Istri Dadakan

Istri Dadakan
Duka


__ADS_3

"Dari tadi mas cuma takut kalau respon kamu buruk, tapi ternyata respon kamu baik banget. Jadi, sepertinya setelah pulang dari sini kita akan nginep di hotel sekitaran sini dan besok pagi baru deh kita temuin Sakilla. Karena mas mau masalah ini cepet selesai."


Bram mengusap rambut Annisa.


"Tapi mas mikirin kamu, memangnya kamu nggak masalah kalau kita langsung sat set gini? Apa lagi suasana hati kamu juga lagi nggak nentu gini kan?"


Annisa memegang tangan Bram dan menggeleng.


"Aku juga mau masalah ini cepet selesai mas, jadi nggak masalah kalau kamu mau buru-buru buat selesaikan ini."


Bram tersenyum tipis, mengacak rambut Annisa. Begitu sayang dirinya sama Annisa yang selalu berpikir dewasa dan mengerti apa pun yang dia pilih. Dalam hati laki-laki itu berjanji akan membahagiakan Annisa dan nggak akan pernah membuat tangisan keluar dari mata perempuan itu.


Sedang asyik menatap satu sama lain, sebuah motor mendatangi mereka. Bram sigap membawa istrinya mendatangi orang yang baru turun dari motor itu.


"Bagaimana?" tanya Bram


"Maaf Pak saya sedikit telat." Bram mengangguk dan memakluminya. "Oh iya ... bapak mau langsung di antar ke makam almarhumah atau mau nanya sesuatu dulu?" tanya orang itu


"Apa kakak saya di makamkan dengan layak?" Bram dan laki-laki tadi langsung menoleh ke arah Annisa yang natap dengan penuh harap. Sampai Annisa sadar sedang di tatap membuatnya hanya bisa menarik napas dalam.

__ADS_1


"..."


"Maaf kalau aku nggak sopan, mas. Tapi dari kemarin ini salah satu yang buat aku penasaran sekaligus takut. Aku takut kalau kakak nggak di makamkan dengan layak. Apa lagi di sini nggak ada keluarga kakak yang bisa bantu ini itu. Kakak cuma sendiri. Aku nggak mau kalau kakak di abaikan gitu aja. Aku takut, kakak sedih di atas sana."


"Iya Annisa, mas paham sama kekhawatiran kamu. Nggak usah khawatir." Bram menatap pegawainya itu. "Jawab aja Tono pertanyaan istri saya."


"Ah iya ... ibu nggak usah khawatir, almarhum di makamkan dengan sangat baik. Banyak orang yang datang. Karena dari informasi yang saya dapatkan, kalau almarhumah di kenal baik di lingkungan sini. Jadi terlepas dari masalah itu, almarhumah di makamkan dengan sangat layak dan ada pengajian juga yang mengiring selama satu minggu."


Annisa bersyukur dalam hati.


Annisa tahu kakaknya sudah melewati jalan yang salah. Tapi dia berharap kalau Tuhan mengampunkan semua kesalahan yang kakaknya perbuat. Ia juga mau kakaknya bahagia dan tenang di atas sana.


Bram beralih menatap Annisa dan istrinya itu menggeleng, nggak ada lagi yang mau di tanyakan. Pikirannya sekarang terus tertuju ke makam sang kakak yang entah ada di mana.


"Kalau begitu, mari saya antar ke makam almarhumah."


Bram melipir ke mobil dan membuka pintu belakang.


"Mom ... ini Bram sama Annisa mau langsung ke sana. Tadi nya Bram mau kalian juga ikut ke sana tapi ada Rama," ucap Bram sambil melirik anaknya yang balik menatapnya.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa kok yah," balas Rama yang sadar kalau ayahnya itu lagi khawatir. "Ayah kan tau, aku sering ke makam kayak gini. Dulu pas ayah sering bawa aku ke makam bunda—


"Nggak usah sebut orang itu lagi!" seru Bram mengejutkan Rama


"BRAM!" balas sang mommy yang langsung memangku cucunya itu. "Kebiasaan, yang salah itu istri kamu. Kalau marah ya sama dia, jangan sama anak kamu yang nggak tau apa-apa kayak gini," nasihatnya


Bram menghembuskan napas kasar dan mengusap pipi Rama, tanda maaf sama anak itu.


"Maafin ayah ya nak," ucapnya singkat lalu beralih ke orang tuanya lagi. "Bram tau kalau Rama sering ke makam, tapi mom sama dad tau kondisinya di sini lagi nggak baik. Apa lagi Annisa, pasti nanti dia terpukul banget pas udah di sana. Jadi aku nggak mau kalau Rama liat sisi sedih mamah nya."


Orang tuanya itu mengangguk.


"Jadi nggak apa-apa kan kalau Bram aja yang ke sana sama Annisa? nanti kalau kita udah selesai di sana. Gantian mom sama dad yang ke sana, tapi sama aku. Nggak apa-apa kan?"


Kedua orang tuanya itu beralih menatap cucunya yang hanya bisa menatap pasrah. Sedih tapi mau bagaimana lagi? Ini demi kebaikan Rama sendiri. Mau tidak mau mom dan dad mengangguk.


"Ya sudah ... santai aja di sana, kami nggak buru-buru dan titip Annisa. Pasti dia terpukul banget. Mom nggak mau dia sedih banget lagi," ucap mom Chika yang di anggun Bram


"Aku sama Annisa pamit ya."

__ADS_1


Bram balik menuju Annisa dan merangkul pinggang istrinya, "yuk kita ke sana," ajaknya


__ADS_2