Istri Dadakan

Istri Dadakan
Jalan-Jalan


__ADS_3

/Mas mau mengajak kamu jalan-jalan, aku harap kamu sudah siap-siap dalam setengah jam ke depan karena mas akan langsung meluncur ke tempat kamu./


Annisa langsung terkejut membaca pesan dari suaminya itu. Baru aja dibahas.


"Eh tapi ..."


Laki-laki itu selalu saja membuatnya kesal dengan seperti ini, karena dia selalu saja mengatakan akan mengajak jalan-jalan secara tiba-tiba tanpa kenal waktu. Bukannya apa-apa, tetapi bersiap-siap juga kan butuh waktu? Kalau dia lama, yang ada dirinya nggak enak sama suaminya itu yang sudah menunggu lama. Tetapi kalau dia cepat siap-siapnya, yang ada dia pasti akan melupakan satu hal. Jadi, ia tipe yang berhati-hati.


"Argh ... kebiasaan banget sih mas Bram." Tak ayal Annisa tetap tersenyum.


Ia lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul delapan siang itu. Langsung saja ia mengambil handuk dan mandi secara singkat. Karena tadi pagi dia sudah mandi juga.


Saat ini pilihan Annisa jatuh kepada celana jeans yang tidak terlalu ketat dan dipadu dengan kemeja putih tipis, lalu dilapisi dengan sweater berwarna biru muda. Kemudian dia beranjak menuju meja rias dan mulai membersihkan mukanya dan make up tipis saja. Setelah diarasa cukup, Annisa langsung beranjak pergi keluar untuk mencari pelayan tadi.


Ia turun ke bawah.


Pintu yang terbuka membuat Annisa dengan mudah melihat semua itu. Langsung saja ia mengetuk pintu dengan perlahan lalu masuk, sebelum menyampaikan maksud pelayan itu malah tersenyum kecil.


"Ternyata sudah siap saja ... mbak mau pergi kan sama tuan Bram?" tebak pelayan tadi membuat Annisa menatap terkejut. Matanya mengerjap dan menatap bingung, tetapi bapaknya itu malah tertawa kecil.


"Pasti kamu ya?" seru Annisa dengan kekehan kecil.


"Seperti biasa, tuan Bram kan selalu nanya ke saya tentang mbak. Jadi lah aku langsung kasih tau. Tapi ternyata tuan Bram langsung mengabulkan apa yang mbak mau. Cinta banget tuh tuan sama mbak Annisa."


Annisa mengusap tengkuknya karena merasa malu, "tapi aku harus tetap izin ya sama kamu yang jaga di sini sekalian nitip Rama, tadi mas Bram udah hubungin Rama. Jadi anak itu udah tau kok."


"Kamu gak apa-apa kan di sini sendiri? terus menurut kamu Rama bakalan marah lagi kayak waktu itu nggak?"


Pelayan itu menggeleng, "den Ramah sudah besar jadi nggak masalah sama sekali, sudah mbak fokus aja sama acara jalan-jalan kamu. Jangan memikirkan banyak hal ... nona fokus sama acara jalan-jalan aja. Nanti saya yang akan jaga den Rama dengan baik!"


"Siap mbak ... terima kasih."

__ADS_1


***


"Sorry telat ... tadi macet, terus karena nggak mau membuat kamu menunggu lama. Akhirnya mas memutar jalan, tapi ternyata tempat itu juga nggak kalah ramainya. Mau menghubungi kamu tapi malah nggak ada signal. Duh jadi nggak enak begini, sekali lagi maaf karena udah telat."


Annisa dengan cepat menggeleng, "santai aja ... cuma telat lima belas menit. Bukan hal yang harus di besar-besarkan."


Bram mengacak rambut Annisa sembari terkekeh, kemudian ia mulai menjalankan mobil selepas tadi begitu masuk Annisa langsung bilang kalau dirinya udah mengabari pelayan do rumah ini.


Jadi mereka langsung pergi begitu saja, selama perjalanan Bram terkesiap akan penampilan sang istri. Ia terus memandang ke sampingnya dan nggak menoleh kepada dirinya. "Aku rasa ... hari ini kamu cantik banget." Tahu kalau istrinya itubentar lagi mau protes, Bram berdeham dan langsung mengubah perkataannya, "hari biasa memang sama cantiknya, tapi entah kenapa hari ini begitu cantik. Terlihat sangat spesial ... apa ini semua karena mau jalan sama aku ya?"


Annisa mencibir.


Dia kan malu.


"Iya ... kan aku harus bisa menandingi kamu. Masa kamunya ganteng, terus aku nya jelek gitu? Nanti kamu malah diambil sama orang lain lagi? Memang nya aku rela ... ya enggak dong. Jadi aku harus bisa menandingi kamu," ledek Annisa


Bram mengerjap, "ini beneran?"


"Oh iya memangnya kita mau kemana?"


Bram hanya tersenyum kecil, "pokoknya kamu nggak usah tahu, kita jalanin aja apa yang aku mau dan kamu gak boleh protes sama sekali. Okei?"


Annisa tertawa kecil dan mengangguk. Ia kemudian mulai menikmati jalan dengan rileks. Bahkan jauhnya perjalanan nggak membuat keduanya jadi bosan, mereka malah saling ngobrol satu sama lain dan membuat suasana jadi seru bukan main.


Sampai, mobil Bram berhenti di sebuah pameran lukisan. Membuat mata Annisa terbelalak. Ia langsung menatap ke arah samping dengan pandangan bahagia.


"Ya ampun ... ini beneran kamu mau ajak aku ke tempat pameran begini?" Lalu anggukan Bram membuat Annisa memekik bahagia. Ia langsung bersorak kecil yang mana membuat Bram malah merasa gemas, melihat tingkah Annisa yang seperti anak kecil.


"Suka?"


Annisa mengangguk, "suka banget ... mas tahu sendiri kan kalau dari dulu aku menyukai hal yang berbau seni tapi selalu saja tertutupi karena nggak bisa memikirkan hal itu. Karena aku harus melewati banyak urusan dan sekarang kamu mengajak aku kesini lagi?"

__ADS_1


Anniaa meraup wajahnya, "ini benar benar menyenangkan dan membangkit kan kenangan tersendiri."


Kemudian Annisa turun dari mobil sangking nggak sabar dan mutar-mutar sambil melihat temanya yang begitu keren. Kemudian dia melihat nama pameran yang tertempel besar. Dia langsung sana menghampiri Bram dengan panik.


"MAS ... ini kamu benar ngajak aku ke tempat pameran ini? Maksud aku ... dia dikenal memiliki tiket yang mahal kan?"


Bram malah tertawa dan langsung saja merangkul Annisa. seperti menyeret perempuan itu untuk masuk ke dalam rangkulannya.


"Nggak usah mikir apa-apa ... yang penting sekarang tuh, kini bisa bersama dan menghabiskan waktu bersama. Jadi nggak usah memikirkan yang aneh aneh lagi. Semua ini aku dedikasikan untuk kamu."


***


Selama tiga jam, mereka memutari area pameran. Kalau bukan karena kaki Annisa yang sudah sakit, nyeri pasti saat ini mereka masih saja memutari tempat tadi. Bahkan Annisa sempat memaksa diri untuk terus berjalan, walau pada akhirnya malah di marahi sama Bram.


"Ma mengajak kamu kesini bukan untuk membuat kamu sakit, lebih baik sekarang itu istirahat. Kalau kamu itu masih belum puas. Masih ada hari lain dan kita akan kesini lagi. Asal jangan buat kamu jadi sakit cuma karena hal ini saja. Dan ingat kalau kamu lagi hamil!"


Jadilah, kini mereka duduk di kursi tepat di bawah pohon rindang. Memang area untuk istirahat.


"Tunggu sini dulu ya, aku mau beliin kamu minum dulu."


Tanpa menunggu jawaban Annisa, pria itu langsung berlalu begitu saja. Dia pergi menuju stand cincau begitu saja dan segera kembali. Ia memberikannya pada Annisa dan perempuan itu turut mengucapkan Terima kasih.


Tak beberapa lama, Annisa hampir memekik saat Bram turun ke bawah dan mulai memijati kakinya.


Dia langsung menggenggam kakinya itu dan menggeleng, "Mas ih ... nggak harus sampai seperti ini. Sudah yuk bangun, lagian aku juga udah nggak sepegal tadi kakinya. Pas istirahat begini udah agak mendingan. Udah yuk bangun lagi," ucap dia dengan perasaan nggak enak bukan main.


Tapi Bram enggan mendengar dan tetap memijat dengan perlahan.


Sampai beberapa menit, ia melepas kaki Annisa setelah merasakan kalau kini kaki Annisa sudah lebih baik dan kembali duduk di samping Annisa.


"Tanggung jawab mas karena ngajak kamu ke tempat kayak gini. Jadi kalau kamu capek, ya mas yang harus turun tangan."

__ADS_1


Annisa cemberut. "Ya ... terserah kamu aja deh mas."


__ADS_2