Istri Dadakan

Istri Dadakan
Mommy Chika


__ADS_3

“LIHAT ...”


Annisa berdecak kagum saat melihat untaian mawar merah yang melingkari taman belakang dan sebuah meja yang dipenuhi makanan sudah ada di tengah meja tersebut. Annisa menoleh dan di sana Bram sama Rama sudah sama-sama tersenyum lebar sambil memandang ke arah dirinya. Annisa menatap nanar ke arah dua laki-laki di sana yang benar-benar membuat hatinya sangat luluh itu.


“Mas ... Rama ...”


“Gimana mamah?” tanya Rama dengan excited. “Aku nggak nyiapin ini, tapi ayah yang inisiatif buat nyiapin ini semua buat mamah. Jadi, aku nggak tahu ini bagus atau enggak. Tapi, aku harap mamah bakalan suka sama semua yang ada di sini.”


Annisa mengangguk dengan pelan.


“Suka ... mamah suka banget sama semuanya.”


Annisa menutup wajahnya, lingan air mata yang sejak tadi sudah ia tahan kini tumpah juga membuat dua laki-laki di sana langsung panik.


“Annisa ... ke napa nangis?” seru Bram sambil merangkul perempuan itu. “Apa ada yang nggak kamu suka? Bilang saja ... jangan nangis kayak gini.”


Annisa menggeleng.


“Hua ... aku nggak pernah di kasih kejutan kayak gini,” seru Annisa pada akhirnya. “Aku beneran seneng banget. Seumur hidup aku punya mimpi untuk dapet kejutan kayak gini, walau akhirnya aku selalu kalah sama keadaan aku. Tapi di saat aku udah kubur dalam-dalam mimpi aku, kalian malah wujudin di saat aku nggak pernah bilang sama kalian, tentang apa yang aku mau.”


“Ya ampun, mas kira apa ...”


“Makasih banyak ya, mas. Makasih atas semua yang kamu kasih ke aku. Aku beneran bersyukur dan beruntung banget karena kamu bisa sebaik ini sama aku. Ya ampun ... apa yang udah aku lakuin di masa lalu, sampai dapet suami sama anak yang sebaik kalian.”


“Ah mamah,” rengek Rama. “Jangan kayak gini, nanti aku jadi nangis.”


Annisa mengusap air matanya yang turun dan terkekeh kecil. “Kenapa jadi kamu yang nangis? Kamu udah ngelakuin yang terbaik kok, nggak ada yang salah sama sekali kok. Kamu udah hebat banget. Mamah bener-bener seneng banget. Ini hari terbaik di hidup mamah.”


Bram inisiatif gendong Rama dan mereka bertiga saling berpelukan, layaknya keluarga yang bahagia. Mereka terus berpelukan, sampai ...


“APA-APAAN INI!”


Annisa refleks melepas pelukan mereka dan menoleh. Di sana ada seorang wanita yang cukup berumur dengan pakaian mahalnya sedang berkacak pinggang sambil menatap mereka.


“Siapa perempuan itu? Mommy nggak pernah ajarin kamu main peluk perempuan yang nggak ada hubungan sama kamu ya.”


Perempuan itu mendekat dan menarik Rama yang masih ada di gendongan Bram, Rama merengek tapi perempuan berumur itu menahannya.


“Siapa kamu!”


***


Dan di sinilah Annisa berada. Ia terduduk di salah satu sofa yang cukup menampung dirinya sendiri, sementara di samping dia ada kursi yang berbeda. Di sana Bram duduk dan sesekali memegang tangan Annisa. Berusaha menyemangati perempuan itu karena mommy nya sejak tadi hanya menatap Annisa dengan tatapan sinis.


“Maaf mom, aku nggak bilang dari awal. Tapi Annisa ini istri aku, jadi wajar kalau aku meluk dia. Aku beneran minta maaf karena nggak kasih tahu mommy atau pun daddy. Maaf karena aku yang ngelakuin sesuka aku, tanpa izin dari kalian. Tapi tolong mommy jangan natap sinis sama kita.”


Perempuan itu menarik napas dalam, membuat Annisa semakin takut.


Ia hanya bisa menunduk, tidak berani menatap sama sekali.


“Sebenarnya mommy sama daddy sudah mencari tahu,” ucap perempuan itu sembari menarik napas dalam. “Memangnya kamu kira, dengan mommy sama daddy mu tinggal di luar negeri. Kamu bisa ngelakuin sesuka kamu? Kami cukup kecewa saat tahu kamu memilih menikah tanpa mengatakan apa-apa sama kami.”


“Maaf mom ...”

__ADS_1


“Kami ini masih orang tua kamu kan? Awalnya mommy mau marah sama kamu, tapi setelah mencari tahu tentang istri kamu, untungnya dia dari kalangan orang baik. Jadi mommy biarin kalian. Pengin tahu sampai kapan kamu bakalan diam aja tanpa memberi tahu mommy atau daddy,” ucap mommy Chika sambil menatap kecewa pada anaknya itu. “Tapi apa ... setelah di tunggu juga, kamu nggak mengatakan apa pun sama kami. Kamu malah ada di dunia kamu sendiri. Seolah lupa masih punya orang tua yang berhak tahu tentang kehidupan kamu.”


Bram menunduk, meminta maaf sekali lagi.


“Sudah lah ...”


Mommy Chika beralih menatap Annisa.


“Jangan takut seperti itu Annisa, benar kan nama kamu Annisa?”


Dengan takut takut Annisa mendongak dan mengangguk, senyuman tipis yang di lontarkan perempuan itu membuat hati Annisa sedikit lebih lega.


“Maaf karena saya mengejutkan kamu dan sempat membuat kamu takut, tapi saya nggak bermaksud seperti itu. Oh iya, perkenal kan nama saya Chika. Panggil saja mommy, sama seperti Bram memanggil saya.”


“I— iya mommy.”


“Aih ... lucunya,” seru mommy Chika dengan semangat lalu kembali menatap nyalang pada anaknya itu.


“Ih ... kenapa jadi ngeliatin aku segitunya,” seru Bram sambil mengibaskan tangan di udara. “Aku kan udah minta maaf, jadi mommy jangan lihatin aku kayak tadi lagi.”


Sebuah bantal dilempar mommy Chika hingga mengenai Bram, laki-laki itu menatap penuh protes membuat Annisa tersenyum dalam hatinya. Suasana menyeramkan yang tadi sempat menakuti dirinya seketika hilang tergantikan dengan suasana hangat, layaknya seorang keluarga yang sedang berkumpul.


Annisa benar-benar menyukainya.


“Ih iya maaf!” protes Bram saat tubuhnya terus dilempari bantal asal sama mommy nya. “Aku minta maaf!”


“Kamu tuh buat mommy sama menantu mommy jadi canggung tau nggak sih. Mommy tuh udah ngebayangin kalau bakal deket sama menantu mommy yang selanjutnya. Tapi karena ini pasti kami bakalan jadi canggung!”


Annisa menunduk,


“Aish gemasnya ...”


Annisa tidak mengira kalau dirinya bakalan dipeluk seperti ini. Pelukan yang sangat erat dari mommy Chika membuat Annisa benar-benar sangat lega, ia membalas pelukan mommy Chika dan dengan perlahan menaruh lengan di punggung ibu dari suaminya itu.


“Aaaa ... Bram memang nggak pernah salah memilih kalau urusan wanita yang dia suka,” ucap sang mommy lalu melepas pelukan mereka. “Oh iya, sebenarnya pas tahu kamu menikah sama Annisa. Mommy benar benar bahagia, karena mommy kira kamu masih mikirin permintaan dari ibunya almarhum istri kamu. Karena ibu beneran nggak akan pernah terima kalau kamu beneran nikah sama dia. karena ... pernikahan itu bukan paksaan dan mommy sangat nggak setuju kalau kamu menikahi kembaran atau adik dari almarhum Sakilla.”


“Ah iya ... mommy nggak perlu khwatir, bukannya mommy tahu sendiri kalau aku nggak akan pernah nerima permintaan itu.”


“Syukurlah ...”


Mereka sama-sama diam.


“Oh iya Bram, nanti antarkan mommy ke makam Sakilla ya. Sudah lama mommy tidak dtaang ke sana.”


“Mom,” panggil Bram.


“Iya ke napa?”


“Sebenarnya ada sesuatu yang cukup penting dan aku rasa mommy harus mengetahuinya. Tapi aku nggak bisa bicara sekarang, mendingan mommy istirahat lebih dulu aja. Baru aku akan jelaskan.”


“Ada apa sih? Mommy jadi penasaran ...”


***

__ADS_1


“Mas ... kamu beneran mau ngasih tau?”


Annisa sudah berulang kali bolak-balik berjalan di dalam kamar Bram. Dari ujung ke ujung, lalu balik lagi. Terus saja begitu sampai membuat Bram heran sendiri. Tapi Bram sedikit gemas sama tingkah istrinya yang seperti ini.


Sepertinya ...


Bram harus mulai membiasakan diri melihat yang gemas-gemas, karena mau bagaimana pun. Beda umur antara dirinya sama Annisa memang lumayan jauh dan Annisa memang lagi di fase gemas-gemasnya jadi Bram harus membiasakan diri melihat tingkah Annisa yang kadang menggemaskan, tapi kadang di luar nalar juga.


“Memangnya ke napa Annisa? Saya rasa, entah mommy atau daddy saya harus tahu masalah ini,” jawab Bram dengan tenang. “Karena menurut saya, ini bukan kasus biasa yang bisa di biarkan gitu aja dan saya juga butuh orang tua saya untuk mencari tahu keberadaan Sakilla. Karena mau bagaimana pun, saya mau cepat bertemu sama dia.”


Mata Annisa langsung terbelalak.


Tapi Bram malah terkekeh geli.


“Bukan ... saya mau bertemu bukan buat kembali sama Sakilla. Tapi saya mau cepat cepat membawa kakak kamu ke hadapan kamu. Biar kamu percaya sama saya dan biar masalah ini cepat selesai. Karena semakin lama, lumayan pusing juga kalau mikirin ini terus. Kayak nggak ada hal lain aja yang harus di pikirin.”


Annisa beroh ria.


“Jadi ... saya mau kasih tahu orang tua saya, kamu kasih izin kan?”


“Ya ... terserah mas aja, tapi aku takut kalau nanti mommy kamu malah anggap aku aneh. Karena ini kan masalah berawal dari aku juga.”


“Sudah ... tidak usah khawatir. Saya akan mengurusnya. Kamu buatkan makan malam saja dan oh iya—


Annisa berbalik dan menatap dengan bingung.


“Maaf kalau acara hari ibunya jadi berantakan.”


“Ish nggak masalah! Udah kamu cepet samperin mommy. Nanti mommy nunggu lama lagi. Aku mau ajak Rama buat masak bareng dulu. Biar anak itu nggak bosen.”


“Ya udah deh kalau itu mau kamu ...”


***


“Kan ... sebenarnya, dari dulu mommy memang kurang sreg sama istri kamu yang satu itu. Ya ampun, ternyata benar kalau dia itu pecinta sesama jenis. Pantes aja kalau ada sepupu mu yang perempuan, tatapan dia suka beda. Dulu mommy penasaran banget, ternyata ini jawabannya. Ya ampun ... terus gimana?”


“Aku beneran udah nggak peduli apa-apa sama dia mom,” jujur Bram.


“Ya iya lah ... kamu sudah punya Annisa,” perinta mommy Chika. “Tak hajar kamu kalau nanti kembali sama Sakilla di saat kamu sekarang udah ada Annisa yang benar-benar tulus banget sama kamu. Ya ampun ... ini mommy marah banget sama kelakuan Sakilla yang udah bohongin banyak orang.”


“...”


“Mommy masih ingat kalau dulu kamu itu sangat hancur karena kepergian Sakilla. Ternyata hancurnya kamu karena ulah perempuan itu, ya ampun kalau sampai ada di hadapan mommy. Sepertinya mommy akan hajar perempuan itu!”


“MOM!”


“Sudah lah ... sekarang kamu mau apa? kamu nggak mungkin bilang sama mommy kalau nggak minta tolong kan? Jadi ... apa yang mau kamu minta tolong ke mommy? Kamu butuh sesuatu kah?”


Dengan pelan Bram mengangguk.


“Aku janji sama Annisa untuk mendatangi kakaknya ke sini. Dan setelah bawa kakanya ke sini, dia mau ngebuka hati dan percaya kalau aku nggak main-main sama dia. Makanya aku mau minta tolong mommy untuk cari keberadaan mereka.”


“Yowes ... mommy cerita dulu sama daddy kamu dan kita serahin sisanya ke daddy kamu.”

__ADS_1


“Iya mom ...”


__ADS_2