Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kenangan Dulu


__ADS_3

Ternyata di dalam surat tersebut ada banyak hasil rajut sang kakak dan salah satunya ada liontin yang Annisa ingat sekali kalau dulu dia pernah inginkan. Tapi Annisa harus memendam barang favoritnya itu karena mereka yang belum memiliki uang. Annisa harus merelakan semua keinginan nya saat masih muda karena masih banyak yang harus ia beli waktu itu dan kini?


Annisa memegang liontin yang dulu sangat ia inginkan.


Tangisannya semakin kencang, hingga Bram yang sejak tadi sudah menunggu di luar masuk dan memeluk tubuh istrinya.


“Mas ... liontin mas, kakak kasih liontin yang dulu aku mau. Kakak masih sayang banget sama aku. Kakak nggak pernah hirauin aku. Kakak sayang sama aku.”


“Shhh ... iya kak Namira memang sepertinya sayang banget sama kamu.” Bram mengusap punggung sang istri, memberikan kenyamanan supaya istrinya itu nggak terlalu terkejut dengan beberapa hal yang baru ia lihat di dalam kamar ini.


Sembari menenangkan Annisa, mata Bram terus menatap ke sembarang arah dalam kamar itu. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi di dalam kamar ini. sampai matanya melihat selembar kertas yang ada di lantai. Bram mengangguk, tahu kalau surat itu penyebab istrinya menjadi menangis seperti ini.


“Yang ...”


Annisa melepas rengkuhan mereka dan memandang wajah Bram.


“Mas ... ternyata selama ini kak Namira peduli sama aku. Aku jahat banget mas, karena udah nuduh kak Namira dengan yang enggak enggak. Tapi ternyata kak Namira sepeduli ini sama aku. Mas ... andai aja waktu itu aku bisa ketemu kak Namira lebih cepat. Pasti aku bisa meluk kak Namira. Walaupun mungkin kak Namira waktu itu udah sakit. Tapi seenggaknya aku bisa ketemu sama kak Namira.”


Bram mengangguk, terus mendengar penuturan sang istri.


“Dan mas tau nggak sih ... ternyata kak Namira selama ini simpan hasil uang tabungan nya buat aku di sini.” Bram membuka tabungan yang diberi sama istrinya itu. “Lihat mas ... banyak mas uang nya. Dulu aku selalu nuduh kakak pelit, karena kakak nggak pernah mikirin perasaan aku sama sekali. Aku harus berjuang sendiri sampai aku selalu nuduh yang buruk ke kakak. Tapi ternyat lihat mas.”


Annisa menepuk berulang kali buku tabungan tersebut.


“Banyak mas uangnya ... dan semua ini buat aku mas. Ya ampun, aku beneran kaget banget mas. Uang sebanyak itu buat apa?"


"OH IYA!"


Annisa kembali berseru sambil menunjukkan banyak barang rajutan yang ada di depannya ini. "Lihat mas ... di sini ada banyak hadiah yang pengin kakak kasih buat aku. Banyak banget mas. Sampai aku beneran bingung banget mau di apain barang sebanyak ini. Tapi aku harus simpen semua ini. Karena ini hadiah terindah yang pernah aku dapetin di hidup aku."


Annisa menumpuk semuanya jadi satu.


"Oh iya ... aku juga nemuin banyak foto kak Namira. Akhir nya aku bisa ketemu wujud kak Namira setelah gak lama lihat. Sekarang kak Namira agak lebih kurusan dan aku sedih karena ini. Kak Namira beneran kurus banget mas. Aku beneran gak tega banget liatnya. Ya ampun ... coba aja aku ada pas kak Namira sakit. Pasti sekarang kak Namira agak gemukan dan mungkin masih ada di sini."


"Eh tapi."

__ADS_1


Annisa menggeleng di sela rasa sedihnya.


"Aku harus inget kalau semua ini cuma takdir. Jadi mau aku datang atau enggak. Memang udah waktu nya kakak pergi. Aku sedih sih sekaligus lebih tenang. Karena seenggaknya aku bisa liat foto kakak yang sekarang ini."


"Gimana?" tanya Bram setelah Annisa diam.


"Hah?" bingung Annisa memandang wajah suaminya itu


"Kamu udah jauh lebih tenang atau malah ngerasa kurang? atau ada hal yang masih kamu mau? biar mas yang cari lagi sini. Kamu masih butuh sesuatu?"


Annisa beroh ria dan menggeleng lagi.


"Sekarang aku jauh lebih lega," beri tahu Annisa sembari menatap dalam suaminya itu. "Seenggaknya apa yang aku mau ada semua di sini. Aku beneran jauh lebih tenang dan seenggaknya beneran ikhlas kalau kakak memang udah pergi dari dunia ini."


Bram kembali membawa Annisa ke pelukannya.


"Mas ikut bahagia kalau kamu merasa lebih senang karena ini. Semoga kamu selalu bahagia ya sayang. Apa pun yang terjadi ke depannya. Kita hadapi bersama ya."


Annisa mengangguk.


"Aku juga sekarang nggak bisa datang ke makam kakak. Karena lagi hamil. Tapi setelah dedek lahir, aku mau ke tempat kakak dan cerita semuanya. Tapi untuk sekarang aku nggak mau maksa keadaan dan milih nunggu waktu itu tiba."


"Mas bangga punya istri yang pengertian kayak kamu."


***


"Mamah baik baik aja kan? jangan nangis lagi ya. Rama jadi ikut sedih kalau mamah nangis. Oh iya!"


Rama berlari keluar dan mengambil belanjaan yang dia beli dan membawa nya kembali ke dalam rumah. Ia menaruh sekantung plastik ke meja dan mengeluarkan banyak cemilan. Ada cemilan yang Annisa suka, ice cream, permen, cokelat sampai susu.


"Ini aku jajan pakai uang aku sendiri buat mamah. Soalnya yang aku baca di internet kalau perempuan sedih cukup kasih jajanan manis aja. Nanti jadi seneng lagi. Makanya aku beliin ini. Gimana? mamah nggak bakal sedih lagi kan?"


Annisa meraih pipi Rama dan mengusap lembut.


"Dengan kamu aja udah buat mamah seneng kok. Mamah nggak sedih lagi kalau ada kamu. Tapi semua ini mamah terima ya. Makasih karena udah kepikiran buat beliin ini semua. Mamah sayang banget sama kamu."

__ADS_1


"RAMA JUGA!"


***


Seperti jadwal yang memang udah Bram buat. Hari ini mereka pergi ke rumah Sakilla dan Namira dan di hari yang sama juga mereka akan pulang karena besok Rama ada ujian di sekolah. Jadi anak itu tidak mau meliburkan diri karena nanti nya akan repot sekali untuk mencari guru buat ujian sendiri.


Sejak tadi Annisa juga menatap khawatir pada Rama yang ada di pangkuannya. Anak itu sedang tertidur. Tapi walau tertidur, Rama seakan memberi jarak pada perut Annisa. Jadi ia tidak menekannya sama sekali.


"Mas ... aku beneran nggak enak banget deh sama Rama," jujur Annisa sambil mengusap punggung anaknya dengan perasaan bersalah. "Pasti Rama capek banget harus sekolah besok. Harusnya aku nggak egois ya mas. Aku bisa cari waktu yang lebih pas biar nggak membuat Rama jadi kesusahan kayak gini. Duh, aku beneran gak enak banget sama Rama."


Bram melirik dan menggeleng.


Di pernikahan mereka yang udah cukup lama aja. Annisa masih merasa nggak enak sama mereka. Kayak sama siapa saja.


"Nggak usah gak enak. Toh Rama juga nggak masalah kok. Yang penting kebutuhan kamu terpenuhi dan sekarang kita udah sama sama lega. Lagian mas lebih milih capek kayak gini. Tapi kamu nggak sedih lagi."


Annisa mengangguk pelan. Efforts suami dan anaknya memang patut diacungi jempol. Gak ada yang bisa nandingin sama sekali.


"Iya mas ... makasih ya."


"Makasih terus, kayak sama siapa aja." Bram bercanda. "Lagian nih ya ... mas harap setelah ini kamu bisa tepatin janji kamu buat lebih fokus ke anak kita. Mas rasa kamu lebih banyak kecapean semenjak hamil. Entah itu capek fisik atau capek pikiran. Apa pun itu nggak ada yang baik buat kamu. Makanya mas harap kamu bisa lupain semua nya dan benar-benar fokus sama dedek bayi. Oke?"


Annisa mengangguk untuk yang ke sekian kalinya.


"Iya mas ... masalah ini itu udah pada selesai dan aku rasa memang udah waktunya aku fokus sama dedek. Tenang mas. Aku bakal lebih fokus sama kamu dan Rama juga."


"Hahaha iya sayang ... udah lah, ini makin malem. Kamu kalau mau tidur nggak masalah."


Annisa berseru tak suka. "Enggak ah mas ... aku nggak mau tidur. Aku mau temanin kamu."


Perempuan itu menatap suaminya yang mau protes.


"Eh mas Bram nggak boleh protes sama sekali ya. Ini yang aku mau! anggap aja karena tadi aku udah ninggalin kamu tidur. Jadi, sekarang aku mau temanin mas menyetir. OKE!"


Bram pada akhirnya tertawa kecil dan mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau itu yang memang kamu mau. Tapi kalau memang ngantuk, tidur aja ya. Gak usah mikirin mas."


"Iya mas ..."


__ADS_2