Istri Dadakan

Istri Dadakan
Masalah Itu Lagi ...


__ADS_3

“Mas ih geli ...”


Annisa meronta dari pelukan suaminya. Ia yang sedang membuat es buah atas permintaan Bram harus terganggu karena pelukan suaminya itu. Padahal mereka ingin membicarakan hal penting, tapi sejak tadi suaminya malah mendusel dirinya.


"Mas tuh masih kangen tau sama kamu. Apa kita liburan sekeluarga aja ya? nggak pernah juga kan kita liburan? eh pernah ... tapi kan mas mau sekarang. Anggap aja sebagai pelipur karena beberapa waktu yang lalu kita sempet pisah gitu," rajuk Bram.


"Mas ish ... kamu yang bilang sendiri kalau ketinggalan banyak kerjaan karena ngurus masalah kemaren. Kalau kita liburan yang ada kami beneran ketinggalan pekerjaan lagi. Gak ah mas ..."


"Ih kamu mah begitu, memangnya tega ngeliat mas kangen gini sama kamu? tiap hari rasanya mas nggak kuat nahan rindu sama kamu. Kamu juga semenjak pulang, lebih sering sama Rama di banding sama mas. Makanya mas mau kita liburan berdua. Biar gak ada yang ganggu sama sekali. Cuma ada kamu sama mas aja, gak ada yang lain."


Annisa mendesis dan menggeleng.


"Mana ada kayak gitu ah ... nggak ingat tadi anaknya histeris cuma karena kita pergi ke rumah sakit yang gak sampai satu hari. Apa lagi kalau nanti kita pergi sampai satu hari. Yang ada anak kamu jadi sedih. Enggak ah, gak boleh sama sekali." Annisa memelintir pelan telinga Bram. "Lagian kok sama anak sendiri cemburu. Kurang kurangin mas ..."


Bram semakin cemberut.


"Rama masih butuh banyak kasih sayang seorang ibu. Jadi, jangan lah cemburu kayak gitu. Udah ah gelendotan nya juga. Ini es kamu udah jadi, katanya kamu mau bahas sesuatu."


"Iya .." pasrah Bram dengan lemas melepaskan pelukannya dan beranjak mengikuti Annisa yang sudah lebih dulu pergi menuju pintu belakang rumah.


***

__ADS_1


"Mas dapet kabar kalau Sakilla udah mulai masuk masa hukuman," beri tahu Bram setelah menyeruput es buah yang dibuat Annisa. Disela kunyahannya ia menatap lekat Annisa. "Mas beneran puas banget karena akhirnya hukum berjalan, jadi di sini mas cuma mau nanya sama kamu. Kamu mau ga ketemu sama dia? atau biarin dia aja? karena sungguh mas udah males berurusan sama mereka semua."


Masalah kemarin cukup membuat Bram sedikit trauma.


Bagaimana keluarga Sakilla yang malah membuat dirinya terlihat buruk, padahal mereka yang jauh lebih buruk dan gak cuma itu saja.


Bram sangat membenci bahkan dengan membayangkan wajah Sakilla. Bram jujur saja takut lepas kendali kalau bertemu dengan mereka.


Masalahnya, Annisa sedang hamil. Ia nggak mau nantinya Annisa yang malah jadi kena imbas karena dirinya yang nggak bisa menahan emosi. Jadi, Bram memilih ikhlas atas ulah Sakilla waktu itu yang sampai membuat hubungan pernikahan nya di ujung tanduk.


"Mas beneran gak suka berurusan sama mereka. Mas udah di titik benci karena ulah Sakilla malah buat hubungan kita buruk waktu itu. Walau mas gak bisa menutup fakta kalau karena mas juga awal masalah itu terjadi. Tapi kan tetep aja, karena dia masalah kita jadi nambah besar."


Annisa mengangguk dan mengusap bahu Bram.


Annisa memalingkan wajah ke belakang.


"Tapi kan memang rumah ini pernah di tinggalin sama mbak Sakilla?" tanya Annisa dengan polosnya.


"Ya memang begitu ... makanya mas ada kepikiran buat pindah. Mas mau cari suasana yang baru gitu. Yang buat kita semua tuh jadi nyaman."


"Ih buat apa!" sentak Annisa sambil menggeleng.

__ADS_1


"Ya mas mau tinggal di suasana yang baru. Lagian kamu juga harus punya rumah atas nama kamu. Nanti deh mas urus, kalau masalah ini udah selesai. Balik lagi, gimana ... sebelum benar-benar di hukum sesuai ketentuan. Kamu mau ketemu sama Sakilla atau enggak? mas saranin sih enggak."


Annisa termenung.


Dia jujur saja malas bertemu. Tapi masih banyak yang ingin Annisa tanyakan tentang kakaknya itu.


Tanpa sadar Annisa menggigit bibir bawahnya, tanda sangat bingung. Sampai akhirnya matanya bersitatap pada tanaman yang tumbuh subur. Annisa tersenyum tipis. Dia ingat kalau tanaman itu yang pernah ia tanam bersama dengan Rama.


"Aku boleh tanya dulu sama kamu?" tanya Annisa balik yang jadi ingat Rama karena tanaman itu.


"Hmm? tanya aja ... kayak sama siapa aja."


"Dulu ... gimana tanggapan Rama pas mbak Sakilla kesini?" tanya Annisa. "Anak itu keliatan seneng atau malah sebalik nya? dan, apa dia mau ketemu lagi sama Mbak Sakilla?"


Annisa menghela napas.


"Jujur saja ... kalau memang Rama seneng pas waktu itu. Aku gak tega kalau harus penjarain mbak Sakilla. Kayak aku gak bisa aja gitu memisahkan ibu dan anak."


Bram memandang sewot. "Tapi kan kamu ibunya ..."


Annisa mengangguk.

__ADS_1


"Tetap nggak menutup fakta kalau aku cuma ibu sambung Rama kan mas? aku bukan ibu kandungnya?? jadi gimana mas tanggapan kamu pas ngeliat Rama waktu itu?" tanya Annisa lagi.


__ADS_2