Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bahagia


__ADS_3

Malam itu benar-benar menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Ibu Dini karena mendapat kabar bahwa Annisa hamil. Kebahagiaan itu menular membuat semua orang di rumah itu jadi mengadakan pesta kecil kecilan karena kabar bahagia ini.


Karena pesta itu juga membuat keluarga mereka tidur larut dan akhirnya hari ini mereka baru pada bangun pukul sepuluh siang.


Annisa mengerang dan membalikkan tubuhnya. Matanya masih terpejam tapi ia mulai terusik karena aroma harum yang sangat menggoda. Perlahan ia mulai membuka mata dan mengedip pelan, berusaha mengatur cahaya matahari yang masuk.


"Selamat pagi mamah!" seru Rama yang sejak tadi duduk di kasur, menemani mamahnya tidur. Anak itu hanya sibuk mengotak-atik ponselnya sekaligus memastikan mamahnya tidur dengan nyaman. "Akhirnya mamah bangun juga .. pas banget, kayaknya ayah juga udah selesai masaknya. Gimana kalau sekarang mamah cuci muka terus kita ke depan."


"Udah jam berapa ini?" tanya Annisa perlahan bangun dan duduk.


"Jam sepuluh ..."


Kantuknya tiba-tiba menghilang, Annisa terbelalak hebat dan langsung menyibak selimutnya.

__ADS_1


"Ya ampun ... kenapa nggak ada yang bangunin mamah. Duh, ya ampun. Kamu udah makan belum? terus ayah mana?" tanya Annisa yang baru benar-benar sadar. Dia turun dari kasur diikuti Rama dan Annisa mulai merapihkan kasur tempatnya tidur.


"Ih mamah tenang aja," pinta Rama. "Aku belum lapar sama sekali dan sekarang ayah lagi masak buat kita. Jadi, nggak usah mikir apa-apa. Mamah tinggal bersih-bersih dan kita ke depan."


Tubuh Annisa langsung lemas. Tapi dengan cekatan, Rama menggiring tubuh mamahnya masuk ke kamar mandi dan langsung membiarkan mamahnya mandi di dalam sana.


Rama juga sudah menyiapkan semuanya di dalam dan kini tinggal menunggu Annisa kelar mandi.


Beberapa menit kemudian, Annisa keluar. Terlihat lebih fresh dan sangat wangi. Akhirnya mereka keluar dan begitu keluar, Annisa langsung di suguhkan pemandangan Bram yang membelakangi dirinya. Benar-benar sibuk di dapur.


Mendengar suara anaknya, Bram langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat istrinya sama Rama datang. "Eh udah pada bangun. Tunggu bentar lagi ya, bentar lagi aja. Ini mas tinggal hangatin makanannya aja."


"Duh mas." Annisa mendekatinya. "Kenapa malah masak lagi? aku jadi nggak enak gini sama kamu. Padahal tugas aku loh masak buat keluarga. Tapi malah kamu udah masak gini. Ya ampun."

__ADS_1


"Kata siapa tugas kamu?" Bram merangkul Annisa dan membawanya ke meja makan. "Tugas kayak gini tuh, tugas bersama. Selagi ada yang sempat. Ya silahkan masak. Ini bukan melulu tugas kamu."


Bram menarik kursi dan mempersilahkan Annisa untuk duduk.


"Makasih mas ..."


"Hmm ... Sama-sama sayang, udah nggak usah nggak enak. Masa nggak enak sama suami sendiri. Cukup tunggu dan bentar lagi masakan mas selesai."


Kepergian Bram ke dapur membuat Annisa tersenyum tipis.


Bahagia.


Annisa benar-benar merasa bahagia dengan hidupnya sekarang. Kepahitan hidupnya di masa lalu seolah menjadi hal yang membawa Annisa bisa ke titik ini.

__ADS_1


Dia menoleh ke arah Rama dan Bram.


Betapa bersyukurnya Annisa mendapatkan semua ini. Dia benar-benar merasa menjadi orang yang paling beruntung dan apa pun itu. Annisa akan selalu berterima kasih karena sekarang hidupnya jauh lebih terasa baik di banding masa lalu.


__ADS_2