
Cukup lama Rama hanya diam melamun, dengan perasaannya yang tak menentu. Ia menatap fokus satu ke arah dengan pikirannya yang terbang ke mana-mana. Tak terasa waktu berjalan cukup lama, sampai seseorang masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuan anak itu.
Bram terdiam untuk sesaat, “eh kenapa?” gumamnya pelan saat melihat Rama menarik napas dalam, “Rama?” panggilnya membuat Rama menoleh dan mengusap air matanya yang turun.
“Eh ayah?” serunya yang kaget. “Ayah kapan masuknya?”
Bram menghampiri Rama dan menarik sebuah kursi lalu duduk di depan anaknya. Dia menatap serius Rama yang sudah menunduk.
“Jangan alihin omongan,” ucap Bram. “Kamu habis nangis? Kenapa nangis? Ada yang buat kamu sedih. Bukannya dari tadi kamu lagi tidur. Kamu mimpi buruk?”
Rama menggeleng.
“Terus kenapa nangis?” Bram mengangkat tubuh Rama dan memangkunya. “Apa— kamu,” ucapan Rama terhenti dan dia menatap terkejut. “Kamu dengar semuanya yang ayah omongin di depan tadi?” anggukan Rama membuat Bram menepuk wajahnya dan mengusap kasar, “nak ...”
Rama menunduk, “ayah ...”
Bram merutuki dirinya sendiri. Kenapa mereka nggak hati-hati padahal mereka masih satu ruangan sama anaknya itu. Ya ampun, kini dia nggak tahu apa yang harus di lakuin. Bram mengangkat tubuh anaknya lagi, menaruh Rama duduk di kursinya lalu ia berlutut di depan Rama.
“Apa yang kamu dengar aja tadi?”
“Tapi mamah ...” Rama seolah mengingatkan Bram
Bram berdiri dan menghampiri pintu keluar. Kepalanya sedikit melongok keluar, aman. Bram kembali menutup pintu kamarnya dan mengunci dari dalam. Kembali menghampiri Rama yang masih menunduk itu.
“Sekarang kamu ceritain semuanya, mamah lagi di depan. Mamah Annisa nggak bisa masuk, kamu kasih tau ya kenapa kamu bisa sampai nangis kayak tadi.”
“Ayah ... aku apa nggak bisa ketemu sama bunda ya?” tanya Rama dengan cepat. “Tadi ayah bilang kalau ayah nggak akan biarin bunda ketemu sama aku. Memangnya kenapa? Aku mau ketemu sama bunda. Banyak pertanyaan yang mau aku tanya ke bunda. Termasuk pertanyaan kenapa bunda ninnggalin aku sama ayah. Tapi ... dari omongan ayah sama mamah tadi, aku kayaknya nggak bisa ketemu ya sama bunda?” ucapnya
“....”
“Aku kan taunya kalau bunda tuh udah meninggal,” ingat Rama yang diangguki sama Bram
“Ayah juga ngomong gitu kan?” Bram mengangguk. “Tapi kenapa sekarang tiba-tiba ayah ngomong kalau bunda ada di sini?”
Rama memijat keningnya.
“Aku tuh sebenarnya masih nggak paham. Aku bingung, katanya bunda meninggal tapi ternyata bunda masih ada. Terus kalau memang bunda ada kenapa bunda nggak pernah ada di dekat aku pas kecil? Kalau pun bunda meninggal, kenapa ayah bilang bunda masih ada. Terus kenapa dulu ayah keliatan sayang baget sama bunda dan selalu cerita ke aku kalau bunda tuh perempuan yang baik dan sayang banget sama aku. Tapi tiba-tiba ayah selalu marah sama aku pas bahas bunda dan bilang kalau bunda ini bukan perempuan baik.”
Rama berkacak pinggang dengan mulutnya yang masih manyun.
“Kalau bunda masih ada kenapa ayah juga larang aku buat ketemu sama bunda. Ayah jelasin dong, biar aku nggak bingung.”
Rama tetaplah anak, anak berusiasa empat tahun yang ingin tau banyak hal.
__ADS_1
“Ayah boleh jawab?”
Rama mengangguk, memang itu yang dia mau kan?
“Kalau ayah jelasin juga, ayah nggak tau kamu bakal ngerti atau nggak. Ini masalah orang dewasa yang rumit. Ayah nggak tau kamu bisa memahami ini semua atau enggak.”
Rama semakin manyun. “Ayah jelasin aja, urusan aku ngerti atau enggak tuh ya urusan belakangan. Tapi ya aku mau tau,” rengeknya
Bram mengacak rambut Rama, semakin jelas kalau Rama cuman anak kecil yang masih terus merengek pada hal yang serius kayak gini.
Bram duduk di pinggiran kasur dan mengambil tangan anaknya. Dibukanya telapak tangan Rama, sembari melukiskan acak di lengan Rama dengan telunjuk Bram mulai menjelaskan.
“Ayah nggak mau munafik kalau bunda kamu itu perempuan yang baik. Dia sangat baik. Maaf karena ayah yang sempat jahatin dan ngomongin hal buruk tentang bunda kamu.”
Rama mengangguk.
“Sampai akhirnya kamu hadir di tengah hidup bunda sama ayah. Kami bahagia banget, karena akhirnya kamu yang ditunggu ada. Tapi ... setelah kamu lahir, tiba-tiba bunda Sakilla drop dan dikabarin meninggal. Waktu itu kita semua lagi sibuk karena hadirnya kamu sampai nggak sempat ketemu sama rupa bunda Sakilla yang udah meninggal. Ayah cuman lihat bunda kamu yang udah ada di peti dan sayangnya peti itu nggak boleh dibuka sama dokter.”
Rama mengerjap.
Dia pernah baca ini!
“Ayah,” sela Rama. Ia menoleh dan merengek, lupa kalau mereka lagi nggak ada di rumah. “Ih aku pernah baca, bukunya ada di rumah kok.”
“Ayah pernah beliin buka tentang berbagai adat yang menguburi orang dengan cara berbeda. Terus ada satu halaman yang jelasin kalau peti itu dipakai sama orang yang kecelakaan? Pokok nya yang badannya itu nggak utuh. Benar nggak sih?”
Bram mengangguk.
“Tapi kok ayah bilang kalau bunda ada di peti? Memangnya bunda kenapa? Terus ... berarti benar ya kalau bunda meninggal karena aku lahir di dunia ini?” ucapnya cemberut.
“Hei ... kok sedih sih? Dengarin dulu dong cerita ayah. Jangan langsung di sela kayak tadi.” Rama mengangguk. “Dan benar kok omongan kamu yang tadi, kalau biasanya peti itu di pakai sama orang yang kecelakaan. Tapi ayah nggak paham, kenapa waktu itu ayah nggak nanya-nanya dan main iya-iya aja dokter yang ngurus bunda kamu itu. Sampai bunda kamu itu di kubur ayah tuh nggak pernah lihat wujud bunda kamu.”
“....”
“Ayah taunya ya bunda kamu ini udah meninggal.”
“Terus?”
“Singkat cerita akhirnya ayah tau selama ini bunda kamu itu malsuin kematiannya. Bunda kamu nggak meninggal, melainkan pergi ninggalin kamu sama ayah.”
Rama yang mendengar sangat syok sampai menutup mulutnya.
“Ya gitu ... makanya ayah waktu itu kelepasan dan malah marah sama kamu. Ayah beneran marah sama bunda kamu. Karena ngerasa udah di tipu habis-habisan. Karena pada kenyataan nya bunda kamu itu nggak pernah pergi ninggalin kita. Melainkan emang bunda kamu mentingin dirinya sendiri dan akhirnya ngorbanin kita. Makanya ... ayah ngomong yang macam-macam sama kamu. Ayah ngomong kalau bunda kamu itu jahat lah. Karena ya ayah udah kecewa banget sama bunda kamu itu.”
__ADS_1
“Ayah—
Bram langsung mengusap lengan Rama dan mengangguk, seolah mengatakan kalau semuanya baik-baik saja jadi Rama nggak usah khawatir.
“Tapi yah—
“Semuanya udah berlalu sayang, nggak usah di pikirin lagi ya. Kan kamu sendiri yang mau ayah jelasin. Sekarang kenapa malah kayak gini? Nggak mau lah, ayah nggak mau lanjutin kalau kamu nanti malah nangis dan kepikiran sama masalah ini.”
Rama cemberut dan menggoyangkan lengan Bram.
“Iya deh, nggak bakalan marah lagi. Ayah lanjut lagi, aku penasaran banget nih.”
Bram terkekeh.
“Pokoknya singkat cerita tadi ayah ketemu sama bunda kamu.”
Rama terkesiap.
“Benar ... dan di sini entah kenapa tiba-tiba bunda kamu ngomong tentang kamu. Nah ayah nggak bisa begini lah. Ayah marah lah. Kenapa dulu bunda kamu main pergi aja, tapi sekarang malah nanyain kamu? Ayah nggak mau sama sekali. Kamu cuman punya ayah selamanya itu.”
Rama mengangguk.
“Aku cuman punya ayah sama mamah kok.”
“Ayah takut ... takut nanti bunda kamu malah ngelakuin berbagai cara untuk ketemu kamu. Ayah nggak ikhlas karena dulu aja pas pergi dia nggak mikirin kamu sama sekali. Kenapa sekarang malah nanya kamu? Nggak ... kamu nggak apa-apa ya kalau nggak ketemu sama bunda kamu.”
Bram memegang bahu anaknya itu.
“Kamu cuman punya ayah sama mamah, bukan yang lain. Sungguh ayah nggak rela kalau kamu ketemu sama orang yang udah ninggalin kita.
Rama mencerna semuanya.
Rasa sedihnya seketika menguap dan dia sadar kalau dirinya nggak boleh egois lagi.
Dengan keyakinan kuat, Rama mengangguk.
“Ayah tenang aja, selamanya aku cuman punya ayah sama mamah aja. Karena cuman kalian aja yang selalu ada buat aku. Cuma ayah sama mamah aja yang buat aku tenang bukan bunda yang udah ninggalin aku dari kecil.”
“Maafin ayah sama mamah ya belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. Maaf kalau keputusan ayah ini buat kamu kecewa dan ayah yang udah egois kayak gini.” Bram memeluk Rama dan mulai menitikkan air mata.
“Jangan ayah, jangan nangis ya?”
Tangan kekar Bram berusaha menghapus air mata yang turun dari kedua mata indah anaknya, menyikap poni yang menutupi penglihatan anaknya, lalu ia tersenyum kecil.
__ADS_1
Jagoan kecilnya ... sudah tumbuh sangat besar. Sudah bisa memutuskan hal penting.