Istri Dadakan

Istri Dadakan
Jujur


__ADS_3

Sakilla benar-benar bungkam.


"Jujur saja ... saya butuh penjelasan bukan untuk apa-apa atau memikirkan alasan kamu yang sebenarnya. Tapi saya hanya penasaran. Biar saya juga nggak terus mikirin ini. Karena ... aneh tahu nggak sih Sakilla! kalau memang dari awal kamu udah begitu. Kenapa kamu nikah sama saya?"


Bram menggebrak meja hingga Sakilla tersentak.


"Saya sungguh merasa di bohongi Sakilla! kamu tahu? awal nya saya sama sekali nggak percaya sama omongan Annisa. Saya menganggap dia hanya berbicara omong kosong sampai fakta ini menampar saya."


"..."


"Rasanya kamu seperti bercanda akan hubungan kita di masa lalu dan itu ... cukup membuat saya kecewa. Oh, bukan cukup. Melainkan saya sangat kecewa. Jadi! saya tanya sekali lagi. Kalau kamu memang menyukai sesama. Kenapa kamu menikah sama saya? dan sejak kapan?"


Sakilla menarik napas dalam. Tangannya saling bertaut menandakan ia sangat gugup.


"Dari semasa sekolah," aku Sakilla pada akhirnya. "Maaf mas. Maaf karena aku udah bohongin kamu. Tapi aku bener nyaman sama kamu kok mas. Makanya aku menerima kamu. Walaupun aku salah karena pakai kami buat nutup keadaan aku yang begini. Tapi aku beneran nyaman sama kamu. Kamu udah buat aku ngerass di hargai dan aku bahagia banget bisa kenal kamu. Jadi, maaf ya mas kalau kamu ngerasa aku ini udah jahat sama kamu. Aku nggak ada maksud untuk jahat sama kamu. Beneran deh."


Bram terdiam.


Marah bukan berarti dirinya gagal move on sama keadaan di masa lalu. Dan menerima semuanya bukan berarti Bram memaafkan kesalahan Sakilla.


Banyak orang bilang, damai dengan keadaan adalah jalan terbaik untuk melupakan masa lalu. Jadi, Bram tidak mau lagi tersulut. Toh, saat ini dirinya sudah memiliki Annisa yang jauh lebih memiliki segalanya di banding siapa pun. Jadi wajar kalau dirinya hanya diam tanpa berekspresi sama sekali.


"Mas maafin aku," ucap Sakilla lagi yang ngerasa nggak dapat respon dari Bram. "Aku beneran ngerasa bersalah banget. Maaf kalau aku nggak jujur dari awal. Aku bener menyesal, mas. Sekarang gini aja deh ... kamu mau apa? kamu mau aku ngelakuin apa. Supaya bisa dapet maaf dari kamu? aku nggak bakalan ngeluh lagi deh, janji. Aku bakal ngelakuin semuanya yang kamu pinta."


Bram terkekeh.

__ADS_1


Dia duduk menyandar di sofa.


"Telat nggak sih? saya udah ngerasa dibohongi sama kamu. Saya ngerasa ditipu sama kamu. saya ngerasa semua yang kita lalui di masa lalu hanyalah kenangan semata. Saya jadi malu," ucapnya terpotong diiringi tawa kecil


"Malu?"


"Iya malu," perjelas Bram. "Saya mengira kamu begitu mencintai saya. Saya sombong karena udah bilang ke semua orang kalau kamu cinta sama saya. Kita tunjukin ke semua orang betapa bahagianya pernikahan kita. Tapi nyatanya, nggak begitu. Kamu nggak bahagia sama pernikahan ini. Kamu anggap pernikahan ini sebagai tipuan semata dan kamu main-main di pernikahan se sakral ini."


"Mas maaf ..."


"Dulu saya bersumpah untuk menjaga kamu dan mencintai kamu selamanya." Bram menarik napas dalam.


"..."


"Tapi derik ini juga saya mau membatalkan semua janji di masa lalu. Saya juga minta maaf karena udah jadi suami yang gagal untuk kamu. Saya beneran minta maaf. Mulai detik ini kamu bukan lagi milik saya. Saya sudah mengurus perceraian kita. Sekarang kamu bisa bebas. Saya hanya berpesan supaya kamu jangan jadi orang jahat lagi dan jangan ganggu kebahagiaan orang. Cukup saya yang jadi korban di sini. Selebihnya jangan."


Hati Sakilla seperti di cengkram sangat kuat hingga hatinya hancur tak terbentuk. Dadanya terasa kosong dan sesak. Ia bingung harus membela dirinya seperti lagi. Karena yang keluar hanyalah air mata.


"Sudah ya Sakilla ... maaf karena saya juga yang nggak bisa semudah itu memaafkan kamu. Pernikahan yang cukup lama nyatanya saya di bohongi selama itu. Jadi wajar kalau sampai detik ini saya malas melihat kamu. Juga ... tolong kamu pertanggung jawaban semua perbuatan kamu. Karena banyak korban atas ulah kamu itu."


"Maaf mas ..."


Bram menggeleng.


"Saya nggak butuh maaf lagi. Lagian maaf kamu nggak merubah segalanya kan? fakta kalau kamu udah nyakitin saya dan Rama juga buat saya enggan untuk memaafkan kamu. Meski begitu, saya nggak sejahat itu untuk bongkar semua kejahatan kamu di media massa. Saya serahkan kamu ke pihak yang berwajib. Silahkan kamu lakukan selanjutnya. Karena saya bukan wali kamu lagi."

__ADS_1


"Mas ...."


Sakilla terus meraung kecil.


Hati Bram bahkan tak tergerak sedikit pun untuk memeluk Sakilla. Rasanya sangat asing. Wanita yang beberapa tahun lalu hidup bersamanya itu sehingga Bram selalu berjanji untuk memberikan yang terbaik untuk Sakilla bahkan tidak memperbolehkan perempuan itu menangis. Tapi kini, Bram sangat tidak peduli.


"Nggak usah menangis, memang ini yang harus kamu terima dari semua perbuatan kamu kan? kamu nggak usah sok nangis gitu. Harusnya dari awal tuh mikir pakai otak ... gimana hasilnya ke depan. Memang sih cinta itu buta. Tapi ya enggak dengan mengorbankan banyak hal kayak gini lah."


Sakilla mengangguk lemah.


"Maaf ya mas. Aku nggak tahu harus ngelakuin apa. Rasanya sangat sakit pas tahu anak sama mantan suami benci aku sampai segitunya. Aku janji nggak akan lakuin hal ini lagi. Sekali lagi maaf ya mas ... aku nggak tahu kalau semuanya bakalan berakhir kayak gini."


"Hmmm ...."


"Sudah ... hapus air mata kamu. Saya nggak mau kalau nanti orang mengira saya menyakiti kamu karena kamu sampai menangis begitu. Padahal yang harusnya sedih itu saya dan Rama karena udah ditipu sama perempuan kayak kamu!"


"Iya mas ..."


Keduanya sama-sama diam. Sakilla yang berusaha untuk menenangkan jiwanya dan menghentikan tangisannya. Dan Bram yang sibuk memperhatikan Sakilla dengan mata yang sangat datar.


"Lebih baik sekarang kamu pergi! urusan kamu sudah selesai di sini. Jadi, silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini."


Sakilla berdiri. "Sebelum aku pulang. Aku boleh izin ke kamar mandi nggak mas."


Bram hanya berdeham untuk menanggapinya.

__ADS_1


Sakilla buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan urusannya. Setelah selesai, ia menyempatkan diri untuk melihat seisi rumah sebelum kembali ke depan rumah karena Bram yang sudah menunggu di sana.


"Mas ... sebelum aku benar-benar pergi. Boleh nggak aku minjem HP kamu. Buat hubungin keluarga aku kok mas," ucap Sakilla dengan cepat. "Kamu yang bilang sendiri kan kalau kamu bukan wali aku lagi. Sedangkan aku masih ada yang harus di selesaikan dengan pihak berwajib. Jadi, aku mau hubungin keluarga aku. Boleh kan mas? aku mohon."


__ADS_2