
“Tentang yang tadi pagi loh, mas ...”
Bram terdiam, “ah ... masih oke kan kalau kita bahasnya nanti malem? Maksudnya mas kan lagi kerja, takut jadinya kepikiran. Gak apa-apa kan?” tanya Bram selembut mungkin. Laki-laki itu tahu kalau istrinya lagi super sensitif, jadi apa-apa harus dibicarakan dengan sangat lembut supaya ego Annisa nggak kena dan mereka nggak bertengkar untuk hal remeh sekali pun.
“Hmm ... ya udah deh, mas kerja aja dulu. Maaf ya kalau aku ngerepotin mas, maaf kalau aku udah ganggu waktu kerja mas. Maaf ya mas,” gumam Annisa yang jadi mellow
Bram menarik napas dan tersenyum tipis.
“Bukan gitu sayang ... mas nggak masalah kamu direpotin gimana juga. Mas juga nggak merasa kamu ganggu waktu kerja mas. Pokoknya sekali lagi kalau mas denger kamu ngerasa gak enak sama mas atau Rama. Mas beneran marah loh.”
Annisa cemberut dan mengangguk.
“Ya udah sayang, tunggu mas pulang ya ... nanti kita omongin empat mata ya.”
__ADS_1
“Iya mas ...”
***
Rama mengecup pipi Annisa hingga ibu hamil itu terkekeh dan memeluk gemas Rama. Yang dari hari ke hari enggan lepas darinya itu dan semakin posesif pada dirinya.
"Mamah beneran mau nunggu ayah? ini udah jam segini loh," protes Rama dengan merengek. "Mamah tidur aja udah gak usah nunggu ayah. Ayah masih lama kali, ayah juga nggak bisa di hubungin sama sekali."
Rama menunjuk ponselnya. Sedari tadi Bram sama sekali nggak bisa di hubungi yang mana mampu membuat Annisa cemas bukan main sekaligus bingung karena suaminya itu berjanji nggak akan pulang malam karena mau bicara empat mata sama dirinya.
Annisa mengalihkan pandangan dan menatap langsung anaknya.
"Udah kamu tidur aja, besok sekolah kan? dari pada malah nggak bisa tidur atau besok ngantuk di sekolah. Udah sana, mamah cuma mau nunggu ayah kamu sampai datang aja kok. Udah ... nggak usah mikirin mamah."
__ADS_1
Rama menggeleng. Ia berkacak pinggang dan menatap kesal pada teleponnya yang masih nggak bisa di hubungi sama sekali.
"Mah ... ayah selalu ngomong kalau aku yang harus jaga mamah pas ayah lagi nggak ada. Ayah udah nitipin mamah sama aku. Jadi, nurut sama Rama ya ... aku mohon. Mamah masuk aja ke kamar."
Annisa menghela napas dan mengangguk membuat anak itu bersorak.
Annisa berpura-pura tidur sampai melihat Rama pulas di sampingnya. Kini dengan sedikit susah payah, Annisa milih untuk bergegas keluar sembari memasang wajah minta maaf pada sang anak.
"Maafin mamah yang bandel. Tapi mamah mau nunggu ayah kamu di depan. Kalau nunggu di sini yang ada mamah resah bukan main. Jadi mamah minta maaf ya ..."
Annisa keluar diam-diam dari kamar sang anak dan milih turun ke bawah. Ia beranjak turun ke bawah dan menunggu lagi di ruang tamu dengan perasaan tak tenang.
Annisa juga terus berusaha menghubungi Bram tapi sampai saat ini panggilan itu masih belum ada yang menjawab sama sekali.
__ADS_1
"Kamu kemana mas sebenarnya," seru Annisa sambil melihat jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam