
Bram memijat keningnya dan beranjak meninggalkan Annisa untuk sesaat. Laki-laki itu berusaha mengontrol ego dan emosinya. Sebagai seorang pria, hal seperti ini yang sangat sulit Bram lakukan.
Dari menikah dengan Sakilla, Bram sudah sangat susah mengontrol emosi kalau sedang marah dan kini bersama Annisa ia harus berusaha untuk menghilangkan sifat buruk nya yang satu ini.
Bram memijat keningnya dan mengangguk.
"Sabar ... jangan emosi, Annisa lagi hamil." Berusaha memperingati dirinya sendiri. "Gak boleh marah, tenang dan dengarkan penjelasan Annisa."
Butuh beberapa waktu untuk Bram bisa menetralisir pikiran nya sebelum ia kembali beranjak ke arah Annisa.
"Jelaskan ..."
***
__ADS_1
"Makanya jadi laki-laki jangan di gedein emosinya dulu. Ini mah belum apa-apa udah langsung marah nggak jelas dan gitu langsung buat istri sedih. Dasar, orang mah mikir dulu bukannya malah kayak gini!"
Bran mencibir pada laki-laki yang baru ia kenal bernama Riga itu.
Jadi,
Tadi Annisa menjelaskan kalau Riga ini merupakan kakak tingkatnya di kampung dulu. Mereka sahabatan sampai Annisa menganggap Riga seperti kakak kandung sendiri dan nggak cuma itu aja, Riga merupakan orang yang sangat berpengaruh di hidup Annisa karena dari awal laki-laki itu selalu membantu Annisa di kala susah.
Mereka sudah lama tidak bertemu dan karena suatu hal, Annisa benar-benar hilang kontak sama Riga. Sudah dari lama Annisa mencari tahu kabar Riga sampai salah satu alasan Annisa ke kota juga untuk mencari Riga.
"Aku mengaku salah mas. Aku juga minta maaf karena sadar tadi tingkah aku kayak bukan seorang istri yang punya suami," sesal Annisa. "Aku nggak bisa bela diri aku sama sekali. Jadi, aku cuma bisa minta maaf sama kamu. Aku janji nggak bakal ngelakuin ini lagi dan Riga sendiri pure aku anggap seperti kakak aku sendiri. Jadi kamu nggak usah khawatir sama sekali."
Bram merangkul Annisa dan mengusap punggung wanita tersebut.
__ADS_1
Dia mengangguk perlahan. "Maafin mas juga karena sudah emosi. Mas nggak maksud kayak begitu. Mas sedikit kaget aja karena lihat kamu meluk laki-laki lain. Hancur hati mas dan mas sedikit panas, makanya mas langsung emosi. Jadi, maafin karena tadi mas malah langsung marah dan diamin kamu kayak tadi. Mas beneran nggak maksud. Mas minta maaf ..."
Annisa menghela napas, lega. Ia peluk erat tubuh suaminya sembari mendusel di leher suaminya. Annisa hirup dalam dalam aroma tubuh Bram yang selalu menjadi favoritnya itu.
Melihat kemesraan mereka membuat laki-laki yang sejak tadi ada di depan mereka tapi seperti nggak dianggap itu hanya bisa mencibir dan mendesis.
"Ini lu harus minta maaf sama gue juga nggak sih?" sela Riga dengan lengannya yang sudah berkacak pinggang. "Ada loh pasalnya untuk perbuatan tidak menyenangkan. Ini tadi lu main nuduh gue loh dan itu semua tanpa bukti. Mana gue dapet sinisan dari lu. Ya elah ..."
Bram mencibir. Masih enggan untuk meminta maaf.
"Mas?" peringat Annisa dengan suara memohon.
"Ini cuma karena istri gue!" ancam Bram dengan matanya yang membola. "Gue minta maaf atas tuduhan tadi!" lanjut Bram dengan sangat terpaksa.
__ADS_1
Tangannya terulur kepada Riga. "BURUAN!"