Istri Dadakan

Istri Dadakan
Pernyataan yang Menyakitkan


__ADS_3

Tanpa Rama tahu, ayahnya itu berpura-pura ke kamarnya. Tapi ternyata diam-diam Bram melipir ke area belakang rumahnya dan berjalan memutar lalu berakhir duduk di kursi depan pintu masuk.


Dari tempatnya duduk, Bram memang tidak bisa melihat keberadaan Rama dan memantaunya secara langsung. Jadi, Bram akan memantau ponselnya untuk melihat CCTV. Takut kalau mantan istrinya itu macam-macam sama Rama. Tapi di posisinya sekarang, Bram masih bisa mendengar percakapan mereka. Jadi, Bram tidak perlu terlalu khawatir karena takut Sakilla mengatakan hal macam-macam dan membuat anaknya jadi berpikir yang salah.


Sementara itu,


Rama masih duduk diam dan Sakilla terus nyerocos, membicarakan masa lalu yang sama sekali tidak membuat hati anak itu terbuka.


"Kamu harus tahu kalau dulu ayah kamu sangat sayang sama bunda. Kamu selalu menantikan seorang anak tapi nyatanya Tuhan nggak memberikan kita secepat itu. Bunda sih sedikit sedih. Tapi bunda tahu kalau rencana Tuhan yang seperti ini membuat bunda bisa menghabiskan banyak waktu sama ayah kamu. Jadi, bunda nggak mau terlalu bersedih karena ini."


"..."


"Tapi ... pas tahu kamu hadir di hidup bunda. Bunda beneran bahagia banget—


"Hanya itu?" sela Rama tiba-tiba sambil memeluk bantal sofa supaya tidak terlalu canggung di antara mereka.

__ADS_1


"Maksud kamu?" bingung Sakilla. Menatap lurus mata Rama, berusaha mencari jawaban dari pertanyaan mendadak sang anak kandung.


"Iya ..." kesal Rama. "Perasaan dari tadi cuma itu yang tante bilang. Tante terus cerita pas tante hamil dan betapa senengnya tante waktu itu. Rama bosan dengarnya."


"Ah itu ...".Sakilla menelan saliva. Tidak bisa menjawab apa-apa. Karena memang faktanya dia terus menceritakan hal yang sama berulang kali.


"Oh iya!" Rama berseru pelan. "Kan nggak ada kenangan lain tante sama aku ya?" sindir anak itu disusul tawa kecil. "Ya ... Rama nggak bisa ngomong apa-apa sih. Emang kenyataan nya tante tahu aku pas masih di dalam perut tante doang. Bahkan ayah sendiri yang bilang kalau tante nggak pernah lihat rupa aku. Mungkin baru sekarang tante lihat aku ya?"


Dengan super santai Rama menangkup wajahnya sendiri.


Di depan sana diam-diam Bram berseru. Kaget mendengar anaknya yang sangat savage. Ia tersenyum sinis dan hanya bisa mengangguk. Tidak perlu ragu lagi akan sikap sang anak.


"Kamu kok begitu?"


Rama tertegun dan menunduk.

__ADS_1


"Maaf," lanjutnya membuat Sakilla tersenyum penuh kemenangan.


"Nah begitu dong. Kamu pasti baru sadar kan kalau sikap kamu itu udah berlebihan banget sama bunda? ya sudah ... karena ini pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Bunda bakal maafin kamu. Kamu tenang aja. Hati bunda seluas samudera kok. Jadi, bunda nggak akan marah kok."


"Enggak ..."


Sakilla memiringkan wajahnya.


"Kamu nih ngomongnya yang bener dong. Bunda jadi bingung. Jangan sepotong-sepotong kayak tadi."


Rama menyamankan duduknya dan menarik napas dalam.


"Maksud Rama ... nggak seharusnya tante ngomong begitu. Karena di sini yang salah itu tante! bukan aku."


"Tapi tadi kamu minta maaf!" tuduh Sakilla dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2