Istri Dadakan

Istri Dadakan
Trauma?


__ADS_3

Annisa dan Bram hanya saling melirik, menatap penuh misterius yang mana membuat ibu Dini semakin curiga. Tapi ibu Dini tidak banyak tanya lagi karena takut waktu istirahat mereka akan terbuang karena dirinya saja.


Mereka memutuskan untuk ke rumah besar itu dan kembali beristirahat setelah perjalanan cukup panjang.


***


Waktu sudah menunjukkan malam hari dan Bram sama Annisa memutuskan untuk bersantai di ruang tamu. Bram sengaja duduk biasa dengan Annisa menyender di dada bidangnya, tubuh perempuan itu sedikit miring dengan kaki yang sengaja di luruskan di sofa.


Rama sedang ada di rumah ibu Dini. Mengingat Ibu Dini yang berjanji akan membuatkan makanan cukup banyak untuk mereka. Awalnya Annisa menolak Rama untuk ikut ke sana. Karena takut kalau Rama hanya mengacau saja. Tapi ibu Dini malah memaksa. Dia mau ada yang menemani, jadi lah sekarang Rama ada di rumah ibu Dini.


"Kamu ada keluhan sesuatu nggak?" tanya Bram sambil memijat lengan Annisa perlahan. "Mas mau belajar jadi suami yang sigap buat kamu. Jadi, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan buat bilang sama mas."


"Hmm ... aku sedikit takut deh mas."


"Takut kenapa?"


Annisa menarik napas dalam.

__ADS_1


"Dari kecil aku nggak pernah dapat kasih sayang yang utuh dari orang tua aku. Karena itu, ngebuat aku gak tau gimana caranya jadi orang tua yang baik buat anak. Aku takut ..."


Annisa mengulum bibirnya.


"Kamu pernah dengar kan kalau buah nggak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya? dan itu yang aku takut kan selama ini. Gimana ... kalau aku benci sama orang tua aku tapi nanti, nanti ya mas ... aku nggak sadar kalah sikap aku bakalan kayak orang tua aku? aku nggak mau. Aku beneran nggak mau anak aku ngerasain apa yang aku rasain."


Annisa memandang cemas pada Bram.


Ia menurunkan kakinya dan duduk tegak di kursi. Tangannya menyatu, tanda ia benar-benar sangat bingung dan gugup.


"Dari dulu selalu hal ini aja yang aku takutkan. Aku takut nikah karena ngeliat pernikahan orang tua aku yang kayak gini. Kadang ibu sama bapak tuh hidup masing-masing begitu juga aku dan kakak. Nggak ada kata keluarga hangat di antara kamu." Kini ia tersenyum tipis. "Tapi satu ketakutan itu menghilang karena aku ketemu sama kamu. Kamu buat aku ngerasa pernikahan itu bahagia banget."


Annisa menunduk. Tangannya terulur mengelus perutnya yang rata.


"Aku takut kalau gagal jadi seorang ibu untuk anak kita. Aku takut dengan sikap dan pengetahuan aku yang terbatas gini malah membuat anak aku trauma. Aku beneran takut," jujur Annisa pada akhirnya.


"HEI!"

__ADS_1


Bram berbalik dan berlutut di hadapan Annisa. Wajahnya sedikit mendongak untuk menatap mata Annisa.


"Buat apa memikirkan hal yang belum terjadi?"


Annisa tertegun.


"Kamu takut? tapi kenyataannya kamu berhasil mendidik Rama menjadi anak yang baik. Kamu beneran bisa lewatin ini semua dengan baik. Lagi pula ... merawat anak bukan tentang kamu sendiri. Tapi juga mas."


Bram mengusap bahu Annisa, berusaha untuk menenangkan wanita itu.


"Buat apa kamu takut kalau mas akan selalu ada di samping kamu? nggak usah takut. Beneran deh. Mas janji bakalan selalu ada buat kamu. Kamu nggak perlu takut lagi. Lupain semua ketakutan itu dan mari berdiri berdampingan sama mas. Karena mas akan selalu ada di sisi kamu."


Tangan Bram bersiap menerima tangan Annisa.


"Hayuk."


Pada akhirnya Annisa menerima genggaman Bram dan berakhir mengangguk.

__ADS_1


"Nah gitu dong ... nggak usah memikirkan hal yang belum terjadi ya."


"Eh ada apa ini?" seruan Ibu Dini yang tiba-tiba datang membuat Bram dan Annisa saling melirik dan tertawa puas.


__ADS_2