Istri Dadakan

Istri Dadakan
Memahami


__ADS_3

“Anak ayah kenapa?” dengan perlahan Rama menutup pintu kamar anaknya dan duduk di pinggiran kasur. “Kamu kenapa marah sama mamah? Mamah ada salah? Kok sampai bentak gitu, itu mamahnya jadi kepikiran loh. Kamu gak lupa kan kalau mamah Annisa lagi hamil?”


Rama masih diam.


“Kenapa anak ayah?” tanya Bram lagi. “Cerita aja, ayah bakal dengerin kok. Jangan diem gini aja ya, ayah kan jadi nggak tahu siapa yang bener atau siapa yang salah. Yuk sini cerita sama ayah.”


Suasana kamar yang hening menambah ketegangan di dalam kamar Rama. Bram terus duduk menyandar sampai anaknya menjawab. Ia tahu anaknya saat ini sedang bingung menjawab apa. Jadi, pilihan yang paling tepat ya memang diam.


“Gimana?” tanya Bram lagi karena Rama tak kunjung menjawab


“Aku capek ...”


“Hmmm?”

__ADS_1


Jawaban yang cukup mengejutkan bagi Bram. Ia berusaha memasang wajah tenang, tak mau terlihat terpengaruh sama masalah ini. Dia mengangguk, diatatapnya netra Rama. “Gimana? Boleh ayah denger apa yang mengganggu kamu? Apa yang buat kamu jadi gini. Kenapa kamu bisa bilang capek ... coba jelasin sama ayah. Jangan diem aja, ayah jadi bingung harus apa kalau kamu begini.”


Rama menelan saliva.


“Aku gak tau kalau jadi kakak bakalan sesusah ini,” ungkap Rama pada akhirnya. “Aku harus nurutin semua yang mamah mau. Padahal aku juga harus belajar ini itu. Aku ngerjain pr yang banyak, tapi aku selalu inget omongan ayah yang nyuruh aku buat urus mamah. Jadi deh, aku jarang tidur siang pas siang buat bantu mamah ini itu. Aku juga relain waktu belajar aku buat ingetin mamah buat lakuin ini itu sesuai yang jadwal yang ayah buat.”


“...”


“Terus kemaren ... setelah aku lakuin hal yang buat mamah, mamah malah nuduh aku ini itu? Ya aku nggak terima lah.” Kemudian mengalirlah kejadian tadi pagi, tuduhan sang mamah yang membuat Rama sakit hati walaupun sekarang udah mulai menyesal karena udah buat mamahnya jadi sedih.


“Hmm ...”


Bram mengangguk mengerti. Cukup rumit rupanya masalah mereka. “Ayah rasa kalian berdua sama-sama salah sih. Mamah kamu yang harusnya nggak marah sama kamu. Dan kamu juga yang harus ngertiin mamah kamu.” Rama menatap ayahnya. “Ayah boleh kasih tahu satu rahasia tentang ibu hamil ke kamu nggak?”

__ADS_1


Rama mengangguk.


“Faktanya seorang ibu hamil tuh sensitif. Kamu pasti lihat perubahan nada ngomong ayah ke mamah kamu semenjak mamah kamu ini hamil. Ayah selalu ngomong dengan nada melengking kayak lagi ngomong sama anak kecil. Ini tuh karena tingkat sensitif ibu hamil tuh nggak kayak orang pada umumnya. Dengan kata lain, hal kecil aja bisa ngebuat seorang ibu hamil tuh marah bahkan sedih.”


“...”


“Ayah gak mau nyalahin kamu, tapi di sini kondisinya mamah Annisa lagi sensitif. Jadi kita yang harus coba ngertiin kondisi mamah. Tapi di sini ayah tahu kok kalau kamu capek."


Bram memegang pipi sang anak.


"Makasih ya karena kamu udah jujur sama ayah. Buat ke depannya kamu jujur aja sama ayah ya apa yang kamu rasain."


"..."

__ADS_1


"Dua kata buat kamu, ayah bangga sama kamu dan adik kamu pasti bangga punya kakak yang terbaik seperti kamu."


__ADS_2