Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bahagia


__ADS_3

Bram benar-benar memilih untuk menghabiskan waktu bersama sang buah hati dan istri. Ia melakukan berbagai hal supaya membuat istri dan anaknya bahagia. Ia cari kegiatan supaya bisa di cap sebagai suami yang berguna bagi sang istri dan ayah yang berwibawa untuk sang anak.


Banyak kegiatan yang Bram lakukan salah satunya, memasak.


Ya ... Bram memasak.


Memang, sebelum mengenal Annisa. Bram sering memasak untuk Rama yang kerap kali mogok makan kalau bukan dia yang masak. Bram memang cukup bisa memasak yang gampang. Walaupun tetap saja hasil masakannya jauh di bawah masakan Annisa. Tapi setidaknya masakan Bram masih bisa di konsumsi untuk semua orang.


Kali ini,


Bram meminta orang suruhannya untuk membeli bahan makanan dan mengisi dapur penginapan. Sengaja ia ingin memasak ayam goreng, sambal dan tentunya sayur. Tidak lupa Bram juga mau membuat brownies sendiri karena kemarin ia mendengar Annisa mau memakan masakan itu.


Anggap saja ini permintaan sang buah hati.


Dengan apron yang terpasang di tubuhnya, Bram kini siap dengan hasil masakannya yang tidak seberapa.


Aroma masakan yang menggiurkan tercium hampir ke seluruh penginapan membuat Annisa sama Rama yang sedang asyik duduk di pinggiran kolam renang langsung bangun dan masuk ke dalam penginapan.

__ADS_1


"Mas ... wah," seru Annisa memandang kagum semua makanan yang tertata di atas meja makan. "Aku beneran nggak tau kalau kamu bisa masak sebanyak ini dan wah keliatan enak banget mas," seru Annisa


Bram terkekeh. Ia menggiring Annisa ke arah meja makan dan Rama mengikutinya dari belakang. Bram tarik kursi dan mempersilahkan Annisa untuk duduk. "Silahkan duduk tuan putri."


"Mas bisa aja," seru Annisa lalu memukul pelan lengan Bram, maklum salting


"Ih ayah! aku kok nggak di gituin?" seru Rama menghentakan kakinya kesal.


"Hahaha ..." Bram melakukan kegiatan yang sama dan mempersilahkan Rama untuk duduk di samping Annisa. "Silahkan duduk pangeran ayah yang tampan." Baru dengan senang hati Rama duduk di samping Annisa.


"Kamu nggak makan?" Bram menjawab dengan gelengan semata.


"Mas beneran udah kenyang, selama masak tadi mas makan duluan sekalian nyoba gitu dan sekarang beneran kenyang. Lagian liat kalian makan aja pasti buat mas kenyang."


Annisa mengangguk.


Bram duduk di hadapan mereka berdua dan menatap sayu mereka yang sedang lahap makan. Rasa lelahnya benar benar terbayarkan melihat mereka yang makan sampai seperti ini. Bram beneran sebahagia itu. Rasanya terharu melihat mereka yang bisa makan sampao seperti ini.

__ADS_1


"Mas beneran enak tau. Kayaknya mulai besok aku mau makan masakan kamu terus. Aku beneran ketagihan," ucap Annisa dengan mulut penuh makanan


"Iya Annisa ... sudah makan dulu."


Annisa mengangguk dan kembali makan dengan nikmat. Sesekali Annisa menyuapi Rama dan mereka berseru bersama untuk menikmati rasa yang sangat nikmat ini.


Ditambah kebersamaan mereka menambah kenyamanan mereka kali ini. Membuat semua yang mereka lakukan bersama terasa menyenangkan.


Bram menatap penuh haru pada Annisa dan Rama.


Akhirnya, ucapnya pelan di dalam hati.


Ini hari yang dia tunggu-tunggu dan dirinya sangat beruntung lantaran bisa sampai di titik ini dan Bram hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melepas Annisa sama sekali. Ia akan mempertahankan perempuan itu dan akan selalu menjadi kepala keluarga yang tegas untuk keluarganya.


Setelah semuanya selesai, Bram kembali ke posisinya dan menatap Rama.


"Rama ... sebenarnya ada yang mau ayah sama mamah bicarakan sama kamu," ucapnya tiba-tiba mengundang wajah panik pada Annisa.

__ADS_1


__ADS_2