
Seruan Annisa membuat Bram langsung menoleh dan berlari ke Annisa yang sudah berlutut sambil memegang kakinya.
“Kenapa?”
“Perih,” ucap Annisa sambil sesekali meringis
Bram mengangkat kaki Annisa dan berdecak melihat tancaman beling yang ada di telapak kaki Annisa. Tanpa pikir panjang, Bram langsung menggendong Annisa ala brydal style dan menaruh di sofa. Ia juga memerintah pelayan untuk membersihkan tempat tadi dengan rapih, tidak menyisakan beling seperti tadi lagi.
“Mas,” panggil Annisa
Bram hanya diam dan membuka kotak p3k, laki-laki itu mengobati kaki Annisa dengan sangat lembut. Tapi, perempuan itu terus menatap suaminya. Rasa perih di kakinya tidak sebanding dengan rasa bersalah yang suaminya tunjukkan itu. Karena sejak tadi Annisa melihat Bram yang hanya diam saja, membuat Annisa berpikir kalau Bram masih marah dengannya.
“Mas ... jangan diemin Annisa.”
Pecah pertahanan Annisa, ia menangis membuat Bram kelabakan sendiri.
“Eh ... kenapa nangis.”
“YA AMPUN! Menantu mommy kenapa nangis,” pekik mommy Chika memukul kepala anaknya dengan bantal sofa. Mommy Chika langsung memeluk menantunya dengan sangat erat. “Siapa yang berani marahin kamu. Ya ampun, jangan nangis Annisa.”
“Shhh.” Bram mengusap belakang kepalanya yang cukup sakit setelah mendapa pukulan seperti tadi. “Orang Annisa nangis sendiri, Bram juga nggak tahu kenapa Annisa nangis,” seru Bram terus mengusap belakang kepalanya.
“Nggak ada asap, kalau nggak ada api,” balas mommy Chika. “Menantu mommy nggak mungkin nangis kalau kamu nggak isengin.”
Annisa menunduk.
“Coba jelasin sama mommy,” ucap mommy Chika sambil menangkup wajah menantunya. “Apa yang udah anak mommy lakukan.”
Annisa menggeleng.
“Mas Bram nggak ngapa-ngapain aku,” jujur Annisa membuat Bram langsung mencibir. “Maaf ya mom, mommy salah paham. Aku cuman takut aja kalau mas Bram marah sama aku, makanya aku jadi nangis,” gumam Annisa dengan lirih.
Mommy Chika menarik napas, sedikit paham sama masalah mereka.
“Ya sudah ... Bram tolong tenangin menantu mommy. Biar mommy bikin teh hangat, biar istri kamu lebih tenang.”
Bram mengambil alih posisi tempat duduk mommy Chika. Ia merapihkan rambut Annisa yang sedikit berantakan, menyelipkan di balik telinga perempuan itu. Lalu Bram menghapus genangan air mata di wajah istrinya.
“Kenapa nangis?” tanya Bram dengan pelan.
“Mas Bramnya marah sama aku,” gumam Annisa pelan
Bram memijat lehernya dan merilekskan sejenak tengkuknya yang tegang, “kapan mas marah sama kamu? Mas nggak marah sama kamu. Lagian aneh banget mas kalau marah sama kamu. Nggak penting banget. Yang salah di sini tuh ibu kamu, bukan kamu. Jadi yang patut di salahin tuh ibu kamu. Kalau mau marah juga, mas harusnya marah sama ibu kamu loh, bukan kamu.”
Jantung Annisa semakin berdegup kencang.
“Tapi kan aku anak ibu. Jadi, kamu pantes pantes aja kalau mau marah sama aku. Makanya aku kira kamu marah sama aku,” jujurnya. “Terus ... kalau kamu nggak marah sama aku. Tadi kenapa diem aja? Pas aku panggil juga diem aja. Kamu bohong ya mas, kamu marah kan sama aku?”
__ADS_1
Annisa dengan wajah cemberutnya berhasil membuat Bram terkekeh.
Ia mengacak rambut sang istri dengan sangat lembut.
“Nggak ada yang marah, mas hanya sedikit kesal sama ibu karena benar-benar nggak merasa bersalah gitu,” Bram menghela napas lalu memilih merapihkan obat ke dalam kotak p3k. “Mas diemin kamu tuh karena takut kelepasan dan malah marah sama kamu.”
“...”
“Namanya juga orang emosi, kalau lagi marah pasti ngomongnya jadi kasar dan malah ngomong ke mana-mana,” lanjut Bram. “Jadi, mas milih diam. Tapi, faktanya mas nggak marah sama kamu kok. Udah, mas mau taruh kotak p3k dan ambil laptop terus ke sini lagi. Kamu jangan berani jalan-jalan, mas nggak mau nanti kaki kamu ke napa-napa.”
“Makasih, mas ...”
“Sama-sama, Annisa ...”
Setelah kepergian Bram, Annisa mendengar denting sendok yang beradu dengan gelas. Ia menoleh dan melihat mommy Chika datang sambil membawa segelas teh hangat. Mommy Chika menaruhnya ke atas meja lalu duduk di lantai.
“Eh mom jangan duduk di bawah.”
“Udah kamu diem aja di atas,” titah mommy Chika membuat pergerakan Annisa terhenti. “Ini mommy sekalian mau rapihin meja.”
“Iya mom, makasih ...” Annisa menggenggam gelas dengan kedua lengannya. Rasa hangat menyergap membuat perempuan itu tersenyum bahagia. Ia menyeruput dan terus saja begitu.
“Gimana? Bram nggak akan marah kan?”
Annisa menggumam setuju, “mas Bram memang nggak marah, mom. Tapi tetap aja. Aku tuh nggak enak banget,” ucap Annisa lirih. “Masalahnya ibu aku aja nggak mau minta maaf dan malah sok begitu. Aku nggak enak banget sama mas Bram. Mommy ada saran nggak, aku harus ngelakuin apa biar mas Bram maafin aku?”
Mommy Chika menoleh.
Gelengan kepala membuat mommy Chika berseru. “Kalau kayak gitu, kamu ngapain khawatir? Nggak usah merasa ndak enak sama suami sendiri. Apalagi Bram juga nggak mempermasalahin hal ini.”
“Iya sih ...”
Suasana kembali hening. Annisa sibuk meminum teh hangat dan mommy Chika masih membereskan meja ruang tamu yang sangat berantakan itu. Melihat itu membuat Annisa teringat akan ibunya.
“Mom ... kayaknya ibu tuh nggak ngeberesin kekacauan yang ibu bua deh.”
“Maksud kamu?”
“Ini rumahnya aja berantakan banget,” ucap Annisa sambil mengedarkan pandangan. “Aku beenran nggak enak bange. Baru semalam ibu tinggal di sini, tapi udah banyak kekacauan kayak gini.”
“Nggak usah ndak enak kayak gitu. Maklumin saja ...”
Suara orang yang turun tangga membuat mereka kembali diam. Bram turun ke bawah sambil menggendong Rama.
“Eh ... anak mamah udah bangun,” seru Annisa menerima Rama ke pelukannya
“Mamah kenapa?” tanya Rama yang menyentuh kaki Annisa. “Kok mamah luka? Kapan mamah luka? Rama rasa, tadi belum ada deh.”
__ADS_1
Annisa terkekeh. “Iya, ini baru bange kok.”
“Sekarang tahu kan kalau mamahnya lagi sakit. Jadi khusus hari ini sampai beberapa hari ke depan, kamu nggak boleh repotin mamah Annisa,” titah Bram dengan tegas. “Nggak boleh minta gendong atau nyuruh mamah ini itu. Harus bisa lakuin sendiri, karena mamah lagi sakit. Apa lagi kakinya, nanti malah luka terus kalau kamu nyuruh ini itu.”
“Mas nggak segitunya,” potong Annisa. “Ini nggak sakit sama sekali kok. Aku cuman kaget aja tadi. Tapi sekarang udah mendingan banget, apa lagi udah kamu obatin juga kan?”
Bram tetap menolak membuat mommy Chika yang sudah berdiri sambil membawa tumpukan majalah tertawa.
“Bram sama sifat keras kepalanya nggak akan pernah bisa kamu kalahin,” kasih tahu mom Chika. “Udah kamu terima aja, dia memang posesif banget sama orang yang dia sayang. Jadi, kamu kuat-kuat aja deh sama sifat posesifnya,” ledek mommy Chika lalu beranjak untuk meninggalkan mereka.
“Ya nggak apa-apa dong posesif,” seru Bram dengan cepat. “Bukannya malah bagus? Iya kan Annisa?”
Annisa hanya membalas dengan senyuman dan mengangguk.
***
Annisa terbangun tepat pukul sebelas malam, ia tidur terlalu cepat karena Bram yang memaksa dia untuk istirahat. Padahal kakinya yang sakit, tapi Bram melarang segala hal supaya Annisa nggak melakukan kegiatan apa-apa.
Ia menoleh ke samping dan melihat wajah tampan suaminya.
Lihatlah, hidungnya yang bangir, bibirnya termasuk tipis untuk seukuran laki-laki, gesture tegas wajahnya sangat indah dengan mata terpejam. Jangan lupakan alis tebalnya yang menjadi daya pikat suaminya.
Dengan perlahan Annisa membelai rambut tebal Bram dan mengusapnya lembut.
“Mas ... kita memang baru kenal. Bahkan banyak yang belum aku ketahui dari kamu. Tapi jujur aku udah jatuh cinta banget sama laki-laki yang udah bantu aku banyak banget.”
Annisa tersenyum tipis.
“Mas bener kok waktu itu, kalau aku sebenarnya sayang atau mungkin udah cinta sama kamu?” gumam Annisa. “Maaf kalau kamu taunya aku masih nggak percaya sama kamu. Tapi jujur aja, enggak ada yang kayak gitu. Aku cuman malu, mas ... aku takut kalau ternyata cuman aku yang jatuh cinta sendirian sementara kamu belum cinta sama aku.”
Annisa menarik napas pelan dan tersenyum lembut.
Ia menaruh tangannya di kening Bram dan mengecup lengannya, tidak berani mengecup langsung.
Setelah puas memandangi Bram, Annisa memilih turun ke bawah karena haus yang mendera. Tadi sih Bram menyuruh Annisa untuk membangunkannya kalau butuh sesuatu pas malam. Tapi melihat Bram yang pulas seperti itu, siapa yang tega buat bangunin.
Annisa menggeleng pelan.
“Mas Bram udah kasih bantuin aku banyak hal, apa lagi tadi nyetir juga. Jadi, mas Bram pasti butuh waktu buat istirahat lebih,” gumam Annisa
Dengan langkah tertatih ia keluar kamar. Ditutupnya pintu kamar dengan sangat pelan takut menimbulkan bunyi dan membangunkan Bram.
Kakinya terseok saat menuruni tangga. Sesekali ia meringis merasakan perih di hatinya, karena jujur saja beling yang menancap di kakinya lumayan besar. Lukanya cukup dalam, jadi wajar kalau telapak kakinya masih terasa perih. Apa lagi kakinya selalu menjadi tumpuan tubuhnya kan? Jadi gampang luka. Annisa harus hati-hati.
Setelah sampai di bawah, Annisa menyalakan lampu dan terkejut melihat ibunya yang sedang duduk bersila pada sofa. Di depannya ada kue bolu dan sirup.
“Ibu!” seru Annisa lalu menghampiri ibunya itu dengan cepat.
__ADS_1
“Hmm ... kenapa sih?” paparnya dengan kesal sambil menoleh pada anaknya.
“Apa-apaan ini?!”