
"Kamu tahu ... ini kalung ada di lemari kita. Bukan di laci dalam lemari yang biasa mas taruh perhiasan. Tapi mas taruh di antara tumpukan baju, karena kalung ini mas desain sendiri buat Sakilla. Waktu itu mas mau kasih hadiah karena dia udah lahirin seorang anak lucu. Tapi ternyata dia malah buat sandiwara itu sampai mas lupa keberadaan kalung itu dan sekarang tiba-tiba kalungnya ada di sini? dalam tas ibu kamu. Ibu kamu mencuri?"
Annisa menunduk dan mengangguk pelan.
"Maaf mas ..."
"Nggak ... mas mau ibu kamu mengaku. Kurang apa mas selama ini. Udah ngirim tiap bulan dengan jumlah yang lumayan banyak. Bahkan mas juga nggak pernah lupa kirim uang untuk mobil yang sampai detik ini aja nggak ada wujud nya sama sekali. Mas juga yang bayarin pembenaran rumah sampai hutang kalian. Mas nggak pernah ungkit loh, asal ibu kamu nggak bertingkah kayak gini."
Annisa mengangguk. Mau gimana juga ia setuju sama omongan suaminya tentang sang ibu yang udah sangat berlebihan.
"Mas ..."
"Iya?" jawab Bram yang sedang mengecek perhiasan lain nya di dalam lemari.
"Apa ada yang hilang lagi?"
Bram menggeleng. "Laci yang isinya perhiasan tuh mas kunci. Jadi, kayaknya ibu kamu nggak bisa ambil. Tapi kita malah kecolongan perhiasan yang ada di lipatan baju."
Annisa menggumam lirih.
"Dan kamu tau, apa yang buat mas kesal banget," lanjut Bram mendatangi istrinya.
"Karena ibu?"
Bram mengangguk. "Mas marah banget karena ngebayangin ibu kamu masuk ke kamar kita yang itu aja udah ngelanggar privasi. Apa lagi sampai buka-buka lemari yang keliatannya aja nggak sopan banget. Ya ampun ... dulu mas nggak pernah mau pasang CCTV di dalam rumah. Malah pasang di luar doang. Tapi, kalau tahu gini kayaknya mas mau pasang di dalem juga."
"Iya mas ... ibu aku udah berlebihan banget."
Annisa menarik ujung baju Bram dan menatapnya berkaca kaca.
"Awalnya aku mau nyuruh kamu buat diem aja," gumam Annisa. "Tapi kayaknya sekarang aku serahin semuanya ke kamu mas. Terserah kalau kamu mau marah sama ibu juga. Aku nggak masalah. Biar ibu juga tahu diri dan nggak lagi ngelakuin kayak gini. Karena yang kemarin aja, ibu belum ada minta maaf kan sama kamu."
"Beneran?"
Annisa mengangguk setuju.
"Seenggaknya ibu harus bertanggung jawab sama perbuatan ibu. Aku serahin semuanya sama mas. Asal jangan terlalu di marahin ya mas. Jangan di bentak banget."
"Tenang ... mas tahu diri kok. Kita lihat nanti sore aja ya."
***
Sore harinya, tadi saat jam makan siang Bram sudah meminta ibu Marni untuk berkumpul di ruang televisi. Rama serta orang tua Bram sudah dipinta pergi untuk membeli bahan masakan. Bram meminta mereka untuk pergi agak lama karena ada yang harus di urus.
__ADS_1
Dengan perasaan berdebar, Annisa berdiri di balik tembok.
Perempuan itu nggak mau ikut campur masalah ini. Dia benar-benar nggak tega membayangkan ibunya di marahin sama suaminya. Tapi di sisi lain, ia juga tahu kalau suaminya sangat marah atas perbuatan ibunya yang udah berlebihan banget.
Jadi, Annisa memilih melipir ke belakang dan menguping semuanya dari awal.
Dengan was-was Annisa melihat ibunya turun dengan santai dan menghampiri menantunya.
"Ada apan sih? kenapa kamu kelihatan kesal kayak gitu? karena perbuatan kemarin?" ucapnya dengan remeh. "Kalau memang karena itu, ya sudah ibu minta maaf sama kamu. Udah kan? masalahnya selesai. Ndak usah di perpanjang lagi. Bikin puyeng aja."
Annisa ternganga mendengar ibunya yang malah berani.
"Bu ... ibu bisa nggak sih jaga sikap?"
"Jaga sikap!" balas ibu Marni lalu tertawa puas. "Di mana posisinya mertua harus jaga sikap sama menantunya? harus nya kamu yang jaga sikap sama ibu. Sekarang ibu tanya, surga ada di telapak kaki siapa? ibu! jadi, seorang anak yang harusnya berbakti sama ibunya. Bukan ibunya yang harus berbakti sama anaknya."
Bram tertawa dan menyilangkan kakinya sambil menatap lurus ke arah televisi yang tidak menyala.
"Saya jadi kasihan sama Annisa," sambung Bram pelan. "Kayaknya dia selama ini makan hati deh karena punya ibu kayak ibu yang bahkan nggak bisa ngertiin dia sama sekali. Maunya di mengerti tapi nggak bisa ngertiin orang lain sama sekali."
"..."
"Padahal semua yang ada di dunia ini ada timbal baliknya. Kalau mau orang lain baik, kita harus baik juga sama orang lain. Bukan kayak ibu, maunya di mengerti tapi nggak pernah bisa ngertiin orang. Maunya semua orang sopan, tapi ibu nggak pernah sopan sama orang lain. Nggak satu sampai dua kali ibu berantem setelah ada di sini. Tapi sering ... artinya apa? artinya ibu yang salah. Padahal sebelumnya rumah ini anteng-anteng aja tuh. Tapi pas ibu datang, semuanya malah berubah gini."
"Ya terus kenapa ..."
"Kamu mau ngapain saya sebenarnya? kenapa di kumpul di sini? mau mempermalukan saya? atau kamu merasa sok berkuasa karena udah ngasih saya semuanya?"
Bram menggeleng.
"Saya nggak pernah merasa berkuasa karena udah bantu orang. Saya juga bukan orang yang gila hormat saat tahu orang yang saya bantu nggak minta maaf. Tapi saya sungguh benci sama orang yang nggak tahu di untung dan malah tidak tahu diri setelah dibantu banyak."
Ibu Marni mendengus dan duduk dengan santai.
"Ya sudah ... sekarang kamu mau apa? mau saya bersujud di kaki kamu itu?" ucapnya yang terkesan meledek. "Kamu ngelakuin kayak gini, seolah saya itu pencuri."
Bram tersenyum smirk.
Dengan santai ia melempar kalung yang dari tadi ada di pegangannya ke atas meja.
Ibu Marni yang melihat itu langsung tersentak. Sikap santai nya langsung berubah. Ia gugup dengan jantung yang sangat berdegup kencang, tahu apa kesalahannya kali ini. Bukannya minta maaf, ibu Marni malah memikirkan Annisa yang sudah pasti menemukan kalung itu dan malah bilang sama suaminya.
/Awas aja kamu Annisa, ibu nggak akan biarin kamu habis ini gitu aja!/
__ADS_1
Bram melirik ke arah mertuanya itu. Wajah pucat pasi membuat Bram tersenyum sinis sambil terus menggeleng.
"Tadi ibu bilang kalau saya perlakuin ibu layaknya ibu pencuri. Terus sekarang terbukti kalau ibu pencuri dong?" tanya Bram menggertak ibu Marni. "Terus saya harus apa dong? kalau ada pencuri biasanya harus apa ya?"
Ibu Marni menelan saliva lalu berusaha bersikap santai, namun malah kelihatan lagi kaku dan sangat ketakutan akan masalah ini.
"Ap— apa maksud kamu?" ucapnya terbata berusaha tidak peduli. "Kamu ngomong apa? ib— ibu sama sekali nggak paham sama maksud kamu."
"Nggak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
Ibu menggeleng, terus berusaha mengelak. Membuat Annisa yang ada di belakang tembok frustasi dan langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan mendatangi mereka.
"Cukup bu ... ibu udah nggak bisa mengelak lagi karena aku nemuin semua itu di tas ibu. Dalam tas ibu. Aku nggak tahu lagi ya bu. Ya ampun ... aku sampai nggak ada muka lagi sama suami aku sendiri. Bahkan rasanya aku mau terus minta maaf sama mas Bram karena ulah ibu. Udah cukup bu. Sekarang ibu jujur sama Annisa ... apa lagi yang udah ibu ambil dari rumah ini."
Ibu Marni menatap anaknya tidak terima.
"Jadi menurut kamu ibu itu mencuri barang lainnya juga? berani kamu nuduh ibu kayak gitu?"
Annisa mengusap air matanya dan menggeleng.
"Aku nggak akan berani kalau nggak ada buktinya kayak gini," seru Annisa. "Tapi semuanya udah aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Jadi wajar dong ... wajar kalau aku nuduh ibu karena aku nggak tahu apa aja yang udah ibu lakuin di luaran sana pas aku sama mas Bram lagi ngurus kakak."
"..."
"Tentang kakak ... bahkan kita lagi suasana berduka dan berniat adain pengajian buat kakak. Tadinya aku mau ngomongin masalah ini sama ibu sekalian ibu ikhlasin perbuatan kakak biar kakak tenang di atas sana. Tapi belum apa-apa, ibu malah kayak gini?"
"Berisik kamu ... itu cuma kalung kok."
"Bukan bu!" seru Annisa membuat Bram yang mau protes menjadi bungkam.
"Itu bukan barang kecil. Mau sekecil apa pun barang yang di ambil, tetap aja ada niat mencuri di hati ibu dan itu sangat jahat banget. Ya ampun ... bu, sadar ya. Nggak usah terus meremehkan hal kayak gini. Tinggal minta maaf sama mas Bram. Apa susahnya sih? nggak capek apa bu terus kayak gini?"
Annisa menghela napas kasar.
"Sekarang aku nanya sama ibu, memangnya uang yang di kirim mas Bram tiap bulannya tuh ke mana? mas Bram ngirim bukan jumlah yang sedikit loh. Ibu bisa pergi beli ini itu pakai uang itu. Kalau ibu mau kalung, kenapa ibu nggak beli sendiri?"
"Rasanya beda," jawab ibu Marni santai.
"Aku lebih rela kalau ibu minta baik-baik sama kami dan nanya gitu. Dari pada harus obrak-abrik lemari aku sama mas Bram terus ngambil diem-diem itu kalung," marah Annisa yang sudah di ubun-ubun. "Di sini bukan perkara ibu ambil doang. Tapi ibu yang main masuk ke kamar yang seharusnya privasi aja tuh udah jahat banget. Terus apa niat ibu masuk ke kamar kami? atau memang sebelumnya ibu udah ada niatan ambil barang."
"Berhenti!" seru Bram
Laki-laki itu tidak sanggup melihat Annisa yang menangis sambil terus berteriak marah yang tersirat akan rasa kecewa mendalam.
__ADS_1
"Sekarang gini aja," penggal Bram. "Saya minta maaf, tapi sepertinya ibu kembali aja ke kampung ya. Saya tidak tahu bapak di mana, tapi kalau bapak masih ada di sini nanti saya suruh bapak pulang juga. Kita stop ungkit masalah ini. Ibu juga sepertinya akan saya larang datang ke sini kalau cuma bisa buat istri saya menangis saja. Untuk semua kesalahan ibu, saya maafkan. Asal jangan mengulanginya lagi."
"Memang dari awal saya tidak mau ke sini," gerutu ibu dan meninggalkan mereka begitu aja