Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tamparan Maut


__ADS_3

Begitu mendapat alamat yang dimaksud, Bram langsung saja membawa Rama ke stasiun terdekat dan memilih untuk pergi saat itu juga. Ia sudah menyuruh asistennya untuk menyewa mobil di stasiun dituju supaya nanti ia tidak perlu pusing lagi akan kendaraan yang harus ia gunakan.


Butuh waktu hampir sepuluh jam selama di perjalanan dan selama itu Rama terus memastikan dan bertanya pada Bram. Apa ayahnya memang benar dan nggak sedang berbohong. Tapi Bram yang sedang excited hanya memilih mengangguk saja tanpa menjawab sama sekali.


"Beneran di sini?" tanya Bram begitu tiba di stasiun yang dituju.


Rama memilih diam, bingung harus menjawab apa dan memilih menatap ke sekitar. Di mana stasiunnya begitu berbeda dengan stasiun di tempat tinggalnya.


Anak itu memilih melipir, menarik baju sang ayah untuk jalan lebih minggir supaya tidak menabrak orang yang berlalu lalang. Bram yang sedang fokus dengan ponselnya hanya mengikuti suruhan sang anak.


Fokusnya lebih tertuju ke ponselnya, sampai ia berhasil menelepon seseorang dan tak lama mereka dijemput dengan seorang laki-laki yang Rama tak kenal.


Anak itu hanya mengikuti ke mana langkah mereka pergi. Sambil berharap sang ayah tidak berbohong lagi. Berharap supaya mereka memang mau mengunjungi sang mamah yang sudah ia rindukan dari lama.


Kini mereka masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Benar ada istri saya di sana? lalu kamu sudah berusaha untuk menghubungi keluarganya?" tanya Bram pada orang yang menyetir itu.


"Maaf sekali tuan, saya belum bisa berbicara sama mereka. Karena saya takut kalah mereka malah membawa nona Annisa pergi jauh setelah saya dekati dan bertanya tentang ini itu. Tuan sendiri yang bilang kan kalah kita harus hati-hati? jadi saya nggak mau gegabah dengan mendekati mereka. Yang penting mereka aman dan nggak akan pergi dari sini."


Bram mengangguk setuju.


Maklum saja ia sedang pusing dengan berbagai hal yang datang di hidupnya. Yang mana membuat dia terkadang jadi terkesan ceroboh bahkan melakukan suatu hal tanpa mikir jangka panjang ke depannya seperti apa.


"Ya sudah, kalau begitu .. tuan mau di antar ke penginapan terlebih dahulu atau bagaimana? soalnya ini juga sudah malam. Tidak enak berkunjung ke rumah sakit pas malam hari."


Bram menoleh ke Rama. Meminta argumen anak itu.


"Ya sudah kalau begitu ke penginapan dulu saja. Sepertinya anak saya sudah lelah dan kalau di paksa juga malahan tak kondusif. Yang penting Annisa aman kan? dia nggak akan ke mana-mana?"


Orang itu mengangguk. "Tuan tenang saja ... saya akan pastikan nona Annisa masih di rumah sakit dan nggak akan ke mana-mana. Saya juga berjanji untuk mempertemukan tuan esok hari."

__ADS_1


"Baiklah, Terima kasih sebelumnya."


***


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Tapi Bram sudah rapih dengan kemejanya. Ia sengaja meninggalkan Rama di penginapan dengan orang suruhannya. Ia hanya mau memastikan bertemu sama Annisa tanpa mengajak Rama terlebih dahulu.


Dengan mobil milik pegawainya, ia langsung menuju ke rumah sakit yang tak jauh dari penginapannya berada.


Begitu tiba, ia langsung mendatangi kamar inap yang sudah disebutkan oleh pegawainya.


"Saya pasti bisa!" ucapnya sebelum mengetuk pintu.


"Siapa?" Perempuan yang cukup berumur membuka pintu dan menatap bingung pada Bram. "Siapa ya?"


"Saya Bram, apa benar ini kamar inap Annisa?"

__ADS_1


Plak! bukannya mendapat jawaban, Bram malah mendapat sebuah tamparan di pipinya. Ia memegang pipinya yang nyeri dan menatap bingung pada perempuan seumuran ibunya itu.


"Jadi ini suami yang nggak bertanggung jawab dan bisanya hanya menyakiti hati istri saja?!"


__ADS_2