
Setelah cukup lama diam, akhirnya Bram menaruh Rama pada kedua orang tuanya. Meminta waktu sebentar mereka untuk menunggu. Tak lama Bram membuka pintu di sisi Annisa dan merangkulnya keluar dari mobil.
Ia melihat sebuah kursi yang ada di supermarket dan meminta Annisa untuk menunggu di sana. Dan Bram masuk ke dalam untuk membelikan minuman untuk Annisa.
"Katanya ... minuman manis bisa bikin perempuan jadi lebih lega ya?" ucap Bram sambil menaruh minuman cokelat dingin di meja. "Minum dulu gih dan tenangin diri kamu. Mas tau kalau ngomong kayak tadi tuh sakit kan? Pasti kamu itu udah nahan dari kapan tau. Tapi baru sekarang bisa keluarin semuanya kan? Gimana? Kamu lebih tenang atau gimana?"
"Aku nggak berlebihan kan?" tanya Annisa.
Bram beralih duduk di kursi dekat Annisa dan menggeleng.
"Nggak ada yang berlebihan sama sekali. Karena memang seharusnya orang tua kamu di kasih tau kayak tadi. Biar mereka tau kalau perbuatan mereka selama ini nyatanya udah berlebihan banget dan buat banyak orang jadi nggak nyaman gitu."
Annisa menunduk.
"Aku beneran capek, mas. Ya ampun ... pikiran aku kayak campur aduk banget. Selama di mobil aku mulai ngerasain aura kesedihan karena terus membayangkan kak Namira yang nyatanya udah pergi dari hidup aku. Belum aku harus berusaha menenangkan Rama, karena jujur aja ini pertama kalinya aku ngelihat Rama yang kayak gini. Karena nggak biasanya anak itu sampai ngeluh dan merengek lama kayak tadi. Dan terakhir ... ibu sama bapak malah menyenggol aku dan buat aku nambah emosi."
"..."
"Sungguh, mas. Rasanya semua ini campur aduk banget. Aku nggak tahu lagi harus ngelakuin apa. Aku sekarang malu mas. Malu sama orang tua kamu karena udah meledak ledak kayak tadi. Apa ya yang sekarang ada di pikiran orang tua kamu. Ah ... nggak cuma itu. Aku tadi ngerasa kalau Rama kaget banget ya? Ya ampun, aku udah bertindak tanpa berpikir sama sekali."
__ADS_1
Bram tertawa kecil membuat Annisa menoleh. Ini kenapa dirinya lagi pusing suaminya malah ketawa kayak gini? Dia sedikit mendengus dan memicingkan wajahnya. Tidak suka akan fakta yang satu ini.
"Mas nggak menertawakan kamu," ucap Bram membuat Annisa memilih diam dan menyeruput minuman yang di beli sama Bram.
"Mas hanya merasa lucu, kamu ini berbeda banget sama tadi. Di sana kamu benar-benar meledak-ledak tapi di sini kamu malah menciut."
"Ya, maaf ..."
"Tapi kamu tau nggak sih kalau mas malah suka ngeliat kamu kayak tadi."
"Kamu suka ngeliat aku marah-marah?" tanya Annisa dengan random membuat Bram tertawa dan mengacak rambut istrinya itu.
"..."
"Mas harap kamu terus kayak gini. Karena nggak baik nahan kekesalan. Lebih baik kamu ngelontarin kayak tadi. Sekarang mas tanya, walaupun kamu tadi sedikit menyesal dan malu. Tapi kamu tetap lega nggak karena udah ngelakuin kayak tadi?"
Dengan perlahan Annisa mengangguk.
"Nah ... kamu sendiri yang bilang kayak gitu kan? Memang seharusnya selama ini kamu tuh jujur sama perasaan kamu sendiri. Sudah ... karena sekarang makin siang dan mas gak bisa terus bicara. Karena masih ada agenda yang harus kita lakuin. Jadi, gimana kalau kita kembali ke mobil mumpung orang suruhan mas udah datang."
__ADS_1
"Hah?" Walaupun bingung Annisa mengikuti ke mana arah suaminya itu pergi.
Dan sekarang Annisa melihat seseorang yang berjabat tangan sama suaminya. Dan Bram meminta semua orang untuk turun dari dalam mobil.
"Di sini Bram merasa nggak akan kondusif kalau kita maksa untuk lanjutin perjalanan ini. Jadi, di sini mas mau minta ibu sama bapak untuk ikut sama supir keluarga Bram dan kami akan melanjutkan perjalanan ke makam."
"Kamu mengusir kami?"
Bram menggeleng dengan tegas.
"Nggak ada yang mengusir sama sekali, di sini Bram cuma mau meminimalisir kejadian kayak tadi. Dan dari tadi Bram dengar juga, sebenarnya kalian terpaksa kan untuk pergi sama kita. Jadi, dari pada di sana kuga terpaksa mendingan kalian ikut sama mobil ini dan kalian bisa bebas pergi ke mana aja."
"..."
"Mau kalian belanja atau ngapain aja itu terserah kalian. Bram sudah menitipkan uang sama supir Bram. Jadi kalian bebas pergi ke mana pun yang kalian inginkan. Asal kalian kembali nanti malam dan kita akan bicarain semuanya nanti malam."
"Ah ya sudah lah kalau begitu. Ibu sama bapak mengalah saja," ucap ibu Marni dengan cepat yang mulai membayangkan mereka akan pergi ke mana aja dan mau beli banyak hal.
"Ya sudah ... kami pamit dulu. Permisi bu, pak."
__ADS_1