
Setelah mommy Chika benar-benar pergi, Annisa merasa suasana di rumahnya sangat berbeda. Perempuan yang baru pertama kali mengalami hal seperti ini, mulai takut untuk menghadapi seperti apa. Dirinya benar-benar segan untuk melakukan apa dan pada akhirnya Annisa hanya memilih membersihkan rumah sendiri tanpa berinteraksi sama siapa pun.
"Ya ... mungkin ini yang terbaik kan?" tanya Annisa pada dirinya sendiri.
Annisa kembali membersihkan area dapur setelah meminta pekerja suaminya untuk mengerjakan yang lain. Perempuan itu terus membasuh kain dengan air lalu memeratnya lalu berakhir membasuh sekitaran kompor.
Hingga, Annisa merasakan kehadiran seseorang di belakang tubuhnya. Dengan perlahan ia mau berbalik tapi di tahan sama orang di belakang tubuhnya dan berakhir Annisa merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya buat mata perempuan itu terbelalak.
"Diam dulu Annisa," suara serak suaminya membuat wanita itu langsung terdiam dan berdiri canggung, sembari milih memegang lengan suaminya.
"Mas ..." panggil Annisa pelan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang. "Kamu baik baik aja?"
"Mana ada Annisa ... rasanya mas benar-benar hancur karena udah buat anak mas jadi menjauh sama kita. Maaf ya Annisa," Bram semakin mengeratkan pelukan di tubuh istrinya sembari sesekali menghirup aroma tubuh Annisa yang mulai dia sukai. "Kamu pakai parfum atau sabun apa sih? Kenapa enak banget wanginya ..."
"Eh?"
__ADS_1
"Aku suka aroma tubuh kamu."
"Ah itu ... aku pakai yang biasa kamu beliin kok. Yang udah ada di kamar mandi. Plus aku nggak pernah palai parfum. Toh, buat apa pakai parfum kalau nyatanya aku di rumah kan? Jadi aku nggak pernah ..."
"Nggak pakai parfum aja, wanginya nenangin. Hahhaa ... memang kamu udah paling pas hidup di sisi aku karena bisa nenangin aku dengan aroma tubuh kamu."
Annisa memiringkan wajahnya dan menatap bingung. Ia berbalik, menjadikan tubuhnya berhadapan sama Bram yang masih memegang lengannya itu.
"Mas ... kamu kenapa? Tumben banget kamu kayak gini. Kamu nggak lagi ada masalah kan? Jangan diem aja mas. Aku beneran khawatir sama kamu. Masalahnya, kamu kalau ada masalah tuh suka nyakitin diri kamu sendiri. Walau kita baru mengenal satu sama lain. Tapi aku tahu ... setiap kamu ada masalah. Pasti kamu jarang makan. Terus minum kopi pas pagi, padahal kamu belum sarapan. Kamu habisin waktu kamu di kantor dan pas pulang kantor juga. Kamu itu malah diem di ruang kerja kamu. Kayak ... sengaja banget buat nyari penyakit."
Ternyata walau mereka masih baru, Annisa seperti sudah mengenalnya dari lama.
Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Kamu beneran mengenal mas banyak ya. Buat mas jadi ngerasa nggak enak aja. Tapi ... untuk ke depannya, mas akan lebih berusaha untuk mencari tahu tentang kamu. Apa aja yang kamu suka. Atau yang tidak kamu suka. Pokoknya mas akan mengenal lebih banyak tentang kamu."
__ADS_1
Anniaa tertawa, hingga matanya menyipit dan lesung pipi nya terlihat membuat Bram di buat gemas melihat itu. Pria itu makin sadar kalau Annisa memang secantik itu. Ke mana saja dirinya selama ini? ada bidadari cantik di depannya tapi dia malah nggak peduli.
"Mas?" panggil Annisa sembari memukul pelan lengan suaminya. "Kenapa malah ngelamun? Aku lagi ngomong juga."
"Hah? eh iya ... ke napa Annisa? Maaf tadi mas lagi ngelamun."
Perempuan itu berdecak kesal.
"Itu loh mas ... kan kita belum baikan sama Rama. Ya anggap aja gitu. Karena sampai detik ini Rama belum terbuka banget sama kita dan masih murung. Makanya kamu mau nggak kerja sama? Kita ngapain gitu biar Rama balik kayak dulu lagi."
"Hmm ... enaknya ngapain ya? Karena jujur aja sampai detik ini, mas masih ngerasa nggam enak sama Rama. Bahkan Rama sama sekali nggak mau ngelirik ke arah mas. Mas beneran ngerasa bersalah banget ..."
"Nggak apa-apa, mas. Namanya juga orang emosi kan?" tanya Annisa berusaha menenangkan suaminya itu. "Yang penting mulai sekarang kita tahu kalau Rama itu nyimpan banyak luka di hidupnya. Makanya kita harus hati-hati pas ngomong sama Rama. Jadi ... ayo bersama kita cari jalan keluar buat bikin Rama senyum."
"Iya Annisa ... makasih karena udah berusaha buat ngertiin mas. Mas sayang sama kamu."
__ADS_1