Istri Dadakan

Istri Dadakan
Penjelasan


__ADS_3

"Aku ngerasa rumah sakit itu tempat yang sangat menyeramkan," ucap Rama memulai pembicaraan serius di antara mereka berdua.


"Kenapa bisa begitu?"


Anak yang sudah memasuki bangku SD itu menunduk. "Bunda percaya nggak sih kalau aku pernah merasa jadi perusak kebahagiaan orang lain? maksudnya aku ngerasa keberadaan aku membawa pengaruh buruk bagi orang lain dan malah buat orang lain jadi sedih. Bunda percaya gak?"


Annisa menegakkan posisinya saat terkejut.


Sengaja Annisa duduk menyila di atas kasur Rama, supaya perut dan bagian atas kakinya tidak merasa pegal. Ia kembali menatap serius pada Rama yang masih menunduk.


"Kapan? dan kenapa kamu bisa merasa kayak gitu? terus apa hubungannya sama rumah sakit?" tanya Annisa tak sadar membuat Rama terkekeh.


"Satu per satu dong mah, jangan nanya borongan gini. Akan Rama jelasin kok sama mamah."


Annisa mengusap tengkuknya. "Ah maaf ya."


"Intinya ... mamah pasti tau kan kalau aku lahir terus bunda meninggal? hmm, maksud Rama faktanya dulu begitu kan? Karena yang dulu aku tau memang begitu. Begitu aku ada di dunia ini, bunda meninggal. Intinya bunda meninggal karena aku."


Annisa tersentak mendengar penuturan Rama yang masih bisa tertawa saat membicarakan masalah ini.


"Terus juga ... pas aku masih kecil banget, oma pernah lagi jaga aku. Terus aku main lari aja ke jalanan padahal oma udah larang aku berulang kali. Tapi karena aku bandel oma yang panik langsung ngejar aku dan dorong aku. Ternyata ada mobil yang jalan cukup kencang. Jadi, oma nyelamatin aku tapi karena ini oma malah masuk rumah sakit."


Rama memejamkan mata dan menarik napas dalam. Ia tak berani menatap Annisa. Anak itu menatap jauh pada pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Tak lupa tangannya semakin memeluk erat bantal. Lumayan untuk menyalurkan rasa sakitnya kala mengingat saat itu.


"Pas itu ... opa sama ayah nggak ada yang marah sama sekali. Mereka menganggap ini pure takdir. Tapi tante datang dan tanpa opa sama ayah tau, tante bilang kalau aku ini pembawa sial."


Rama menunduk.


"Karena kelakuan aku, aku udah buat dua orang masuk rumah sakit. Tante kasih tau aku, karena aku bunda Sakilla jadi meninggal. Tante juga nyalahin aku karena keadaan oma waktu itu. Aku beneran di kasih tau kalau aku cuma pembawa hal buruk bagi semua orang."

__ADS_1


Rama menelan saliva. Kerongkongan nya terasa kering dan napasnya ikut tercekat.


"Aku ... dibilang nggak pantas lahir sama tante. Dari situ aku selalu kepikiran hal ini. Dan bayang-bayang tentang bunda yang meninggal karena aku terus juga pas oma dibawa ke rumah sakit pas keadaan berdarah darah."


"..."


"Aku ingat semuanya. Pas oma kesakitan, pas tangan oma yang masih berdarah tapi masih bisa tersenyum sambil pegang pipi aku dan bilang kalau semuanya bakalan baik baik aja. Aku juga masih inget aroma rumah sakit dan itu semua buat aku takut. Gak tau kenapa ..."


Rama tersenyum miris.


"Memang sedikit gak nyambung, tapi memang itu yang terjadi. Selepas tante bilang aku ini anak nggak berguna, aku jadi benci sama diri aku sendiri dan aku nggak suka sama rumah sakit. Sambil janji sama diri aku sendiri biar nggak bawa korban lain lagi ke rumah sakit. Makanya aku selalu kekeuh gak mau ke rumah sakit. Karena rumah sakit sendiri udah buat aku se takut itu. Rumah sakit udah jadi hal buruk yang selalu aku inget."


Annisa menggenggam wajah Rama, membuatnya menatap ia. Karena sejak tadi Rama sengaja mangkir.


Dan benar anak itu langsung menangis begitu menatap mata Annisa. Hati orang tua mana yang nggak sakit pas tau ada anak yang ternyata selama ini menyimpan rasa sakitnya yang begitu dalam.


"Ada yang tau masalah ini?" tanya Annisa khawatir. "Ayah Bram tau kan kalau kamu di jahatin sama tante kamu itu? Tante yang mana sih? mamah pernah lihat dia enggak? atau mamah kenal gak sama dia?"


Rama yang menggeleng membuat tubuh perempuan itu jadi lemas bukan main.


"Nak ... kenapa ayahmu bisa gak tau? jadi selama ini kamu pendam sendiri hal menyakitkan ini? ya ampun nak. Terus kan tadi kamu bilang karena masalah ini kamu jadi takut rumah sakit. Terus yang ayah tau kamu alasan takut rumah sakit tuh apa? kalau ayah kamu memang gak tau masalah tante ini?"


"Ayah cuma tau aku ngerasa bersalah sama oma dan takut lihat darah. Cuma karena itu."


Annisa menggelang. Ia mengusap tengkuknya, sedikit kesal sama suaminya yang masih bisa santai sama hal sepenting ini.


Nanti setelah bertemu Bram, dia harus cerita masalah ini saka suaminya dan memberi tahu kalau suaminya harus tau hal sepenting ini.


Dan ... berusaha membuat Bram perhatian sama anaknya sendiri. Supaya Bram bisa tau sama masalah seperti ini.

__ADS_1


"Aku beneran nggak masalah kok, mah. Tante juga habis dari itu nggak pernah keliatan lagi dan tante ini memang tante jauh gitu loh, mah. Jadi aku sedikit bersyukur karena ini. Karena habis itu aku nggak pernah dengar kabarnya dan kalau bisa nggak akan pernah ketemu lagi."


"Tetap saja nak ..."


'..."


"Berapa lama kamu pendam masalah ini sendiri? berapa lama kamu ngerasa sakit karena omongan tante kamu itu. Ya ampun, mamah beneran marah banget. Nak ... kamu gak apa-apa kan? jangan pernah ngerasa seperti yang di omongin tante itu."


Rama mengangguk.


"Semua ini udah takdir. Karena kepergian mamah waktu itu. Aku juga jadi takut banyak hal, mah. Aku udah bergantung hidup sama mamah. Aku sedih banget pas tau mamah pergi. Jadi, aku harap mamah nggak akan pernah pergi ninggalin aku. Mamah janji ya. Mamah jangan pernah pergi ninggalin aku, karena aku sedih banget ..."


Degh!


Jantung Annisa berasa dihantam dengan benda luar biasa berat karena omongan Rama.


Ternyata dirinya salah satu orang yang menambah trauma untuk anak itu.


"Mah ... jangan pernah pergi lagi ya. Aku beneran takut. Apa lagi tadi mamah sama ayah pergi. Aku takut kalau kalian pergi ninggalin aku. Kalau memang mau pergi, kasih tau Rama aja. Jangan pergi tiba-tiba kayak tadi. Aku beneran takut."


"Ya ampun nak ..."


Hati Annisa menangis. Wajahnya memang keliatan tenang, tidak mau Rama ikut sedih karena dirinya yang juga sedih. Ia berusaha tersenyum tipis sambil memandang wajah anaknya.


"Aku sayang banget sama mamah dan ayah. Kalian hidup aku, kalau nggak ada kalian aku harus hidup sama siapa? hidup Rama bakalan hancur kalau memang nggak ada mamah dan ayah. Jadi ... jangan pernah ninggalin aku di sini," ucap Rama dengan nada memohon.


"Nak ... mamah boleh kasih tau hal menyakitkan tapi ini fakta yang harus kamu terima."


"Hah?"

__ADS_1


__ADS_2