Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bosan


__ADS_3

Bram berdiri di samping Annisa yang menahan muntah akibat memaksakan diri untuk minum susu. Bram terus menjadi suami yang suportif dengan mengusap punggung Annisa supaya tidak keluar.


"Iya ... nah gitu, langsung telan." Bram tersenyum penuh kemenangan saat satu gelas tersebut tandas. "Kan kalau gini enak nih. Kamu nya udah selesai minum susu. Terus anak kita juga jadi nambah nutrisi. Jadi deh gak usah terlalu mikirin ini itu. Kamu hebat!"


Bram mengusap sisa susu di sekitar mulut Annisa dan menaruh gelas kosong tadi ke atas meja.


"Nanti mas cari susu yang rasa atau merek lain deh. Siapa tau kalau rasa lain masih bisa keterima sama mulut kamu. Gimana? mau kan?"


Annisa mengangguk, badannya sudah lemas bukan main.


"Ya sudah sekarang kita istirahat. Udah kamu nggak usah mikirin lagi."


"Iya mas ... good night mas Bram."


"Good night sayang."


***


Belakangan ini, Annisa merasa jauh lebih bosan. Walau sedang berada di rumah sendiri. Ia merasa kalau saat Bram dan Rama sedang pergi, ia tak ada yang menemani sama sekali. Jadi lah terkadang sesekali ia menelepon dengan bude nya atau dengan ibu Dini. Tapi sekarang mereka lagi pada sibuk membuat Annisa benar-benar merengut sedih.


"Ah bosan banget ..."


Annisa menoleh ke samping, mencari hal yang seru. Tapi sama sekali gak ada hal yang menyenangkan.


"Ah harusnya aku cari kegiatan yang seru. Tapi apa ..."


Annisa terus merenung. Ia menghela napas, saat tidak tahu harus melakukan apa. Dia benar-benar merasa bosan.


Pada akhirnya,


Selepas kepergian anak dan suaminya, Annisa langsung merapihkan rumah sejenak dan membuka barang rumah yang baru datang. Ia melupakan perintah sang suami untuk istirahat. Ia benar-benar melakukan pekerjaan yang sebenar nya tidak pernah membuat nya lelah. Memang hanya suami nya saja yang sedikit lebay pada dirinya itu.


Annisa mengeluarkan beberapa barang pesanan yang baru datang.


Ah iya, belakangan ini Annisa mulai ketagihan belanja online. Banyak yang dia beli. Tapi barang apa pun yang dia beli selalu menumpuk. Karena setiap yang datang pasti terlihat membosankan dan Annisa sedikit malas untuk membuka satu per satu. Jadi Annisa membiarkannya menumpuk di satu tempat.


Dan,

__ADS_1


Sekarang Annisa baru sadar kalau semua barang itu cukup menyita tempat yang ada di kamarnya ini.


"Aish ... kayaknya aku harus stop belanja online dulu deh," keluh Annisa


Untuk saat ini Annisa memilih menyimpan barang itu ke suatu tempat dan akan membuka semua itu di saat anaknya udah datang. Karena mereka memang selalu berniat untuk melakukan semua ini itu dengan bersama. Jadi, nggak akan ada yang bisa menyalahkan satu sama lain karena ada yang nggak suka dengan barang di rumah ini.


"Sudah rapih dan aku menumpuk juga dengan baik. Aku yakin kalau nggak akan ada barang yang hilang lagi. Nah sekarang mendingan aku bersiap untuk pergi ke rumahnya Prama."


Begitu selesai, Annisa turun ke bawah untuk minum segelas air dingin. Ah rasanya sangat segar. Dahaganya terpenuhi dan ia hanya menyentuh kerongkongannya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Lanjut aja deh, mumpung masih jam segini. Biar nanti mas Bram nggak sadar kalau aku lakuin ini itu."


Kemudian, Annisa kembali masuk ke dalam kamar utama yang ada di lantai dua.


Begitu masuk tiba-tiba Annisa teringat omongan suami nya yang ingin pindah dari rumah ini.


"Aish ... masa mau pergi sih. Padahal aku udah nyaman banget ada di sini."


Annisa berhenti untuk sesaat sambil menatap seluruh rumah dari tempatnya berdirim


Perempuan itu menarik napas dalam-dalam dan duduk di depan meja rias. "Aku kecapean kalau habis turun tangga tahu nggak sih," sebal perempuan itu dan mengerutkan keningnya. "Padahal cuma ke dapur tapi karena jauh itu loh benar-benar buat aku capek banget."


Perempuan itu menatap dirinya, lalu menggeleng kecil.


"Tidak ... aku nggak boleh mengeluh sama sekali. Semua hal udah di kasih ke aku dan harusnya aku bersyukur atas semua nikmat ini."


Tak mau membuat dirinya semakin pikir yang macam-macam. Pada akhirnya ya perempuan itu memilih untuk masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti baju dia. Kemudian merias sedikit wajahnya dan sudah siap.


Ia tidak lupa meraih ponselnya.


Dan tubuhnya tersentak, "lah ngapain aku dandan!" seru Annisa laku tertawa.


Annisa menaruh kembali ponselnya kembali ke dalam laci dan ia termenung di depan meja cermin. Wajahnya menatap lurus ke arah cermin. Annisa sadar sudah lama dirinya tidak berdandan. Ia mengerjap lalu terkekeh kecil.


"Duh kayaknya aku udah lama banget nggak liburan. Sampai kangen banget kayak gini. Duh, jadi kangen liburan deh."


Dengan langkah lesu Annisa turun ke bawah. Menyadari kalau atasannya itu sedikit lesu membuat pelayan di rumah itu menjadi was was. Masalah nya mereka di titipin sama Bram untuk menjaga Annisa. Jadi kalau sedikit saja Annisa sedikit kelihatan kurang baik. Maka mereka sendiri yang jadi was was bukan main.

__ADS_1


"Mbak Annisa baik-baik aja? ada yang lagi di butuhin? bilang aja sama saya. Biar bisa langsung saya ambilin kebutuhan mbak."


Annisa menggeleng.


Ia duduk di meja makan dan wajahnya ia taruh ke atas meja. Wajahnya benar benar sangat mendung.


"Mbak ... kok aku tiba tiba pengin liburan ya sama mas Bram. Kayak, aku baru sadar kalau habis masalah ini. Aku sama mas Bram gak pernah jalan jalan sama sekali. Kita beneran sibuk ini itu."


"Ah .. mbak Annisa ngidam?"


Annisa langsung bangun dan mengerjap bingung.


"Hah? ngidam gimana?" ia mengusap tengkuk nya. Baru sadar kalau sampai detik ini dirinya nggak pernah minta yang aneh aneh sama suaminya. Padahal dia dulu sering baca kalau kehamilan muda biasanya istri itu ngidam dan minta hal yang merepotkan pada suaminya.


"Eh iya juga ya mbak. Aku kok nggak pernah ngidam kan ya? ini aku normal kan ya?" tanya Annisa dengan polos.


Pelayan itu terkekeh.


"Ya normal dong mbak. Ngidam itu kan bukan suatu hal keharusan dan biasanya ngidam itu cuma kayak kepengin biasa aja. Bukan juga hal yang gimana juga. Orang hamil biasanya pakai kata ngidam kalau lagi kepengen. Tapi sih menurut mbak cuma alasan biasa. Ya ... namanya juga orang hamil lah."


Annisa menghela napas lega. Tidak lagi khawatir.


"Tapi masa ya mbak, tadi aku lagi bosan. Terus tiba tiba aja mau beberes kamar. Habis beberes kamar—


"Mbak Annisa rapihin kamar?" kaget pelayan tadi


Annisa mengerjap bingung dan mengangguk.


"Duh mbak ... kan tuan Bram selalu bilang kalau mbak jangan dibiarin kerja berat dulu. Duh kalau kayak gini, nanti gimana saya bilang sama tuan Bram nya."


Annisa terkekeh dan menggeleng.


"Kamu tenang aja, mas Bram juga nggak akan tau kalau kamu nggak bilang. Udah legowo aja. Santai. Lagian aku juga baik-baik aja."


Pelayan tadi menghela napas lega.


"Tapi ya mbak, habis beresin kamar. Tetiba aku mau jalan jalan itu ngidam atau bukan sih?"

__ADS_1


__ADS_2