Istri Dadakan

Istri Dadakan
Memaksa!


__ADS_3

/Cari hal yang buat hati kamu tenang. Kalau bisa, malam ini kamu jangan dekat sama Annisa dulu. Jangan menambah masalah. Kamu tenangin diri dulu. Masuk ruangan kerja kamu, kunci dari dalam. Kamu cari hal yang buat kamu bahagia. Abaikan semua kesedihan. Besok pagi mom sama dad langsung ke sana. Jangan ke mana-mana dulu! Mom nggak mau kalau kamu yang emosi malah buat semua orang pergi lagi .../


“Iya mom,” pasrah Bram yang sudah tidak bis apa-apa, selain menurut.


Ia mengikuti perkataan mom nya itu. Masuk ke ruangan kerja, mengunci dari dalam dan duduk di kursi kebesarannya. Dipandangnya seluruh isi ruangan, sampai matanya berhenti pada figura poto pas Rama masih bayi. Ser ... rasanya seperti disiram air dingin. Ia lega melihat anaknya yang sampai saat ini masih menjadi alasan dia untuk tenang.


/Sudah lakukan apa yang mom bilang? Kalau di sini masih sore, perkiraan di sana udah malem kan? Kalau bisa semalaman kamu tenangin diri kamu. Oh iya, jangan terus mikirin ini. Buat masalah nambah besar. Cukup tekanin diri kamu, kalau kamu bakalan baik-baik aja. Mustahil kamu nggak bisa melewati hal ini, setelah mom tahu betapa hancurnya kamu pas dulu di tinggal sama Sakilla./


“Iya mom ...”


/Ya sudah ... mom mau urus lebih dulu. Biar sampai lebih cepat di sana. Oh iya, jangan lupa untuk kasih kabar mertua kamu./


Tut ...


Bram terdiam. Benar juga, kenapa dia bisa melupakan mertuanya? Padahal di sini Namira masih anak mereka. Mereka harus tahu kondisi anaknya yang sekarang kan? Nggak peduli sama respon apa yang bakal di terima nantinya.


Bram kembali melihat layar ponselnya, mencari nama mertuanya. Sebelum menelepon, laki-laki itu melirik ke arah jam dinding.

__ADS_1


“Sopan nggak sih kalau nelepon sekarang?”


“Ah bodo amat lah, mereka harus tau sekarang!” serunya dan langsung memutuskan nelepon mertuanya, terdengar sambungan telepon cukup lama. Sampai panggilannya di angkat dari seberang sana.


Bram menarik napas dalam.


“Assalamualaikum, bu ... maaf mengganggu malam-malam, tapi ini cukup penting. Karena saya membawa kabar duka untuk ibu dan keluarga.”


/Kabar duka? Apa maksud kamu ... ini beneran penting kan? Kamu benar-benar ya nduk. Harusnya lihat waktu kalau mau menelepon ibu. Ini sudah larut malam sekali. Harusnya kamu tahu kalau ibu paling nggak suka kalau di ganggu pas lagi tidur kayak gini./


“Maaf sebelumnya, Bu. Di sini saya nggak mau mengatakan panjang lebar. Tapi saya mendapat kabar jika kakak dari Annisa itu meninggal. Yang tak lain itu Namira, anak sulung ibu. Jadi, malam ini saya akan segera mengirim supir untuk menjemput ibu. Perkiraan sampai itu besok pagi. Jadi ibu sama bapak, bisa langsung datang ke sini untuk menenangkan Annisa. Karena sepertinya Annisa benar-benar terpukul sama fakta yang satu ini.”


“Maksud ibu ...”


/Entah kamu sudah tau dari Annisa apa belum. Tapi ibu cuman mau nekanin doang, kalau dia itu mengalami penyimpangan seksual. Yang mana keberadaan dia cuman bikin malu doang. Kalau orang tahu yang sebenarnya, pasti kamu akan di asingin. Idih ... amit-amit. Untung dia milih kabur walau sialnya malah nyisain hutang banyak. Udah lah, kamu nggak perlu ngirim supir. Ibu nggak mau ke sana apalagi datang ke pemakamannya./


“Bu?” kaget Bram. “Saya sudah mendengarnya dari Annisa, tapi Saya rasa sebagai orang tua harusnya terus ada di samping anaknya jika ada masalah kayak gini. Maksudnya, kak Namira memang sudah jalan ke arah yang salah. Tapi bukan berarti orang tuanya bisa menukik dan ikut menghakiminya. Tapi, kita harus terus membimbingnya. Karena orang tua tetaplah tempat seorang anak untuk berpulang.”

__ADS_1


/.../


“Dan di sini kondisinya kak Namira meninggal, bu. Jadi, apa salahnya kalau kita datang dan cukup mendoakan kak Namira? Saya rasa, kak Namira pasti akan sedih kalau di atas sana tahu orang tuanya memperlakukan dia. Kalau keadaannya seperti ini, saya rasa kita harus merelakan sekaligus memaafkan. Dan jangan lupakan mendoakannya.”


/Alah ... kamu nggak akan paham sebelum merasakan. Ibu nggak akan mau sama sekali mendatangi makam anak itu! Yang ada bikin sial saja./


“Terserah ... mau apa kata ibu. Saya akan tetap mengirim supir ke rumah ibu sama bapak. Terserah ibu mau memutuskan seperti apa. Tapi kalau ibu sampai nggak datang, jangan harap tiap bulannya saya akan memberi uang untuk mobil itu. Jadi, keputusan tetap ada di tangan ibu!”


Dengan perasaan kesal, Bram langsung mematikan panggilan tersebut. Ia berdecak dan menggeleng.


“Bisa-bisanya ada orang tua yang kayak gitu,” serunya


***


Sementara itu,


Sebenarnya Annisa sudah terbangun sejak Bram menaruh dia di atas kasur dan kegiatannya sejak tadi hanya melamun. Mengingat semua kenangan bersama sang kakak. Betapa sedihnya hati Annisa saat ini. Ingin rasanya, Annisa menyangkal takdir buruk yang membawanya ini. Ingin rasanya Annisa berharap ini semua mimpi. Namun, sayangnya ini adalah fakta yang harus dia terima selama ini.

__ADS_1


“Kak ... ke mana semua janji yang kakak ucapkan waktu itu? Bahkan kakak belum merealisasikannya sama sekali loh. Tapi, kenapa kakak malah ninggalin aku?”


__ADS_2