
Bram dibuat panik karena melihat Annisa dan Rama sama sama menangis dan saling berpelukan. Bram menoleh ke arah pegawai yang pada mengintip di balik tembok, tetapi mereka hanya menggeleng karena tidak tahu apa yang lagi di tangisi sama dua orang di sana.
Bram berdecak dan berlutut lalu mengusap punggung keduanya.
“Kenapa? Kenapa kalian nangis ... semuanya baik-baik aja kok. Jadi, nggak ada yang perlu di tangisi lagi. Okei?!” seru Bram dengan lembut. “Nggak usah nangis. Yang ada kalian capek sendiri. Kasih tahu ayah, mas biar saya tahu apa yang buat kalian kayak gini.”
“Ayah ...”
“Iya nak?” jawab Bram lembut sambil menatap lekat ke arah Ram yang sudah mengusap air matanya sambil menatap ke arah anaknya itu dan sesekali menyibak poni rambut Rama yang mulai panjang.
“Aku nggak mau nenek ke sini lagi!” gumamnya tegas tapi dengan suara pelan. “Nenek jahat ... nenek nampar tante dan aku nggak suka. Aku nggak mau lihat nenek di sini lagi. Aku mohon ya yah. Jangan biarin nenek ada di sini lagi dan aku nggak mau muka tante di tampar lagi.”
Rama berdiri dan menatap Annisa lalu mengusap pipinya dengan mulut cemberut.
“Tuh yah ... lihat, muka tante jadi luka kayak gini. Ini juga tangannya merah banget,” adu Rama sambil memegang tangan dan pipi Annisa. “Aku nggak mau tante di sakitin lagi. Ya yah ... aku mohon. Jangan biarin nenek ke sini lagi dan aku nggak mau nenek datang ke sini.”
Bram menoleh dan menatap lekat ke arah Annisa yang malah menunduk. Sebuah tangan ia taruh di kepala perempuan itu sampai membuat Annisa tersentak tapi tetap nggak berani menatap Bram dengan langsung.
“Aku mohon, dad!” Rama menyatukan kedua lengannya seperti benar-benar sedang memohon. “Aku bakal turutin semua permintaan ayah asal ayah nggak biarin nenek datang ke sini.”
Rama kecil itu tiba-tiba ingat akan kenangan samar samar yang terjadi di masa lalu.
“Dulu aja .. aku inget pas nenek datang. Nenek ngelakuin sesuatu sampai ayah marah besar. Ayah banting banyak barang, sampai aku takut. Aku bujuk ayah aja, ayah nggak mau dengerin sama sekali. Makanya sekarang aku takut banget ngeliat ayah yang gini lagi. Ayah beneran nggak apa-apa kan? Ayah nggak marah lagi kan? Ayah nggak bakalan diemin aku lagi kan? Nenek bener-bener buat aku kesel. Dulu, udah buat ayah jadi cuek sama aku beberapa waktu sekarang nenek malah jahat sama tante yang udah terus baik sama aku.”
Bram diam terpaku. Dia baru sadar kalau tingkah nya di masa lalu mempengaruhi Rama, bahkan sampai membuat anak itu ingat sampai detik ini.
__ADS_1
"Kamu inget itu semua?"
Dengan pelan Rama mengangguk. "Soalnya karena ini ayah jadi diemin aku lama banget. Makanya aku inget banget."
Bram menoleh pada Annisa dan mereka bersitatap satu sama lain tanpa mengatakan apa-apa. Mereka ikut sedih dan miris sama perasaan anak itu.
"Pokoknya aku nggak mau lihat nenek ada di sini lagi," pinta Rama dengan rengekan kecil. "Boleh kan yah ... aku takut, nanti tante di marahin lagi kalau ada nenek di sini. Udah cukup tante sedih karena masalah tante sendiri. Jadi, aku nggak mau lihat tante sedih karena masalah lain."
Bram beneran terkejut mendengarnya. Tubuhnya tersentak dan ia hanya bisa menelan saliva, tanpa paham harus apa. Rasanya dia nggak tahu kalau anaknya akan mengatakan hal seperti ini.
Hati Bram sangat terenyuh, di umurnya yang masih sangat belia. Rama malah memikirkan perasaan orang lain tanpa pernah memikirkan perasaan dia sendiri. Entah rasanya, Bram sedih sekaligus bahagia mengetahui fakta tentang Rama yang satu ini.
Bahagia karena anaknya bisa tumbuh sebesar ini dengan pemikiran yang sangat bijak, sampai memikirkan perasaan orang lain. Tapi, di sisi lain rasanya Bram sedih karena pertumbuhan anaknya tidak ia perhatikan dengan sepenuh nya. Karena ia lebih sibuk dengan kerjaan.
Tapi mendengar ini, membuat Bram tanpa sadar membuat janji pada dirinya sendiri untuk berubah. Dia nggak akan pergi dan nggak merawat anaknya lagi. Dia akan ada di samping Rama untuk menatap tumbuh kembang anaknya.
"Ada lagi yang kamu mau?" tanya Bram sekalian ingin tahu perasaan anaknya yang sebenarnya.
Rama terdiam. Sedikit menoleh pada Annisa yang sudah tidak menangis, tapi mata tantenya itu kelihatan sangat sembab.
Rama menatap ayahnya lagi dengan tegas lalu menggeleng.
"Aku nggak mau minta banyak hal sama ayah!" seru Rama dengan yakin. "Aku cuman mau ayah tepatin janji ayah. Aku nggak mau lihat nenek lagi! aku nggak mau nenek datang ke sini dan nyakitin tante lagi," serunya dengan yakin.
"Ayah nggak janji ..."
__ADS_1
"Ih ayah mah," rengek Rama sambil menghentakan kaki nya.
"Ayah nggak bisa janji, nak. Tapi ayah akan berusaha untuk melakukannya. Ayah akan jelasin sama nenek kamu dan kalau dia ke sini setelah ayah larang. Itu di luar kehendak ayah. Tapi ayah janji, kalau tante kamu ini nggak akan pernah tersakiti lagi. Ayah bakal peringatin nenek kamu dan bakalan marah kalau nenek kamu masih nekat memarahi tante kamu ini."
Rama mengangguk
pelan.
Tubuh kecilnya menggeliat dan masuk ke pelukan sang ayah dan Bram langsung menggendong anaknya sambil duduk. Tangannya ia usap punggung Rama yang menempel di tubuhnya itu.
"Dan buat Annisa ... maaf ya karena perbuatan mertua saya buat kamu jadi kayak gini. Saya janji nggak akan melakukan ini lagi, maksudnya saya akan marahin dia atas sikapnya."
Annisa tersenyum tipis dan menggeleng.
"Mas ... jangan di perpanjang ya. Aku memang sakit dan ini masih perih. Tapi ini mertua kamu, yang artinya dia sama seperti ibu kamu. Jadi, kamu nggak usah balas hal kayak gini. Dibilangin aja baik-baik. Aku cuman minta kamu untuk jelasin sesuatu sama dia."
"Apa itu?"
Annisa tersenyum tipis.
"Aku harap kalau dia datang, dia nggak akan melakukan hal seperti tadi di depan Rama lagi. Aku takut anak kamu jadi trauma. Mau bagaimana pun, kekerasan nggak pantas di lihat sama anak kecil."
Bram menoleh pada Rama dan Annisa. Ada sesuatu yang sangat ingin ia katakan pada mereka berdua. Tapi terkadang dia masih belum siap untuk saat ini. Tapi, melihat gimana mereka yang saling menyayangi membuat hatinya goyah.
"Rama ..."
__ADS_1
"Iya yah?" seru Rama sambil menatap wajah ayahnya.
"Mulai detik ini ... jangan panggil tante Annisa lagi ya. Panggil mamah. Ayah izinkan kamu untuk memanggilnya dengan sebutan mamah. Okei?"