Istri Dadakan

Istri Dadakan
Siapa Dia?


__ADS_3

Setelah insiden yang terjadi saat sarapan, sampai membuat Annisa kembali memasak untuk Bram. Kini Annisa harus menyiapkan keperluan laki-laki itu untuk dibawanya ke kantor. Bahkan karena perintah Bram, ini pertama kalinya Annisa memasuki kamar laki-laki itu.


“Masuk saja ... kamu tinggal siapkan kemeja saya doang kok, setelahnya kamu bisa keluar lagi. Selagi kamu nggak berantakin barang yang lain, saya nggak masalah. Juga ... kamu mau menjadi istri yang baik kan? Terus memiliki sebuah keluarga seperti pada umunya? Ini kan yang biasa di lakukan seorang keluarga? Menyiapkan keperluan suaminya.”


“Iya ...”


Annisa terus menyemangati dirinya sendiri. Berusaha yakin kalau dia bisa melewati ini semua. Dengan perasaan gugup dia membuka pintu kamar Bram dan masuk. Begitu membuka pintu, ia langsung menemukan foto pernikahan Brama sama Aqilla yang terpasang di sana. Langkah Annisa terhenti. Ia mencengkram kuat lengannya. Mengingat bagaimana perempuan itu yang udah membuat keluarganya jadi kacau.


“Maaf ... saya belum melepasnya,” ucap Bram sambil keluar dari kamar mandi dan sadar mata Annisa menatap ke satu arah. “Tapi, saya memang nggak ada niatan untuk melepas. Karena cuman dengan itu saja saya merasa Sakilla masih ada di sekeliling saya. Kalau rindu, saya tinggal melihat bingkai itu saja. Jadi, maaf kalau foto itu mengganggu kamu.”


Annisa menarik napas dalam dan mengangguk kecil.


“Ruang gantinya ada di sebelah sana. Kamu bisa bebas pilihkan baju apa saja yang menurut kamu cocok dengan saya.”


Annisa mendatangi rung ganti dan mengambil beberapa setelan lalu membawanya keluar. Untung saja Bram sama sekali nggak protes dan langsung mengambil salah satu setelan dan memakainya.


“Tuan ...


“Panggil saja, mas. Dari awal saya udah nyuruh kamu buat manggil saya mas kan? Pokoknya panggil apa aja yang buat kamu nyaman deh. Asal jangan tuan. Karena saya bukan atasan kamu dan kamu bukan bawahan saya.”


Annisa mengangguk kecil dan meminta maaf.


“Sudah ... jadi, apa yang mau kamu tanyakan ke saya?”


“Tuan beneran udah mencari tahu tentang istri tuan?” tanya Annisa menunduk. “Beneran deh. Aku takut banget kalau selama ini mas anggep aku bohong,” jujur Annisa dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Padahal selama ini aku nggak pernah bohong sama sekali. Bukan ini yang aku mau. Aku cuman ngomong yang sejujurnya dan aku bakalan seneng banget kalau ternyata mas lagi cari tahu semua ini.”

__ADS_1


“Jujur saja ... saya sebelumnya nggak percaya sama kamu.”


Annisa menunduk.


“Memang sih ... kalau bisa dibilang aku ini terkesan bodoh. Karena langsung menuduh ini itu. Padahal seharusnya aku punya bukti dulu sebelum ngomong kayak gini sama kamu.”


“Hmm ...”


“Tapi aku beneran nggak punya banyak bukti. Aku cuman inget muka dan foto aja. Tapi seperti yang kamu bilang kalau di dunia ini kita punya sembilan kembaran. Jadi, beberapa hari terakhir aku nggak berani ngomong apa-apa sama kamu. Karena takut mas nggak percaya juga sama aku dan malah nyalahin aku ...”


“Tapi ...


“Tapi?” sela Annisa


“Tapi ... saya nggak pernah melihat  kebohongan sama sekali dari wajah kamu. Makanya saya mencoba cari tahy dan entah kenapa, semakin dicari tahu saya merasa semua ini ada yang janggal.”


“Hahaha ... iya Annisa. Kamu kok kelihatan takut banget kayak gitu?” tanya Bram membuat Annisa langsung mengangguk. “Lagian kalau dari awal kamu ketahuan bohong, pasti saya udah usir kamu dari sini. Jadi, nggak mungkin deh kamu masih ada di sini setelah saya mencari tahu.”


Annisa mengibaskan tangan di udara.


“Bukan ... kita lewatin omongan yang ini. sekarang aku mau tanya sama mas, apa yang udah mas dapetin sampai mas ngerasa semua ini ada yang janggal? Karena aku juga mau tahu apa yang terjadi di sini. Atau mas malah udah tahu di mana posisi mereka? Eh tapi ... istri mas berarti belum meninggal dong.”


“Itu yang saya bingungkan.” Dengan singkat Bram menceritakan apa yang sudah dia dapatkan termasuk rumah sakit yang kini sudah bangkrut karena menutupi sebuah kematian. “Makanya, saya merasa kalau kematian yang ditutupi ini adalah kematian istri saya. Tapi ... apa yang Sakilla pikirkan untuk melakukan ini? kalau dia memang nggak suka sama saya. Kenapa dia nggak minta cerai baik-baik saja? dan kalau ternyata dia suka sama perempuan. Kenapa dia menikah sama saya?”


Annisa menunduk.

__ADS_1


“Bukankah banyak yang seperti itu?” seru Annisa membuat kening Bram mengernyit. “Apa mas nggak tahu ya? banyak loh yang punya perasaan penyimpang gini. Tapi karena di negara kita masih terkesan salah dan nggak pernah di izinkan, mereka memilih untuk menikah sama lawan jenisnya. Untuk menutupi kekurangannya itu.”


“Iyakah? Saya baru denger ...”


Annisa mengangguk. “Saya sudah tahu lama. Saya mulai mencari tahu saat tahu ternyata kakak saya punya penyimpangan. Sakit rasanya, mereka memaksa kehendak. Padahal Tuhan sudah memberikan perintah yang balik baik. Udah memberikan pasangan laki dan perempuan satu sama lain. Tapi mereka malah melanggar norma.”


“Kamu baik-baik saja?”


Annisa terkekeh dan menggeleng.


“Sampai detik ini saya masih terus terkejut kalau inget hal ini, tapi sudahlah ... kalau mas dengerin cerita saya terus. Yang ada mas malah berangkat kerja.”


“Ah iya ... oh iya, di mana Rama?” tanya Bram yang baru sadar kalau anaknya nggak memanggil dari tadi, seraya mengenakan jas biru dongker yang dipilihkan Annisa.


“Dia lagi main sama tetehnya. Sambil diajarin gitu.”


“Ah iya ... sudah waktunya ya. Kalau begitu, antarkan saya ke depan. Saya mau berangkat ke kantor sekarang.”


“Baik tuan ...”


***


Annisa mendengar suara bel rumahnya. Langsung saja Annisa izin sama Rama yang sedang bermain dengannya. Ia rapihkan pakaiannya dan membuka pintu mansion. Di sana ada seorang perempuan yang sudah cukup berumur berdiri di sana.


Annisa mengerutkan kening. “Maaf ... ibu mencari siapa ya?” tanya Annisa dengan sangat sopan.

__ADS_1


“Kamu yang siapa?” tanya ibu itu. Sambil menatap Annisa lalu melihat dari atas sampai bawah. Bergidik melihat cara berpakaian Annisa yang terlihat sangat kuno. “Ini rumah menantu saya. Biasanya pegawai di sini pada pakai seragam. Tapi kenapa kamu tidak? Sudah ... saya mau ketemu sama Bram. Kamu nggak usah atur saya!”


Annisa melangkah mundur dan membiarkan ibu itu masuk. Dengan perasaan gugup Annisa mengikutinya. Berharap kalau tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


__ADS_2