menarik tengkuk Annisa, guna mempermudah tautan bibir mereka.
Awalnya Annisa yang terkejut hanya bisa membolakan matanya. Namun lama kelamaan Annisa mulai mengikuti irama yang dibuat Bram bahkan Annisa membuka sedikit mulutnya saat Bram menggigit pelan bibir bawahnya. Tanpa membuang kesempatan, lidah Bram langsung melesak masuk dan mulai mengabsen seisi mulut istrinya itu.
Hingga Annisa kehabisan napas dan dengan cepat mendorong kuat Bram. Napasnya memburu.
Melihat Annisa yang terengah-engah ditambah bibirnya yang bengkak membuat nafsu Bram semakin meningkat. Dengan perlahan tangannya terangkat mengusap pipi wanitanya yang sangat memerah.
__ADS_1
Bram memeluk Annisa, memberikan kenyamanan sebelum mengecup keningnya cukup lama. Bahagia akan posisinya yang sekarang. Hingga tangannya menelusup masuk ke balik pakaian Annisa. Ia mengusap pelan punggung Annisa, ia merasakan betapa lembut kulit istrinya hingga Annisa sedikit meremang.
"Boleh kan?" izinnya dengan suara berat dan anggukan Annisa membuat laki-laki itu langsung bersemangat.