Istri Dadakan

Istri Dadakan
Penjelasan Yang Sia-Sia


__ADS_3

Sakilla refleks berlutut di kaki daddy Bima. Daddy Bima hanya berdiri dan berkacak pinggang. Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia mengadahkan kepalanya ke arah plafon rumah.


"Maaf ... jangan bawa aku ke polisi. Aku mengaku salah. Aku minta maaf. Tolong jangan tindak lanjutin ini. Aku udah egois. Aku tau, tapi aku minta maaf. Sakilla tau kalau kalian orang yang baik dan punya hati yang lapang. Jadi, tolong maafin aku."


Annisa mencelos. Ia memandang ke arah lain, nggak mau hati nuraninya malah bergerak dan membantu perempuan yang jelas-jelas udah memberikan jarak antara dia sama kakaknya sendiri


"Nggak ada gunanya Sakilla," jujur Bram sambil tertawa tipis


"Aku lagi sedih, aku lagi dalam suasana berduka dan tiba tiba aku malah di datangin sama kalian. Kepala aku pusing banget," adu Sakilla membuat Bram tertawa. Laki-laki itu nggak butuh penjelasan sama sekali. "Aku bersedia kok buat berlutut di kaki kalian semua. Aku bersedia lakuin apa aja buat kalian. Asal jangan bawa aku ke polisi. Aku janji bakal pergi dan nggak ganggu hidup kalian lagi."


Bram meninggalkan Annisa dan jongkok di hadapan Sakilla. Ia mengangkat wajah Sakilla hingga menatap lurus ke arah wajahnya.


"Dan yang gue sama keluarga gue mau ya lu akuin semua kesalahan lu ke polisi." Tatapan Bram semakin menajam seiring dengan Bram yang melepas kasar wajah Sakilla dan kembali berdiri lalu membersihkan lengannya, seakan baru memegang hal yang menjijikkan.


"Bram ..."


"Mungkin kalau dulu gue bakalan luluh sama semua tindakan lu," ucap Bram yang membelakangi Sakilla. "Tapi sekarang? sorry ... perbuatan lu benar-benar bikin gue kecewa. Dan gue juga nggak sejahat itu buat ngakuin ke polisi kalau lu ini dalang dari rencana busuk itu."


Sakilla menelan saliva dan mengangguk, seenggaknya dia sedikit ada harapan.


"Tapi seenggaknya gue mau lu ditindak atas perbuatan tidak menyenangkan. Satu sampai dua tahun di penjara nggak akan buat lu mati kan?"


"Tapi—


"Mungkin lu rela berlutut atau minta maaf kayak tadi. Tapi gue juga tau, kalau sampai gue nggak tau hingga detik ini. Lu nggak akan pernah minta maaf sama gue dan keluarga gue kan?"


Sakilla seakan dipukul dari sembarang arah dan semua ini sangat menyakitkan bagi perempuan itu.


"Permintaan maaf lu yang sekarang bukan tulus dari hati lu. Melainkan cuman ketakutan lu aja karena dihadang sama keluarga gue. Bahkan kalau gue nggak tau hingga detik ini. Pasti lu masih bodo amat dan merasa bebas. Jadi wajar dong kalau gue mau lu di penjara. Seenggaknya satu tahun aja dan selama satu tahun itu. Gue yakin lu pasti bakalan renungin kesalahan lu dan akhirnya sadar kalau perbuatan lu ini udah salah banget."


Sakilla sekali lagi bingung kenapa mantan suami dan keluarga mantan suaminya ini sangat paham sama posisi dirinya? Sampai Sakilla sendiri nggak bisa berkutik.


Dan akhirnya memilih diam saja.


"Tapi kan lu nggak tau gimana perasaan gue yang sebenarnya," ucap Sakilla berusaha memberanikan diri.


Sakilla berdiri dengan tertatih dan menghampiri mereka membuat Bram sigap berdiri di hadapan Annisa. Takut kalau Sakilla akan macam-macam sama istrinya itu dan melihat itu Sakilla langsung terdiam.


"Gue memang udah buat lu sama yang lain kecewa. Tapi gue nggak sejahat itu buat nyakitin istri lu kok," papar Sakilla dengan sangat kecewa.


Bram mengangkat bahu acuh.

__ADS_1


"Mana gue tau kan?" tanya Bram meremehkan. "Gue sama lu udah bertahun-tahun, sampai gue ngerasa udah kenal banget sama lu. Tapi ternyata sekarang gue kayak nggak kenal lu sama sekali setelah semua kejahatan yang lu buat ke gue. Jadi ... gue cuma antisipasi aja. Siapa tau memang lu mau macem-macem sama Annisa kan?"


Sakilla menatap speechless. Ia melangkah mundur sambil menatap mereka bertiga dengan sangat kecewa.


"Aku sejahat itu ya sekarang di mata kamu."


Bram terkekeh.


"Bahkan gue udah anggap lu sebagai penghancur di keluarga gue. Jadi, jangan pernah berpura-pura baik lagi di hadapan gue. Karena lu nggak bakalan dapetin yang lu mau. Karena yang ada gue cuma mual liat lu yang sekarang. Gue beneran benci sama semua tingkah karena—


"Mas," sela Annisa sambil menarik lengan suaminya buat Bram menoleh pada Annisa. "Jangan berlebihan gitu," ucap Annisa berusaha memperingatkan suaminya.


"Tapi—


"Dia memang salah, mas. Salah banget. Tapi bukan tugas kita untuk ngelakuin hal kayak gini. Kamu masih punya mommy dan mereka sama-sama perempuan. Aku nggak mau kalau nanti yang kena malah mommy kamu."


Bram sama Daddy Bima tersentak mendengar seruan Annisa yang membuat mereka sadar.


"Mbak Sakilla mrmang sangat salah kok. Tapi jangan nambah masalah dengan kata-kata buruk itu yang nantinya malah buat mbak Sakilla jadi sakit hati dan berakhir benci semua orang. Fatal kalau udah benci orang itu. Nanti orang yang benci malah mengucapkan kata kasar tanpa nyaring sama sekali."


Api amarah Bram serasa disiram dengan air yang sangat dingin membuat Bram mengangguk pelan.


Setelah berusaha menenangkan pikirannya. Bram kembali fokus pada Sakilla yang masih berdiri sambil menunduk.


"Ke keluarganya kok," balas Sakilla sedikit tidak terima, merasa di fitnah sama mereka.


"Ya harusnya lu kalau memang dekat sama kakaknya Namira. Lu paham sih gimana tingkah orang tuanya mereka ini?"


Dan seketika Sakilla kembali bungkam.


"Dan ya dengan jahatnya orang tua mereka lepas tangan dan lu tau ... di umurnya yang masih muda. Annisa harus cari bayaran ke sana-sini dan parahnya orang tua mereka malah menyarankan Annisa untuk nikah sama rentenir aja. Ah gue males deh kalau jelasin itu. Kasihan sama Annisa juga yang harus ingat ingat masa suramnya."


Ruangan semakin sunyi mendengar seruan Bram yang cukup menggelegar.


"Begini aja deh ... lu dengar kan apa yang keluarga gue mau tadi? Jadi, sekarang gue tanya. Lu mau ngelakuin itu semua atau enggak?"


Sakilla berusaha memutar otak.


Sungguh Sakilla sama sekali nggak mau diam di balik jeruji penjara seperti yang dipinta sama mereka.


"Apa nggak ada cara lain?"

__ADS_1


Bram bergumam sebentar sampai akhirnya dia tersenyum penuh mencurigakan membuat Annisa yang sejak tadi itu memperhatikan wajah suaminya langsung menarik ujung kemeja Bram. Saat suaminya menoleh, ia menggeleng pelan. Tapi Bram malah mengacak rambut Annisa berusaha menenangkan istrinya.


"Dad ... daddy tau kan kekuatan sosial media?"


"Iya?" jawab Daddy Bima yang bingung, masih belum bisa menangkap maksud sang anak.


"Gimana kalau nanti kita viralin perbuatan Sakilla? Bram rasa masalah ini pasti bakal ramai banget dan nama Sakilla jadi buruk banget. Ya Bram sih nggak peduli karena Bram bakal pampang nama Sakilla sebagai pelaku. Dan daddy tau kan kalau berita kayak gini pasti viral dan boom! nggak cuma Sakilla doang tapi keluarganya yang bakalan terkenda semua dampak ini."


Mata Sakilla melebar. Ia nggak tau kalau Bram bakalan melakukan hal sejauh ini hanya untuk membalas perbuatan dirinya.


"Dan ... nanti Bram cuma mau viralin berita itu doang kok. Karena setelahnya Bram akan lepas tangan dan lu itu bisa bebas buat ngelanjutin hidup lu."


"..."


"Tapi lu harus tau sih kalau hukum sosial dari masyarakat jauh lebih menyeramkan. Karwna beritanya yang bakalan tersebar luas. Lu nggak akan bisa bebas ngelakuin ini itu. Karena mereka semua akan kenal sama lu dan berakhir jahatin lu. Dan ... sisa hidup lu nanti bakalan tersiksa."


Bram tertawa kecil melihat Sakilla yang keliatan ketakutan itu.


Ia menaruh tangan di dagu. Berpura-pura mikir.


"Nggak cuman lu sih, nanti lu juga bakalan di teror sama semua keluarga lu. Duh kayaknya seru." Bram mengangguk membuat semua orang yang ada di sana bergidik ngeri


"Gimana? nggak mau masuk polisi dan di penjara kan? Ya nggak masalah. Ada cara lain lagi. Tinggal pilih aja. Gue baik kan?"


Sakilla menelan saliva membuat Bram berdecak dan memutar mata acuh.


"Gue kasih waktu setengah jam. Sekalian gue, Annisa dan daddy mau nyari angin keluar dulu. Nggak enak di sini. Sumpek banget karena seudara sama penipu handal kayak lu."


Daddy Bima menepuk anaknya tapi Bram hanya terkekeh dan tanpa memperdulikan Sakilla yang sedang sangat bingung itu. Mereka memilih untuk keluar.


Pas sekali, di depan ada tukang es kelapa. Bram meminta daddy dan istrinya untuk duduk di kursi depan rumah. Dan dia langsung membelikan untuk keluarganya itu.


"Daddy kira Bram bakalan luluh pas ketemu sama Sakilla," ucap Daddy memulai pembicaraan. "Daddy masih ingat kalau dulu anak daddy ini bucin banget sama Sakilla. Maka nya daddy sama mommy nya itu sedikit khawatir pas tahu dia bakal ketemu sama Sakilla. Takutnya dia malahan luluh dan kembali sama orang jahat itu. Di saat kami udah nyaman banget sama kamu."


"..."


"Tapi ternyata dia bisa menjaga emosinya dan malah jadi jahat banget kayak gitu."


Annisa mengangguk, setuju akan omongan mertuanya.


"Aku juga nggak tau mas Bram bakalan setegas kayak tadi. Aku jadi agak kasihan sama Mbak Sakilla. Benar kata dad, pasti mbak Sakilla lagi suasana berduka. Tapi kita malahan nyerang kayak gini. Pasti nggak enak."

__ADS_1


Daddy Bima tersenyum tipis.


"Tidak usah kamu pikirkan, sudah sepantasnya perempuan itu terkena akibatnya. Jangan kasihan, dia nggak butuh di kasihani sama sekali."


__ADS_2