
"IBU DINI"
"Annisa ... jangan lari!" Bram yang panik langsung mengejar sang istri dan menahannya. "Jalan santai aja, inget kamu lagi hamil!" titah Bram dengan tegas. Sengaja karena tidak mau istrinya kenapa-napa.
"Maaf mas lupa."
"Dasar ..."
Bram kembali melepaskan sang istri karena mereka sudah dekat dengan ibu Dini. Annisa memeluk erat ibu Dini yang sengaja Bram hubungi untuk datang ke stasiun. Pasalnya sejak di dalam kereta, Annisa terus mengulangi perkataan yang sama yaitu merindukan ibu Dini yang sudah membantu dia ini itu. Jadi, menurut Bram memang ini yang terbaik.
"Ayah ..." Rama menggenggam lengan Bram membuat laki-laki itu menoleh dan membawa Rama masuk ke dalam gendongannya. "Mamah keliatan seneng banget, Rama suka!"
Bram mengangguk.
__ADS_1
"Sebagai laki-laki yang hidup di sekeliling mamah Annisa. Kita harus selalu buat mamah bahagia ya. Ayah nggak bisa selalu ada di samping mamah kamu karena pasti nanti sibuk kerja. Jadi, ayah bisa kan serahin tugas itu sama kamu? anggap aja, kamu juga belajar menjadi kakak yang baik ..."
Rama mengangguk antusias.
"Pas tahu mamah hamil, aku udah baca-baca cara jadi anak yang sigap membantu mamahnya pas lagi hamil. Jadi, ayah tenang aja ... aku bakalan lakuin sebisa mungkin untuk jaga mamah dan buat mamah terus tersenyum."
"Pintarnya anak ayah."
Setelahnya Bram menghampiri Annisa yang masih terus berpelukan sama ibu Dini. Ia tersenyum bahagia melihat Annisa yang kembali tersenyum lebar.
"Huh anak nakal!" serunya, bukan memarahi melainkan hanya khawatir. "Kan ibu udah bilang buat kabarin! tapi ini kenapa nggak ada kabar sama sekali. Memangnya kamu kira ibu bisa tahu kondisi kamu? apalagi terakhir kali kita bareng, kondisi kamu kurang baik ... jadi, sekarang gimana? kamu udah baikkan kan?"
Annisa mengangguk.
__ADS_1
"Aku ada sedikit kabar baik buat ibu. Tapi nanti aja aku kasih tau." Ibu Dini menatap Annisa dengan penuh rasa penasaran
"Iya nanti saja ... lebih baik kita pulang sekarang. Gak enak sama penumpang yang lain juga," ajak Bram yang di setujui mereka semua.
Akhirnya mereka bergegas meninggalkan stasiun. Begitu keluar area stasiun, teman dari bawahan Bram langsung ada di sana dan memberikan mobil miliknya. Dengan mobil itu, mereka akhirnya bisa kembali ke rumah orang tua Annisa.
Selama perjalanan, Annisa banyak minta berhenti karena melihat banyaknya jajanan yang terlihat enak di matanya dan Bram nggak ada hati untuk menolak sama sekali. Toh, selama Annisa senang dan nyaman, ia akan menurutinya.
Dan ...
Anggap saja ini sebagai hadiah karena selama ini dirinya udah jahat sama Annisa dan membuat luka yang begitu besar di hati perempuan itu. Bram mau menebus rasa bersalahnya. Jadilah, ia akan menuruti semua keinginan Annisa selama perempuan itu nyaman.
"Apalagi? mau beli apa? sebelum kita sampai di rumah nanti?" tanya Bram begitu masuk ke mobil sambil membawa belanjaan. Ia membeli kebutuhan buat di rumah mertuanya nanti.
__ADS_1
"Udah mas ... kamu juga udah beli banyak jajanan. Udah cukup."
Ibu Dini menatap Annisa dengan bingung. "Nafsu makan kamu lagi meningkat ya? kamu juga sedikit lebih berisi di banding kemarin."