Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tak Mungkin Diam


__ADS_3

"Ya ampun, bu. Setelah semua perbuatan yang ibu buat kemarin. Pagi pagi gini ibu udah berulah lagi?" Annisa mengusap wajahnya frustasi dan langsung berlutut di meja ruang tamu.


Sampah-sampah berserakan di atas meja membuatnya menarik napas dalam. Dari bungkus kotak kue, kulit kuaci yang berserakan di mana aja, kulit kacang juga, minuman kotak yang udah pada habis dan masih banyak lagi. Annisa menaruh semuanya di pinggir meja lalu mengambil trash bag di dapur dan memasukkannya. Bahkan kulit kuaci yang ada di bawah meja ia ambil satu per satu.


"Bu ... mas Bram memang nyuruh ibu anggap ini seperti rumah ibu sendiri," ucap Annisa. "Tapi itu cuma buat ibu nyaman doang, tapi kan tetep aja kita harus punya adab bu. Ya ampun ... ibu tadi siang baru di marahin sama mas Bram loh. Kenapa sekarang malah ngulah lagi?"


Ibu Marni berdecak dan menendang pelan Annisa dengan kakinya hingga tubuh Annisa terhuyung lalu terjatuh.


"Berisik kamu ... ibu cuma minta makanan doang. Siapa suruh tadi makan malem nggak ada yang panggil ibu. Jadi ibu kelaparan lah ..."


Annisa paksa senyum, berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


"Ibu sendiri yang bilang sama aku kalau jangan di bangunin karena mau tidur," ucapnya penuh penekanan. "Kenapa jadi nyalahin kami kayak gini?"


Ibu Marni berdecak.


"Kenapa sih bu, dari dulu kebiasaan banget selalu nyalahin orang lain," marah Annisa seraya mengikat kuat trash bag. "Kalau salah ya minta maaf, apa susahnya sih ngaku salah. Nggak buat kita mati juga. Aku capek sama sikap ibu yang ini. Kalau ngelakuin kesalahan pasti langsung nyalahin orang. Benar-benar definisi lempar tangan sembunyi tangan."


Annisa melangkah kesal menuju dapur. Ia menaruhnya di tempat besar. Baru mau berbalik, ia mendesis melihat dapur yang sama berantakannya.


Terutama di tempat cemilan.


Tidak usah mencari tahu lagi sudah pasti ibunya yang melakukan ini. Annisa yang sudah terlalu lelah marah, memilih membersihkan semuanya sendiri. Waktu yang harusnya ia pakai buat tidur, tapi malah harus bersihin dapur.


Beberapa saat kemudian, di saat semuanya udah selesai. Annisa kembali mendatangi ibunya.


"Aku minta maaf kalau lancang, tapi aku bakal minta mas Bram buat bawa ibu pulang."


Ibu Marni mengibaskan tangan di udara dengan santai. "Bagus lah, nggak ada yang menarik juga di sini. Kalian udah pulang, yang ada ibu pening karena omelan kalian semua," ucap Ibu Marni sambil meluruskan kakinya dan menaikkan kaki ke atas meja.


"Sekarang terserah ibu aja deh. Kalau ibu punya hati harus nya ibu punya rasa bersalah sedikit aja dan bisa minta maaf sama yang lain. Tapi terserah lah, sekarang Annisa bakalan rapihin semua barang ibu. Biar nanti ibu gampang pulang."


"Ya ..."


Dengan terus menggeleng, Annisa memasuki kamar tamu. Langkahnya terhenti karena ia melihat banyak tote bag dari brand ternama tertumpuk di sana. Annisa melirik pada ibu nya yang malah membesarkan volume televisi. Annisa udah sangat marah, seolah semua emosinya udah ada di ubun ubun. Tapi ia hanya menghela napas kasar dan merapihkan semua baju dan barang di sana.


"Sampai umur segini, ternyata ibu nggak ada niatan buat berubah," gumam Annisa sambil melipat baju yang sangat berantakan itu lalu menumpuknya.


"Dulu aku kira ibu bakalan berubah. Tapi ternyata nggak mungkin. Aku cuman ngarepin yang nggak akan pernah terjadi. Jadi, buat apa ..."


Annisa mengeluarkan semua barang di dalam tas hingga sebuah perhiasan keluar dari selipan kantung dalam tas. Annisa terdiam sesaat.


"Bentar deh .."


Annisa melirik belanjaan ibunya yang ada di sisi kamar lainnya. Lalu kembali menatap barang bawaan ibunya yang ada di hadapannya ini. Kemudian beralih ke perhiasan yang baru aja terjatuh.

__ADS_1


"Ini punya siapa?"


Tanpa pikir panjang, Annisa mengantungkan kalung itu. Feeling dia itu bukan punya ibunya. Dia akan membawanya nanti dan bertanya pada Bram. Ia mengangguk, ia harus bertanya. Setidaknya ia tahu ibunya melakukan hal tercela itu atau enggak.


Dengan cepat Annisa mengembalikan semua baju dan barang lainnya ke dalam tas.


Baru mau menutup tas, suara derap langkah datang dari arah luar. Dengan panik ibu mengambil tas tadi dan meluk erat.


"Udah sana ... biar ibu aja yang beresin sisanya," titah sang ibu dengan panik.


Ibu Marni meneliti anaknya dari atas sampai bawah lalu menghela napas lega begitu Annisa keluar tanpa ngomong apa-apa. Ibu Marni buru-buru menaruh tas besarnya di balik meja. Baru setelahnya ia bisa terduduk lega.


"Aman."


***


Pagi harinya,


Annisa langsung disambut pelukan Bram dari sisi kanan dan Rama dari sisi kiri. Ia terkekeh dan mengusap pipi keduanya itu.


"Ya ampun ... kenapa pada manja gini sih? kalian nggak mau mandi?" tanya Annisa. "Mamah mau mandi nih, gerah. Jadi kalian geser dulu dong."


Rama mengerang dan semakin mengeratkan pelukan.


"Aku maunya sama mamah."


"Ngapain mandi? kan hari minggu. Terus suruh mbak aja yang masak. Rama masih ngantuk. Mau sama mamah aja."


Annisa tertawa lalu berbalik ke Rama dan menggelitiknya. Ia terus menyerang leher sama pinggang Rama, membuatnya tertawa lepas.


"Udah!" nyerah Rama dengan napas memburu.


Annisa tertawa dan langsung duduk di kasur. Menatap dua laki-laki di sana yang masih aja tiduran, padahal jam udah menunjukkan pukul sepuluh siang.


"Sekarang aku yakin kalau kalian ini ayah dan anak."


"Iya dong," sambung Bram. "Dan kamu mamahnya."


"Udah ah, pada bangun. Hayu kita makan, jangan lewatin sarapan."


Titahan Annisa akhirnya membuat mereka terpaksa bangun dan melaksanakan perintahnya. Bram yang bangun lalu merapihkan kasur sementara Rama memeluk Annisa sebentar lalu kembali ke kamarnya untuk mandi.


Setengah jam kemudian,


Annisa sudah selesai memakai skincare yang bertepatan dengan Bram keluar dari kamar mandi. Dari kaca, Annisa melihat pergerakan suaminya di depan lemari.

__ADS_1


"Mas," panggil Annisa


"Hmm? kenapa?"


"Ada yang mau Annisa tanya sama mas," ucapnya yakin setelah selama tadi ia memikirkan harus bilang atau tidak sama suaminya. "Tapi ... sebelum itu, aku mau mas jangan marah. Aku cuma mau tahu aja, biar nggak salah paham dan biar aku nggak mikir yang aneh."


"Oke?" Bram menaruh baju kotornya di ranjang lalu mendatangi Annisa. "Ada apa? kamu mau tanya apa?"


"Sebelumnya aku mau tanya, di sini maksudnya di rumah kamu. Kamu ada naruh perhiasan gitu nggak? entah punya orang tua kamu, kamu atau malah punya mbak Sakilla?"


Alis Bram terangkat dan dengan ragu ia Bram mengangguk.


"Tentu ada dong," balas Bram. "Kamu mau tahu ya? Iya sih, mas baru sadar kalau selama ini belum pernah kasih kamu perhiasan yang banyak. Gimana kalau nanti siang kita ke mall, sekalian beli kebutuhan kami yang lain. Nanti kamu boleh ambil perhiasan—


"Bukan tentang itu!"


"Terus?" bingung Bram


"Kamu taruh di mana?" tanya Annisa lagi.


"Kalau perhiasan gitu ya di lemari kita yang ini," ucapnya sambil menunjuk lemari yang ada di dalam kamar mereka. "Mas nggak terlalu lihat gitu sih. Tapi selama ini ya mas paling taruh di situ dan nggak pernah bongkar-bongkar lagi. Memangnya ada apaan sih? Kenapa kamu nanya kayak gini?"


Annisa beranjak menuju tas selempang yang digantung. Ia mengeluarkan kalung tadi yang ada di tas ibunya.


"Mas kenal sama perhiasan yang ini nggak?" tanya Annisa sambil menaruh kalung itu di telapak tangannya. Berusaha membiarkan suaminya meneliti kalung itu.


Sementara,


Bram mengambil kalungnya dan menatap Annisa.


"Dapat dari mana kamu kalung ini?" dengan nada suara yang berubah Annisa langsung mundur perlahan.


"..."


"Annisa ... jawab pertanyaan mas! dapat dari mana kamu kalung ini."


"Da— dari tas ibu," ucapnya perlahan membuat Bram berbalik dan mengusap wajahnya, sangat kesal akan fakta yang baru di lontarkan Annisa.


"Sebenarnya ibu kamu tuh maunya apa sih?"


Annisa menggeleng pelan.


"Tadi aku lagi beresin baju ibu, mas. Aku beneran nggak tahu kalau ibu bakalan berani ngelakuin kayak gitu. Aku aja kaget kenapa bisa ada kalung di tas ibu. Padahal barang belanjaannya ada di tempat lain. Jadi, nggak mungkin kalau tiba-tiba ada kalung dalem tas gede yang kusam itu mas. Makanya nggak mau mikir lagi aku langsung ambil kalung itu, terus nanya sama kamu. Ternyata benar ya kalau itu kalung punya kamu."


Annisa sangat merasa bersalah dan menunduk sambil terus menyangkal sebuah fakta.

__ADS_1


"Masa ibu berani mencuri sih?" ucapnya pelan.


__ADS_2