Istri Dadakan

Istri Dadakan
Hamil (?)


__ADS_3

"Bude ... ngapain ketuk pintu sih?"


Annisa berbalik dan tertegun melihat laki-laki yang begitu ia rindukan ada di depan pintu. Bertepatan dengan Bram juga yang tak bisa bergerak melihat wajah istrinya yang sudah sangat ia rindukan.


Keduanya tertegun, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Sampai Bram melihat Annisa menitikkan air mata. Laki-laki itu langsung mendekati Annisa dan memeluknya erat. Tak ada penolakan sama sekali dari Annisa membuat Bram semakin memeluk erat dan mengecupi puncak kepala Annisa berulang kali.


"Maaf ... Maaf ... Maaf, maaf mas telat datangnya."


Annisa semakin histeris dan membalas pelukan Bram.


"Kamu jahat," ucapnya mendesis sambil memukul punggung Bram dengan pelan.


Bram mengangguk.


Tanpa sadar Bram yang berusaha kuat sejak tadi kini menunjukkan sisi lemahnya. Ia melepas pelukan dan menangkup wajah Annisa. “Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit? Ada yang jahat sama kamu ya.”


Bram kemudian menggeleng, “enggak ... tapi di sini mas yang udah jahat sama kamu. Mas minta maaf ya tapi mas bisa jujur kalau semua yang kamu tau itu bohong. Semua gak seperti yang kamu kira. Mas beneran nggak pernah berhubungan lagi sama Sakilla. Semunya cuman salah paham doang dan mas datang ke sini untuk jelasin semuanya sama kamu. Kalau semua ini nggak seperti yang kamu kira. Karena mas tetep untuk kamu dan selamanya akan begitu.”


Annisa menghela napas dan melepas pelukan. “Jelaskan,” titahnya


“Hah?” bingung Bram


“Jelaskan maksud kamu itu ...”

__ADS_1


‘Jadi ...


***


Bram benar-benar menceritakan semuanya secara rinci. Bahkan dia juga jujur kalau dirinya memang diam-diam menghubungi Sakilla untuk bertemu dengan Rama. Hal yang sangat membuat Annisa kecewa dan berakhir untuk pergi ini.


“Mas nggak mau bela diri, soalnya mas tau yang salah di sini mas. Mas udah bohongin kamu dan mas malah ngajak Rama buat bohong sama kamu. Mas ngelakuin ini cuman takut kalau kamu sakit hati, karena sungguh mas cuman mau kenalin Rama sama Sakilla. Habis itu beneran nggak ada hubungan selanjutnya lagi. Tapi ternyata ... hal ini malah buat kamu sakit hati. Jadi, mas beneran minta maaf banget sama kamu.”


Annisa menghembuskan napas dalam.


“Sudah lah mas ... kamu udah jelasin semuanya dan aku ngerasa kalau kita cuman kurang ngomong berdua doang. Kita sama-sama salah paham. Aku juga minta maaf sama kamu karena udah main pergi gitu aja, terus aku malah nggak balas-balas pesan kamu. Aku juga minta maaf ya mas.”


Bram seketika lega.


“Ah,” seru Annisa pelan. “Pasti kamu udah dengar ya tentang perbuatn orang tua aku?” tanya Annisa. “Maafin orang tua aku ya mas. Aku beneran nggak menyangka kalau ibu sama bapak berani ngelakuin hal sejauh itu. Aku nggak menyangka kalau mereka tega nipu banyak orang dan limpahin semua masalah ke aku gitu aja. Aku beneran nggak tahu mereka bakalan sejahat itu.”


Bram menggeleng. Ia mengusap rambut sang istri.


“Udah jangan di pikirin lagi, mas udah selesaiin semuanya.”


“Tapi mas,” papar Annisa dengan pelan. “Jumlahnya terlalu besar. Aku beneran nggak enak banget kalau kamu harus lunasin semuanya. Kamu anggap hutang aja ya mas.”


Bram menggeleng.

__ADS_1


“Kita ini suami istri, sayang ... masalah keluarga kamu juga udah jadi masalah bagi mas. Gak usah bayar, cukup ganti dengan kamu yang selalu ada di sisi mas. Mas nggak akan minta yang aneh-aneh, beneran cuman itu aja dan nggak usah mikirin apa-apa lagi. Kita cukup cari orang tua kamu, mas cuman mau mereka bertanggung jawab sama apa yang mereka lakuin.”


Annisa mengangguk.


“Iya mas ... aku juga nggak akan diem aja. Kali ini kelakuan ibu sama bapak udah berlebihan banget dan aku nggak bisa maafin sama sekali. Udah cukup ibu sama bapak ngelakuin hal sesuka mereka. Selebihnya aku nggak bakal maafin mereka.”


Bram membawa lengan Annisa masuk ke genggamannya. Ia usap lengan halus Annisa dengan perasaan penuh kasih sayang.


“Dan satu lagi ... setelah kamu sembuh, mas harap kita kembali ke kampung halaman kamu. Karena mereka mengira kamu kabur dan nggak bertanggung jawab. Mas nggak mau kamu sampai ke napa-napa dan nama kamu jadi di cap buruk sama mereka.”


Annisa tertegun.


“Ah bener juga ... pasti mereka macem-macem ya mas sama kamu. Aku minta maaf banget ya mas. Aku beneran nggak menyangka kalau mereka bakalan sejauh itu lakuin hal begini. Ya ampun ... dari kemaren aku sebenarnya udah mau balik kesana. Soalnya aku udah janji sama mereka. Tapi bude sama pakde nggak ada kasih aku izin sama sekali. Mereka suruh nunggu aku sehat dulu."


Bram mengangguk.


"Ah bentar!" seru Bram sedikit mengejutkan Annisa. "Tadi bude sama pakde bilang kalau mas yang nyebabin kamu masuk rumah sakit terus kenapa mereka protektif banget sama kamu. Karena seneng ketemu sama kamu, mas jadi lupa nanya kabar kamu. Sebenarnya ... kamu sakit apa? kamu baik-baik aja kan?"


Annisa menunduk.


Tangannya membawa lengan Bram mengelus perutnya. Bram menatap was was. Tapi Annisa malah tersenyum tipis dan mengangguk.


"Karena ada janin di dalam sini."

__ADS_1


"HAH?!"


__ADS_2