Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tiga Bulan Berlalu


__ADS_3

Sudah tiga bulan terlewat dari yang terakhir kali Annisa bertemu dengan Sakilla lalu disusul ia yang bertemu dengan berbagai barang berharga milik kakak nya itu.


Semenjak itu, Annisa benar-benar merasa hidupnya itu bahagia bukan main. Annisa merasa hidupnya berasa jauh lebih plong. Walau sebenarnya satu masalah lagi belum selesai. Yaitu ibu dan bapak nya yang sampai detik ini masih belum bertemu juga.


Tapi mas Bram sendiri yang bilang kalau dirinya nggak usah terlalu memikirkan masalah ini. Karena yang ada buat Annisa jadi lelah saja. Jadi, perempuan itu memilih legowo saja dan memilih untuk membiarkan masalah itu sembari terus berdoa semoga orang tuanya itu cepat ketemu untuk menyelesaikan masalah yang mereka buat sendiri.


Tentang barang yang di dapat dari kakak kandungnya itu.


Bram memberikan satu kamar kosong untuk Annisa dan di kamar tersebut Annisa memasang semua foto milik sang kakak di sana. Setiap hari perempuan itu tidak pernah lupa datang ke kamar itu. Sekedar membersihkan atau menatap foto tersebut. Sembari berdoa supaya kakak nya itu tenang di atas sana.


Barang rajutan yang di dapat juga Annisa susun di atas nakas dalam kamar tersebut.


Rasanya lucu melihat semua barang itu. Barang barang itu juga selalu mengembalikan mood Annisa kalau sedang kurang bagus.


Dan mengenai liontin,


Annisa selalu memakai liontin itu setiap hari. Dia tidak pernah membukanya sama sekali. Annisa merasa liontin itu sebagai penjaga dirinya. Bukan, Annisa tidak menganggap sampai sejauh itu. Tapi,


Terkadang Annisa merasa sang kakak ada di dekat dirinya jika ia memakai liontin tersebut. Ia seolah merasa mendapat pelukan hangat dari sang kakak. Jadi, perempuan itu memang sengaja tidak pernah melepasnya sama sekali.


"Mas ..." panggil Annisa sembari berbalik dari posisi tidur nya yang tadi membelakangi Bram. Annisa sedikit mengeluh kecil sambil memegang perutnya itu. "Menurut kamu uang dari kak Namira di pakai buat apa ya? maksudnya itu kan banyak banget. Kalau di diamin juga sayang banget. Aku mau pakai uang itu buat sesuatu yang berguna."


Bram menurunkan kacamata kerjanya dan menaruh laptop ke meja di samping kasur lalu memberikan atensi penuh pada Annisa.


"Kenapa uang nya nggak kamu pakai aja? kan kak Namira kasih itu ke kamu. Kenapa gak kamu gunain sesuai yang di pinta sama kak Namira?" tanya Bram


Annisa menggeleng.


"Uang itu terlalu banyak mas. Dan uang dari kamu aja udah jauh lebih cukup buat beli semua kebutuhan. Aku gak mau jadi boros. Aku gak mau karena ini malah buat aku lupa diri. Jadi, aku mau cari cara supaya uang itu bisa jauh lebih berguna dan menguntungkan buat aku sama kakak."


Bram termenung untuk sesaat.

__ADS_1


Ia berusaha mencari jalan keluar sampai sebuah ide datang ke benaknya.


"Kenapa nggak kamu kasih ke orang yang kurang mampu aja? bagi bagi uang itu. Kasih ke yang membutuhkan. Dan pas kasih kamu juga bisa sekalian minta doa ke mereka buat ketenangan kakak kamu di atas sana. Gimana? kamu dan kakak kamu jadi sama sama senang kan?"


Bram memberi sebuah ide yang berlian.


"Tiba tiba aja mas inget sama kebiasaan kamu yang suka bagi bagi gitu. Dan kayaknya udah lama banget kamu gak berbagi ke yang membutuhkan. Mungkin karena kamu yang sibuk. Jadi ... sekarang pas banget nih."


"Wah ..." Annisa terkesiap.


Kenapa dia tidak memikirkan hal ini?


"Iya juga ya mas. Kenapa aku nggak mikir dari tadi? ya udah deh kalau gitu. Oh iya." Annisa ingat panti asuhan yang pernah ia lewati di dekat sini. "Kalau gak salah di sekitar sini ada panti asuhan deh mas. Boleh gak kalau aku kasih ke mereka? semenjak ada dedek."


Annisa mengusap perutnya.


"Aku mulai ngerasa sedih kalau ngeliat anak kecil yang gak terurus di luaran sana. Aku ngerasa kalau mereka gak seharusnya dapetin itu semua. Makanya aku jadi ingat mereka pas kamu ngomong gini. Makanya, gimana kalau aku kasih ke anak anak yang kurang mampu aja."


"Seenggaknya, senyuman mereka nanti buat aku senang bukan main. Boleh kan mas?"


Bram terkekeh dan mengangguk. "Ya boleh dong sayang. Memang nya apa sih yang nggak boleh buat kamu? apa lagi ini niat yang sangat mulia. Jadi, mas nggak mungkin deh larang kamu. Nanti kamu list aja, kita beli kebutuhan bareng."


Annisa mengacungkan jempol.


"Ah udah jam segini," seru Bram sambil melirik ke arah jam yang tergantung di dinding. "Mas turun ke bawah dulu. Kamu jangan tidur dulu."


Annisa menyibakan selimut nya.


"Kamu mau buat teh hangat dulu ya mas?" seru Annisa.


Perempuan itu tahu kalau belakangan ini Bram sedikit gak enak kerongkongan nya. Jadi setiap malam Bram meminta minuman hangat pada Annisa. Tapi karena tadi Annisa sempat mengeluh perutnya sakit. Ia jadi tak enak untuk meminta tolong pada istrinya.

__ADS_1


"Mas ih ... aku masih sanggup kok."


"Kalau kaki kamu turun ke bawah. Mas beneran marah banget ya sama kamu," seru Bram membuat Annisa jadi urung menapak kan kaki ke lantai. Ia cemberut menatap suaminya yang tersenyum penuh kemenangan.


"Mas ih, kehamilan aku bukan alasan aku jadi bisa santai kayak gini. Aku juga harus urus kamu sama Rama. Duh, mas aku aja ya." Annisa memandang penuh memohon.


"Enggak Annisa ... ini mas turun juga cuma mau bawa air putih doang kok." Bram menunjukkan cangkir yang kosong di genggaman nya. "Dari pada nanti malam mas atau kamu kebangun karena haus dan harus turun ke bawah. Mending mas bawa sekarang. Udah kamu disitu aja."


Annisa memandang gak enak pada suaminya itu yang udah meninggalkan dirinya.


Annisa duduk menyandar dengan kaki nya yang terselimuti selimut tebal. Annisa menarik napas dalam dan menunduk. Perutnya mulai membuncit.


"Mas Bram sama Rama semakin protektif banget dari hari ke hari nga. Aku gak di bolehin ini lah, aku gak di bolehin itu lah."


Annisa mendengus.


"Aku tau kalau mereka lakuin ini demi kebaikan aku. Tapi kadang kan jadi gak enak sama mereka," seru Annisa.


Sementara di bawah Bram menuang air minum ke teko yang dimaksud. Lalu ia menghampiri almari dan mengeluarkan susu ibu hamil milik Annisa. Ia tersenyum tipis sembari menggeleng.


"Ini Annisa kebiasaan banget gak minum susu sebelum tidur," ucap Bram sambil menunggu air matang. "Tapi kayak nya aku harus cari susu merek dan rasa lain deh."


Masih teringat jelas di benak Bram, setiap Annisa minum susu ibu hamil. Pasti perempuan itu sambil menahan mau muntah. Jadi, Bram sedikit tidak tega. Terkadang juga Annisa sengaja tidak mengingatkan Bram untuk minum.


"Pasti sekarang dia ngerasa seneng karena nggak minum susu deh. Dari tadi gak kasih tau aku sama sekali. Padahal mah kita inget ya." Bram terkekeh


setelah air matang ia menuang ke dalam gelas dan langsung mengaduknya. Begitu selesai ia membawa nya ke lantai atas. Begitu masuk, seruan Annisa disertai rengekan kecil membuat Bram tertawa.


"Mas ih .."


"Hahaha, pasti kamu ngiranya mas lupa ya? tenang, mas nggak akan pernah lupa sama sekali. Udah, sekarang mending kamu minum susu nya dan habis ini kita tidur. Udah malam."

__ADS_1


Walaupun dengan cemberut, Annisa mengangguk.


__ADS_2