
"..."
"Kamu tuh masih kecil, Rama. Kamu nggak bakalan paham sama dunia orang dewasa yang begitu luas. Sekarang ini ... mungkin ibu sambung kamu masih baik. Tapi kita nggak tau kan ke depannya gimana? kamu nggak bakalan paham, nak. Di mana-mana itu ibu sambung nggak ada yang baik!"
"Sakilla!" potong Bram penuh penekenan.
Matanya menatap tajam Sakilla. Tapi Sakilla sama sekali tak mau melirik ke arah Bram. Tahu kalau laki-laki itu marah.
"Nak ... ibu sambung kamu pasti udah ngomong yang macam-macam sama kamu. Padahal aslinya nggak kayak gitu. Dia pasti jelekin posisi bunda biar kamu benci. Dia itu ngelakuin kayak gitu, biar posisinya nggak terancam. Kamu nggak bakalan paham. Jadi, kamu cukup percaya ya sama bunda."
Sakilla berlutut, menyamakan posisi tingginya sama Rama. Ia memegang bahu Rama. Sedikit tersenyum bahagia saat Rama tak menolak pegangan tangannya. Membuat Sakilla berasumsi kalau anaknya nggak marah lagi sama dia dan mulai percaya sama omongannya.
"Bunda juga nggak mau pergi ninggalin kamu, nak. Ada satu hal yang akhirnya buat bunda ngelakuin ini semua. Bunda sungguh berat dan sekarang aja, rasanya bunda sedih. Pas bunda balik, bunda malah dapet kebencian dari anak kandung bunda sendiri. Bunda sedih. Kayaknya ibu sambung kamu udah ngomong banyak hal sama kamu."
"Biarin," ucap Rama tiba-tiba membuat sebelah alis Sakilla terangkat. "Kalo pun mamah jahat. Seenggaknya mamah jadi orang yang pertama kali mengurus aku. Orang yang selalu ada pas aku sedih."
Rama memegang tangan Sakilla dan melepasnya paksa.
"Nggak kayak bunda ... bunda itu orang yang pertama kali kasih Rama luka. Aku lebih percaya sama mamah di banding siapa pun."
Rama menoleh ke belakang.
"Ayah," panggilnya meminta bantuan.
"Sudah Sakilla ... kamu tidak perlu membutuhkan pembelaan sama sekali. Karena saya dan Rama sama sama sudah tahu perbuatan buruk kamu."
"..."
__ADS_1
"Dan ... saya mengundang kamu bukan untuk menjelekkan Annisa. Karena perkataan buruk kamu itu sebenarnya nggak sebanding dengan semua kebaikan Annisa yang di beri ke keluarga kami."
"Mas ..."
Bram menggeleng.
"Saya bukan suami kamu lagi dan panggil nama saja. Sudah lah, kalau kedatangan kamu hanya membuat anak saya jadi sedih. Sepertinya lebih baik kamu pergi saja—
"Jangan," seru Sakilla menggeleng, memohon ampun.
Bram tetap kekeuh sama pendiriannya. Tapi Sakilla tak menyerah. Ia terus memohon dan berjanji supaya nggak terusir lagi. Dia juga berjanji, tidak akan macam-macam.
Bram menghela napas kasar.
"Ya sudah duduk ... bicarakan berdua dan tentunya, jangan ada yang menyenggol masa lalu atau Annisa lagi. Karena, sungguh saya mengizinkan kamu datang ke sini hanya untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Rama. Anak itu sudah memendam pertanyaan dari lama dan mungkin ini waktu yang tepat, supaya dia mendapat jawaban dari kamu secara langsung."
Bram menghembuskan napas berat, sekali lagi.
Sakilla menunduk dan hanya bisa memainkan ujung bajunya. Bukan merasa bersalah. Melainkan tidak suka dengan intimidasi yang diberikan oleh sang suami.
***
"Mau ayah tunggu di sini, atau kamu mau ngomong berdua sama dia?" tanya Bram saat sadar anaknya mengikuti dia sampai ke dapur.
Rama memandang Sakilla dari tempatnya berdiri.
"Boleh kalau aku cuma berdua doang sama tante itu?" tanya Rama dengan hati-hati. "Eh tapi kalau ayah keberatan. Aku nggak apa-apa kok, kalau ayah ikut duduk sama kita. Toh, Rama juga bakalan ngerasa lebih aman kalau ada ayah."
__ADS_1
Bram membawa anaknya berdiri di balik tembok, supaya Sakilla tidak melihat ke arah mereka.
Laki-laki dewasa itu berlutut dan menyamakan tinggi mereka. Tangannya bergerak menyisir rambut anaknya yang sedikit lepek akibat ulah keringat yang terus turun dari wajah anak itu. Tanda Rama sebenarnya sedang gugup sejak tadi.
"Ayah tahu kamu gugup. Kamu takut kan sama dia? Kamu mau kalau ayah harus ikut sama kalian. Tapi, ayah juga tau kalau kamu mau ngomong berdua. Jadi, ayah nggak ada masalah kok kalau kamu memang mau berduaan aja. Nanti ayah ke depan atau ke kamar aja. Biar kamu bisa bebas ngungkapin dan ngeluarin isi hati kamu selama ini."
Rama menatap khawatir.
"Tapi, kalau nanti tante itu jahat sama aku gimana? Aku ngerasa aman kalau ada ayah. Tapi ... aku juga mau ngomong berdua doang. Soalnya aku nggak enak sama ayah," tutur Rama yang sangat plin plan.
"Hahaha ... tenang saja, dia nggak akan berani jahat sama kamu. Kalau kamu memang khawatir juga. Ayah bakalan pantau kamu dari CCTV. Kita baru pasang kan?" Dan Rama mengangguk. "Dari CCTV juga, ayah nggak bisa dengar omongan kamu kan? Tapi ayah tetep bisa pantau kamu. Jadi, kalau dia mulai jahat dan berulah. Ayah bisa langsung datang. Jadi, kamu bakalan ngerasa aman. Gimana kalau kayak gitu?"
Rama berpikir sesaat dan berakhir mengangguk.
Dia merengkuh tubuh sang ayah dengan perasaan yang turut menghangat. Rama berterima kasih banyak ke Bram. Karena sudah mengizinkan dia melakukan banyak hal, termasuk mempercayakan dirinya untuk ketemu sama orang yang melahirkannya.
"Ayah ... makasih banyak ya. Rama masih inget betapa keselnya ayah sama tante Sakilla sampai ngomong nggak bakalan ketemu sama tante lagi. Tapi, demi aku ayah mau nemuin tante itu. Ayah relain semuanya semua aku ... dan ayah juga rela bohongin mamah. Untuk aku. Karena ayah tau, aku mau ketemu banget sama tante itu buat nanya banyak hal. Ayah terbaik!"
Bram terkekeh. "Sama-sama sayang ... ayah hanya berusaha menebus kelalaian ayah selama ini. Ayah belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu dan sekarang ayah itu berusaha menebus semuanya. Jadi, ayah harap kamu lebih tenang dengan begini. Yang penting kamunya juga bahagia."
Rama mengangguk dan sekali lagi mengucapkan terima kasih.
"Ya sudah .. gih ke sana, keburu sore. Biar dia juga cepet pulang. Ayah udah malas ngeliat dia di sini."
Rama mengangguk dan beranjak menghampiri Sakilla lagi. Disusul Bram yang membawa minuman dari belakang lalu menyajikannya untuk Sakilla.
Maklum,
__ADS_1
Khusus hari ini, Bram meliburkan semua pegawainya. Supaya dia bisa lebih bebas mengundang Sakilla dan tentunya supaya pegawai di rumahnya nggak akan bocor ke Annisa. Jadi, menurut Bram meliburkan semua pegawainya di satu waktu adalah pilihan yang sangat tepat.
"Silahkan bicara berdua. Saya nggak akan di sini. Tapi ... saya harap kamu tidak mengatakan yang tidak-tidak ke Rama. Kalau saya sampai mengetahui kamu membela diri dan mengatakan fakta yang berkebalikan. Saya nggak akan segan-segan menghukum kamu lebih lama!"