Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bertemu


__ADS_3

Bram, Annisa dan Rama sudah masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada Sakilla yang duduk di satu kursi pojok ruangan. Bram langsung menoleh pada Annisa dan memutar matanya jengah.


“Kayaknya mas nggak bisa. Mas tunggu di sini aja ya,” pintanya yang di setujui sama Annisa. Gak bisa memaksa juga karena Bram setuju untuk menemui Sakilla aja, Annisa sudah sangat bersyukur


“Ya udah mas, aku sama Rama ke dalam dulu ya.”


Baru mau membawa Rama lebih masuk, Annisa merasa tubuhnya tertahan. Ia menoleh dan melihat tangan Rama yang tidak melepas genggaman dari baju ayahnya itu. Annisa tertegun untuk sesaat. Menatap Bram untuk meminta solusi. Sampai Bram berlutut, menyamakan tingi dengan putra sulungnya itu.


“Kenapa sayang? Kamu mau ayah ikut masuk ke dalam?”


Rama menggeleng.


“Terus?”


“Dia beneran gak bakal ngomong macem-macem lagi kan?” tanya si kecil. “Aku kira, aku udah lupa yah. Tapi ternyata pas lihat, aku masih takut ... aku masih inget semuanya.”

__ADS_1


Bram mengangguk, ia mengerti maksud Rama. Sangat mengerti. Toh dirinya juga merasakan hal yang sama.


“Buat sekarang lupain dulu ya. Sebentar aja. Kamu sama dia tentunya masih ada urusan. Darah dia masih mengalir di tubuh kamu. Sementara ayah? Hubungan ayah sama dia benar-benar udah putus dan ayah juga gak ada urusan sama sekali dengan dia. Makanya ayah nunggu di sini aja ya. Gak apa-apa kan, kalau kamu berdua aja sama mamah?”


Rama menoleh pada Annisa dan akhirnya mengangguk. Ia gak tega meninggalkan sang mamah sendiri dan membuatnya kembali kecewa.


“Hayuk mah.”


“Kamu beneran gak terpaksa kan?” tanya Annisa memastikan. “Kalau memang gak mau, mamah sendiri yang masuk. Kamu di sini aja sama ayah.”


Kembali ke niat awal. Annisa sama Rama bergandengan masuk ke dalam. Mereka berdua di persilahkan masuk sama sipir penjaga dan wajah tegang Sakilla menyambut kedatangan mereka berdua.


Tanpa mengatakan apa-apa, Annisa dan Rama duduk.


“Siang mbak ...” Annisa basa-basi

__ADS_1


Sakilla hanya tersenyum.


Setelah Annisa dan Rama duduk, tidak ada yang memulai pembicaraan. Suasana terasa sangat hening dan begitu mencekat. Cengkraman di lengannya akibat ulah Rama juga semakin terasa. Hanya suara detik jarum jam yang membelah kesunyian.


“Makasih ...”


“Iya?” tanya Annisa lagi memastikan karena suara Sakilla terdengar seperti desisan kecil. “Mbak ngomong aja. Sama, jangan nunduk gini mbak. Aku jadi gak enak sendiri. Katanya ada yang mau mbak omongin. Tapi kenapa sekarang malah nunduk gini. Ini aku udah bawa Rama loh. Katanya mbak mau ketemu sama Rama.”


Sakilla mendongak perlahan.


“Makasih banyak karena udah penuhin permintaan aku.” Sakilla menatap Rama dan tersenyum sendu karena sejak tadi anaknya itu tidak menatapnya sama sekali dan memilih menunduk, menatap asyik lantai berpola. “Aku memang mau ketemu sama kalian lagi, karena kita gak tau ke depannya. Aku bakal bisa ngeliat kalian atau enggak. Tapi, aku gak mau berharap banget. Karena pasti rasanya sakit, kalau ternyata kamu gak bisa menuhin janji kamu ke aku.”


Sakilla menghela napas. Napasnya terasa semakin berat.


“Tapi sekarang aku bisa ngeliat kalian lagi. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa menatap kalian.” Sakilla menunduk. “Jadi aku seneng, tapi aku gak tau harus apa. Karena sepertinya ada yang gak suka keberadaan aku di sini,” pasrahnya

__ADS_1


__ADS_2